News Update :

PKS 1

PKS 1

PKS 2

PKS 2

PKS 3

PKS 3

PKS 4

PKS 4

PKS 5

PKS 5

Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Taujih. Tampilkan semua postingan

"Sudah Saatnya Kita tidak Lagi Jadi Objek Konspirasi"



Berikut adalah taujih Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) KH. Hilmi Aminuddin dalam acara Silaturahim Anggota Legislatif Nasional (Silagnas) PKS 20-21 September 2014 di Hotel Sahid, Jakarta.

Alhamdulillah hari ini kita bisa bertemu dalam rangka SILAGNAS. Ini merupakan rasa syukur kita atas KEMENANGAN di pemilu ini.

Saya sebut KEMENANGAN karena pemilu ini sangat lain. Mengingat badai yang mendera. Ustadz Luthfi dengan "Vonis politik-nya" menjadi simbol tadhiyyah kita.
Syukur nikmat penting untuk langkah-langkah perjuangan dakwah kita kedepan. Dan itu kita wujudkan dengan terus memainkan peran Stabilisator  (Amar ma'ruf) dan dinamisator (nahi munkar). Kita akan memaksimalkan peran itu kedepan, bukan karena kita tidak memiliki portofolio di kabinet mendatang.

Sudah saatnya kita tidak lagi menjadi objek konspirasi. Oleh karenanya ada tiga hal yang harus kita pegang teguh agar gerakan politik kita aman dari upaya-upaya konspirasi.

PERTAMA, kita harus disiplin dalam koridor konstitusi. Mengingat banyaknya konspirasi yang mengidentikkan gerakan kita pada gerakan inkonstitusional dan anti NKRI.

KEDUA, Kita harus disiplin di koridor hukum. Oleh karenanya anggota dewan PKS harus memahami setiap tindakannya dalam perspektif hukum.

KETIGA, kita juga harus disiplin dalam koridor sosial. Jangan sampai wajah kita (aleg PKS) hanya muncul saat momentum kampanye lima tahunan. Kunjungi kader-kader dibawah bukan hanya sekedar senyum basa- basi. Perjuangkan setiap aspirasi masyarakat, agar posisi kita kian kokoh di masyarakat.

Jika ketiga disiplin ini bisa kita mainkan dalam praktek politik kita, maka insya Allah posisi kita sebagai Partai Politik akan terjaga keamanannya.[dm]

"Rizqi Kita, Soal Rasa" | Salim A Fillah)



 Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang..
Aku tahu, ‘amalku takkan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang..
-Hasan Al Bashri-

Pemberian uang yang sama-sama sepuluh juta, bisa jadi sangat berbeda rasa penerimaannya. Kadang ia ditentukan oleh bagaimana cara menghulurkannya.

Jika terada dalam amplop coklat yang rapi lagi wangi, dihulurkan dengan senyum yang harum dan sikap yang santun, betapa berbunga-bunga kita menyambutnya. Apatah lagi ditambah ucapan yang sopan dan lembut, “Maafkan sangat, hanya ini yang dapat kami sampaikan. Mohon diterima, dan semoga penuh manfaat di jalan kebaikan.”

Ah, pada yang begini, jangankan menerima, tak mengambilnya pun tetap nikmat rasanya. Semisal kita katakan, “Maafkan Tuan, moga berkenan memberikannya pada saudara saya yang lebih memerlukan.” Lalu kita tahu, ia sering berjawab, “Wah, jika demikian, kami akan siapkan yang lebih baik dan lebih berlimpah untuk Anda. Tapi mohon tunggu sejenak.”

Betapa berbeda rasa itu, dengan jumlah sepuluh juta yang berbentuk uang logam ratusan rupiah semuanya. Pula, ia dibungkus dengan karung sampah yang busuk baunya. Diberikan dengan cara dilempar ke muka, diiringi caci maki yang tak henti-henti. Betapa sakitnya. Betapa sedihnya. Sepuluh juta itu telah hilang rasa nikmatnya, sejak mula ia diterima.

Inilah di antara hakikat rizqi, bahwa ia bukan soal berapa. Sungguh ia adalah nikmat yang kita rasa. Sebab sesungguhnya, ia telah tertulis di langit, dan diterakan kembali oleh malaikat ketika ruh kita ditiupkan ke dalam janin di kandungan Ibunda. Telah tertulis, dan hendak diambil dari jalan manapun, hanya itulah yang menjadi jatah kita. Tetapi berbeda dalam soal rasa, karena berbeda cara menghulurkannya. Dan tak samanya cara memberikan, sering ditentukan bagaimana adab kita dalam menjemput dan menengadahkan tangan padaNya.

Rizqi memiliki tempat dan waktu bagi turunnya. Ia tak pernah terlambat, hanyasanya hadir di saat yang tepat.

“Janganlah kalian merasa bahwa rizqi kalian datangnya terlambat”, demikian sabda Rasulullah yang dibawakan oleh Imam ‘Abdur Razzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, “Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba meninggal, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir yang ditetapkan untuknya. Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan  yang halal dan meninggalkan yang haram.”

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.

Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setetes rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab ialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.

***

Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat dipesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.

Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Hatta ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, “Awas Pak, tekanan darahnya!”

Rasa nikmat itu telah dikurangi.

Lagi-lagi, ini soal rasa. Dan uang yang dia himpunkan dari kerja kerasnya, amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di Bank yang sangat menjaga rahasia, jika dia mati esok pagi, jadi rizqi siapakah kiranya? Apa yang kita dapat dari kerja tangan kita sendiri dan kita genggam erat hari ini, amat mungkin bukan hak kita. Seperti hartawan yang mati meninggalkan simpanan bertimbun. Mungkin itu mengalir ke ahli warisnya, atau bahkan musuhnya. Allah tak kekurangan cara untuk mengantar apa yang telah ditetapkanNya pada siapa yang dikehendakiNya.

Rizqi sama sekali bukan yang tertulis sebagai angka gaji.

Seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar Pulau Jawa, demikian cerita shahibul hikayat yang kami percaya, dengan penghasilan yang besarnya mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang sanggup dibeli.

Ada lagi kisah tentang seorang pemilik saham terbesar sebuah maskapai penerbangan yang terhitung raksasa di dunia. Armada pesawat yang dijalankan perusahaannya lebih dari 100 jumlahnya. Tetapi dia menderita hyperphobia, yakni rasa takut terhadap ketinggian. Seumur hidupnya, yang bersangkutan tak pernah berani naik pesawat.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dikuasai.

Sebaliknya pula, ada seorang lelaki bersahaja yang tidak mampu membeli mobil sepanjang hidupnya. Tapi sungguh Allah telah menetapkan bahwa rizqinya adalah naik mobil ke mana-mana. Maka para tetangga selalu berkata bergiliran padanya, “Mas, tolong hari ini pakai mobil saya untuk kegiatannya ya. Saya senang kalau Mas yang pakai. Sungguh karenanya terasa ada berkah buat kami sekeluarga.” Dan pemilik mobil pergi bekerja ke kantornya dengan mengayuh sepeda. Sebab itulah yang disarankan dokter padanya.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dimiliki.

***

Dzat Yang Mencipta kita, sekaligus menjamin rizqi bagi penghidupan kita, adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur segala urusan kita. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiada sekutu bagiNya. Maka bagaimana kiranya, jika anugrah dariNya justru kita gunakan untuk mendurhakaiNya? Maka apa jadinya, jika dengan karuniaNya kita malah tenggelam dalam maksiat dan dosa?

“Sesungguhnya seseorang dihalangi dari rizqinya”, demikian Rasulullah bersabda sebagaimana dicatat oleh Imam Ahmad, “Disebabkan dosa yang dilakukannya.”

Ada beberapa keterangan ‘ulama tentang dosa menghalangi rizqi ini, yang selaiknya kita simak. Pertama, bahwa memang yang bersangkutan terhalang dari rizqinya, hingga ke bentuk zhahir rizqi itu. Ini sebagaimana firman Allah tentang dakwah Nuh pada kaumnya.

"Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan di dalamnya sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)

“Maknanya”, demikian ditulis Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil ‘Azhim, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Dia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit.”

“Selain itu”, lanjut beliau, “Dia juga akan mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat bermacam-macam buah untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu untuk kalian.”

Jika bertaubat menjadikan berlimpahnya bentuk rizqi, maka berdosa berarti membatalkan semua itu. Ini pemahaman pembalikannya.

Keterangan yang kedua, bahwasanya yang dihalangi dari si pendosa adalah rasa nikmat yang dikaruniakan Allah dari berbagai bentuk rizqi tersebut. Rizqi tetap hadir, tapi rasa nikmatnya dicabut. Rizqi tetap turun, tapi rasa lezatnya dihilangkan. “Maka”, demikian menurut Imam An Nawawi, “Karena dosa yang menodai hatinya, hamba tersebut kehilangan kepekaan untuk menikmati rizqinya dan mensyukuri nikmatnya. Dan ini adalah musibah yang sangat besar.”

Hujjah bahwa semua bentuk rizqi itu tetap turun, ada dalam berbagai hadits Rasulillah. Ada yang sudah kita sebut, demikian pula yang berikut ini:

“Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku”, demikian sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Ath Thabrani dan Al Baihaqi, “Bahwa tidak ada satu pun jiwa yang meninggal kecuali telah sempurna rezekinya. maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada pada sisi Allah tidak akan bisa diperoleh dengan bermaksiat kepada-Nya.”

“Apa yang ada di sisi Allah”, demikian lanjut Imam An Nawawi, “Adalah ridhaNya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka memang ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa.”

“Adapun ayat dalam Surah Nuh”, terusnya, “Khithab da’wahnya ditujukan kepada orang kafir, yang meskipun mereka mengingkari Allah dan menyekutukanNya, tapi Allah tidak memutus rizqi mereka secara mutlak. Akan tetapi, jika mereka beristighfar dan bertaubat, sesungguhnya karunia yang lebih besar pastilah Allah limpahkan.”

Menghimpun kedua catatan ini, amat jadi renungan sebuah kisah tentang Imam Hasan Al Bashri. Pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada beliau. “Sesungguhnya aku”, ujarnya pada Tabi’in agung dari Bashrah itu, “Melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rizqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”

Sang Imam tersenyum prihatin. Beliau lalu bertanya, “Apakah semalam engkau qiyamullail wahai Saudara?”

“Tidak”, jawabnya heran.

“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluq yang berdosa dengan memutus rizqinya”, jelas Hasan Al Bashri, “Niscaya semua manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rizqi bahkan pada orang-orang yang kufur kepadaNya.”

“Adapun kita orang mukmin”, demikian sambung beliau, “Hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.”

***

Lagi-lagi terrenungi, bahwa di lapis-lapis keberkahan, ini soal rasa. Semoga Allah melimpahkan rizqiNya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat padaNya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya, dan harumnya. Di lapis-lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa-dosa.


sepenuh cinta, dinukil dari:
Lapis-Lapis Keberkahan, Setitis Rizqi

*)http://salimafillah.com/rizqi-kita-soal-rasa/

Seindah Tawakal




“Pada Allah hendaknya berserah diri tiap orang yang beriman.”
(QS. Ali Imran: 122 dan QS. Al-Maidah: 11).


Kesulitan Hidup Adalah Sunatullah...
Kesulitan hidup, bagi manusia adalah sebuah ketentuan Allah. Ia akan ada seiring dengan kehidupan manusia itu sendiri. Tak akan ada satu orang pun yang bisa luput dari kesulitan.
Allah berfirman, “Laqad khalaqnal insaana fii kabad,” artinya, “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (kesulitan).” (QS Al-Balad: 4).

Kesulitan itu, bagi orang-orang beriman adalah sebuah ujian, di mana dengan ujian tersebut, maka akan terlihat bahwa orang tersebut benar-benar beriman ataukah tidak.
Allah berfirman, “Ahasibannaasu an-yutrakuu an-yaquuluu aamannaa wahum laa yuftanuun.” Artinya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabuut: 2).

Dengan demikian, sudah sangat jelas, bahwa ujian berupa kesulitan hidup, adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari pada setiap manusia. Kesulitan tersebut, akan membuat seseorang meningkat kualitasnya. Jika setiap seseorang berhasil menyelesaikan sebuah kesulitan yang kecil, maka Allah akan memberikan kesulitan dengan tingkat yang lebih. Persis seperti seseorang yang bersekolah mulai dari jenjang TK, SD hingga sarjana—bahkan pasca sarjana, yang tingkat ujiannya tentu tidak akan sama.

Makna Tawakal

Sikap seorang mukmin ketika menghadapi ujian adalah bertawakal. Secara bahasa, tawakal berasal dari kata wakalah yang artinya mewakilkan, atau menyerahkan diri. Sedangkan secara istilah, tawakal berarti: berserah dirinya seorang hamba kepada Allah dalam setiap urusan. Diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas, bahwa kalimat yang diucapkan oleh Ibrahim AS ketika dilempar ke dalam api oleh Namrudz, serta yang diucapkan Nabi Muhammad SAW ketika diprovokasi agar takut kepada orang kafir adalah: “Hazbunallaahu wa ni’mal wakiil”, Allahlah yang mencukupi kami dan sebaik-baik tempat kami berserah diri (tawakkal).

Perlu ditegaskan, bahwa tawakal haruslah dilakukan setelah ikhtiar, sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah, “Ikatlah tali ontamu dan bertawakallah.” Karena, Allah tidak akan serta merta menurunkan pertolongan begitu saja dari langit. Bahkan ketika membentuk sebuah karakter pun, membutuhkan proses. Misalnya, ketika kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan kita sifat sabar. Maka, ‘Jawaban Allah’ atas doa kita tersebut barangkali adalah anak kita yang selalu saja rewel minta perhatian, objek dakwah yang selalu saja minta dimanja ... dan seterusnya. Allah telah memberi sarana kepada kita untuk bersabar. Jika dengan berbagai keadaan krusial tadi kita ternyata mampu bersabar, berarti doa kita memang terkabul.

Aktivitas nyata, memang begitu tegas digariskan dalam Islam. Dari penciptaan manusia, anatomi tubuh kita saja telah disketsa untuk banyak bekerja. Kita punya dua tangan, dua kaki, dua mata, dua telinga. Sedangkan mulut kita hanya satu. Artinya, kita harus sangat lebih banyak bekerja, mendengar, melihat daripada sekadar berbicara. Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, begitu banyak kita dapatkan perintah-perintah untuk beraktivitas. Pasca menunaikan shalat Jum’at misalnya, kita diperintahkan untuk bertebaran mencari karunia Allah di atas bumi.

“Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum’ah: 10).

Kita tidak dianjurkan untuk mengurung diri di masjid, berdzikir dan berdoa, namun BERAKTIVITAS. Alias BERIKHTIAR. Begitulah jawaban Musa a.s. ketika Bani Israil memintanya fasilitas yang lebih. “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah: 21).

Musa a.s. meminta mereka berikhtiar untuk menyerbu Palestina, baru setelah itu mereka bertawakal kepada Allah. Akan tetapi, apa jawaban kaum Musa?

Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja." (QS. Al-Maidah: 24).

Betapa pengecut jawaban kaum Nabi Musa, yakni Bani Israil alias Yahudi yang selanjutnya akan mendapat laknat dari Allah SWT.

Betapa pentingnya berikhtiar secara optimal, difirmankan Allah SWT,

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’du: 11).

Kewajiban manusia adalah berikhtiar dan berdoa. Kemudian ketika ikhtiar itu telah purna, telah terjalankan dengan optimal, barulah kita bertawakal. Tawakal ini adalah implementasi pengakuan kita akan eksistensi Allah Yang Maha Berkehendak. Bahwa segala sesuatu yang tersketsa di muka bumi ini, bukanlah buah dari kecemerlangan ikhtiar kita akan tetapi karena semata-mata Izin-Nya.

Tawakal akan membebaskan kita dari belitan stres jika ikhtiar yang kita angap maksimal, ternyata membentur batu karang. Tawakal juga akan melahirkan evaluasi yang mendalam, apakah ikhtiar kita benar-benar sebuah itqonul amal, sebuah ahsanul amal. Maka, insya Allah kita akan terhindar dari sikap takabur, justru sebaliknya, akan menjadi pribadi yang senantiasa rendah hati serta senantiasa melakukan perbaikan.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

(Oleh Yeni Mulati Ahmad)

Perjalanan Hidup Manusia Tak Ubahnya Penyelam Mutiara



Perjalanan hidup manusia tidak ubahnya bagaikan kisah penyelam mutiara. Seorang penyelam mutiara, dalam melaksanakan tugasnya selalu dibekali dengan tabung oksigen yang terpasang dipunggungnya. Pada saat ia terjun menyelam, niatnya bulat ingin mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya. Tetapi begitu ia berada di bawah permukaan laut, ia mulai lupa pada apa yang harus dicarinya.

Kenapa? Ternyata pemandangan di dasar laut sangat mempesona. Bunga karang yang melambai-lambai seolah-olah memanggilnya: ikan-ikan hias berwarna-warni yang saling berkejaran dengan riangnya membuatnya terpana. Ia pun lalu terlena ikut bercanda ria, melupakan tugasnya semula untuk mencari tiram mutiara yang berada jauh di dasar laut sana.

Hingga pada suatu saat, dia terkejut manakala disadarinya oksigen yang berada dipunggungnya tinggal sedikit lagi. Timbulah rasa takutnya. Tak terbayangkan olehnya bagaimana kemarahan majikannya kelak bila ia muncul ke permukaan tanpa membawa tiram mutiara sebanyak yang diharapkan. Maka dengan tergoppoh-gopoh ia pun berusaha untuk mencari mutiara yang ada di sekitarnya. Namun sayang, kekutan fisiknya sudah melemah, energinya sudah habis terkuras bercanda ria dengan keindahan alam bawah laut.

Akhirnya isi tabung oksigennya benar-benar kosong, sehingga walaupun tiram mutiara yang diperolehnya sangat sedikit, ia mau tidak mau harus muncul ke permukaan. Malangnya lagi, karena tergesa-gesa dia tidak sempat mengikat kantongnya dengan baik, sehingga ketika tersenggol ikan yang berseliweran disampingnya, tiram mutiara yang sudah didapatnya dengan susah payah itu sebagian tertumpah ke luar.

Di permukaan, majikannya telah menunggu. Begitu dilihatnya isi kantong si penyelam tidak berisi tiram mutiara sebagaimana yang diharapkan, maka tumpahlah caci makinya: dan saat itu juga si penyelam dipecatnya tanpa pesangon sedikitpun! Tentu saja bisa kita bayangkan bagaimana gundahnya perassan si penyelam!

Dengan penuh rasa penyesalan, si penyelam berusaha meminta kesempatan ulang untuk menyelam kembali, pasti aku akan mencari tiram mutiara sebanyak-banyaknya! ”Namun majikannya dengan tegas menolak, “Percuma, engkau hanya pandai membuang-buang oksigen saja!”

Kisah ini mirip dengan perjalanan hidup manusia di dunia. Tabung oksigen adalah perlambang jatah umur manusia: tiram mutiara mengibaratkan pahala yang harus kita kumpulkan : dan tiram mutiara yang tumpah mengumpamakan pahala yang hilang karena riya’ sedangkan keindahan yang ada di dalam lautan melambangkan godaan-godaan kenikmatan duniawi.

Marilah kita instropeksi, sudah cukupkah tiram mutiara yang kita peroleh sehingga suatu saat kita harus muncul ke permukaan menemui majikan kita , Allah SWT, ia ridha menerima kita….

Hai jiwa yang tenang.
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
Masuklah ke dalam syurga-Ku.
(QS Al Fajr: 27-30)

Keutamaan Memperbanyak Istighfar



Rasullullah saw bersabda :

  مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا ، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا ، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa konsisten beristighfar, maka Allah memberinya pelipur lara dari semua kesedihan, memberinya solusi atas semua kesulitan, dan memberi rizki dari arah yang tak pernah diduga.”

Takhrij Hadist

Hadist di atas diriwayatkan Ibnu Majah di Al-Adab, Bab Istighfar dengan redaksi seperti itu.

Diriwayatkan dari Abu Dawud di As-sunan, Kitab Ash-Sholati Bab Al Istighfar dari Abdullah bin Abbas Ra dengan mendahulukan kalimat, “ Memberinya solusi atas semua kesulitan” atas kalimat, “Maka Allah memberinya pelipur lara dari semua kesedihan.”

Dari sanad hadist ini terdapat perawi bernama Al- Hakam bin Mush’ab. Tentang dirinya, Abu Hatim berkata, “ ia tidak dikenal.” Ia dimasukkan Ibni Hibban ke dalam jajarana para perawi lemah. Al –Azdi berkata,” hadistnya tidak dikoreksi.”

Diriwayatkan Imam Ahmad di kitab Al-Musnad dengan redaksi:

مَنْ اَكْثَرَ مِنَ الْإِسْتِغْفَارِ
“Barangsiapa banyak beristigfar….”

Disebutkan Imam An-Nawawi di Riyadhu Ash-sholihin, Kitab Al Istighfar dari Ibnu Abbas dan katanya diriwayatkan Abu dawud.

Juga disebutkan Al –Mundziri di At-Tarhib wa at-Targhib, hadist no 5 dari Abdullah bin Abbas Ra.

Makna Hadist

Allah Ta’ala menciptakan manusia di bumi, membebaninya dengan banyak kewajiban (tugas), dan menegaskan kepadanya bahwa ia tidak mampu menunaikan tugas-tugasnya jika tidak berbekal dengan bekal taqwa. Untuk itu dibuat syiar ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, membaca Alqur’an, dzikir, do’a, istighfar dll.

Hadist yang sedang kita bahas sekarang mengajak kita konsisten beristighfar, karena istighfar membersihkan kehidupan orang muslim dari maksiat dan dosa. Juga memberinya pelipur lara dari semua kesedihannya, solusi atas semua kesulitannya, dan kran-kran rizki dibuka untuknya dari arah yang tidak pernah terlintas di benaknya.

Beberapa Dalil tentang Keutamaan Istighfar

Allah ta’ala berfirman mengisahkan ucapan Nabi Hud As kepada kaummya,

“Dan hai kaumku, mintalah ampunan kepada Tuhan kalian, lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia Menurunkan hujan deras kepada kalian dan Dia menambahkan kekuatan di kekuatan kalian.” (Huud:52)

Allah ta’ala berfirman mengisahkan perkataan Nabi Nuh As kepada kaummya ,

Maka aku katakan kepada mereka, "Mintalah ampunan kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia menurunkan air hujan lebat kepada kalian. Dan memperbanyak harta dan anak-anak kalian dan mengadakan kebun-kebun untuk kalian dan mengadakan sungai -sungai untuk kalian.” (Nuh:10-12)

Allah ta’ala berfirman

“Dan mintalah ampunan kepada Tuhan kalian dan bertaubatlah pada-Nya, niscaya Dia memberi kenikmatan yang enak kepada kalian sampai batas waktu yang telah ditentukandan Dia memberi kepada setiap orang yang punya keutamaan( balasan) keutamaannya." (Huud: 3)

Allah ta’ala berfirman

“Dan orang-orangyang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu minta ampunan atas dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya, sedang mereka mengetahuinya.” (Ali Imran :135)

Rasullullah saw bersabda :

“Demi Alllah aku beristighfar kepada  Allah dan bertaubat kepada-Nya lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.

Abdullah bin Umar Ra berkata,

“Aku hitung Rasulullah SAW berdo’a disatu majelis dengan do’a berikut hingga seratus kali,

رَبِّ اغْفِرْ لِى وَتُبْ عَلَىَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Ya, Allah ampuni aku dan terimalah taubatku, karena Engkau Maha Penerima taubat dan maha Penyayang,”

Rasullullah saw bersabda :

“Barangsiapa berkata, “Aku minta ampunan kepada Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Maha Mengurusi Makhluq-Nya dan bertaubat kepada-Nya, “maka dosa-dosanya diampuni, kendati ai melarikan diri dari perang.”

Sebelum wafat Rasululllah SAW sering berdo’a dengan do’a berikut,

“Maha suci Allah dengan memuji-Nya.Aku meminta ampunan kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya .”

Dan dalil-dalil lainnya.

Hikmah Hadist ditinjau dari Aspek Dakwah dan Aspek Tarbiyah

Banyak pelajaran yang bias diambil dari hadist bab ini ditinjau dari aspek dakwah dan aspek tarbiyah. Diantaranya sebagai berikut :

1. Orang muslim perlu konsisten dalam beristighfar, sebagaimana orang konsisten dalam memperhatikan kebutuhan primer yang menjadi pilar hidupnya. Hal ini bisa dibantu dengan hal-hal berikut:

a. Orang muslim ingat peran istighfar dalam mendidik dan mensucikan jiwa

b. Orang muslim ingat peran istighfar itu menghilangkan seluruh kesedihan.

c. Orang muslim tahu istighfar itu menyirnakan seluruh kesulitan

d. Orang muslim tahu istighfar itu memperbanyak rizki dan anaknya, bahkan membuka pintu-pintu rizki dari arah yang tidak terlintas dihatinya.

e. Orang muslim tahu istighfar itu memberkahi umur atau ajalnya

2. Realitas agama ini menentukan seseorang tidak boleh memandang dirinya sebagai malaikat, tapi sebagai manusia, yang bisa salah atau benar. Solusi kesalahan ini ialah bertaubat dan beristighfar, sebab Rasulullah SAW bersabda,

“Demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman-Nya, andai kalian tidak berdosa, maka Allah melenyapkan kalian, lalu mendatangkan orang-orang yang berdosa lantas minta ampunan kepada Allah dan Diapun mengampuni mereka.

3. Islam respek dengan aspek spriritual manusia, dengan membuat undang-undang, yang mengisi dan menguatkan spiritual mereka. Ini sangat kontras dengan undang-undang produk manusia yang melupakan aspek spiritual. Wal hasil, kehidupan menjadi seperti hutan yang penuh binatang buas, hewan-hewan pemangsa dan kepemimpinan atau kekuasaan menjadi milik siapa yang paling kuat di dalamnya.***

*Artikel ini dikutip dari Kitab "Taujihat Nabawiyah ala Ath-Rhariq" DR. As-Sayyid Muhammad Nuh

Kunci Hidup Bahagia



Bulan lalu, dunia dihebohkan oleh berita kematian aktor terkenal Hollywood, Robin Williams. Komedian dunia ini cukup dikenal seantro negeri lantaran aksi dan aktingnya yang prima, baik di panggung atau layar kaca. Beberapa film terkenal yang dibintanginya, di antaranya Good Morning Vietnam, Mrs Doubtfire dan serial televisi Mork and Mindy, mendapat perhatian banyak pihak.

Pastinya, karena kemampuan prima aktingnya, Robin mendapat tawaran manggung, bintang iklan dan main film dari banyak pihak. Ia menjadi aktor Hollywood papan atas yang digandrungi dunia. Tak pelak lagi, dollar pun mengalir deras ke kantong pria yang memiliki raut wajah khas ini. Robin tak hanya menjadi bintang Hollywood papan atas, ia juga menjadi jutawan yang memiliki banyak aset, seperti rumah, mobil, tanah dan lainnya. Di mata penggemar dan banyak kalangan di sana, Robin telah sukses merengkuh kebahagiaan. 

Namun, tragedi tak dapat dielakkan. Di akhir hayatnya, bintang film dan komedian terkenal seantero dunia ini wafat dengan cara tragis: bunuh diri dalam posisi terduduk dengan kepala tergantung tali dan tangan yang mengeluarkan darah segar. Visum dokter menyebutkan yang menyebabkan kematiannya adalah nadi yang diputus dan kekurangan oksigen karena tali yang menggantung leher.

Sebelum bunuh diri dengan cara tragis tersebut, beberapa tahun belakangan Robin mengalami kegoncangan jiwa yang hebat. Ketergantungan pada alkohol dan narkoba membuat hidupnya semakin merasa sempit dan tak berarti. Walhasil, Robin mengalami depresi cukup berat. Tak hanya itu, belakangan, ia pun dinyatakan mengidap penyakit Parkinson stadium awal. Naudzubillahi mindzalik.

Saudaraku seiman yang dimuliakan Allah SWT... Terus terang, mengikuti akhir cerita Robin yang tragis itu, membuat bulu kudu ini berdiri. Sedih, rasa takut, ngeri, campur baur menyelimuti diri. Ternyata aktor yang dipuja-puji dunia dan dinilai banyak kalangan cukup bahagia itu, berakhir su'ul khatimah, akhir yang buruk dan menyedihkan, gantung diri lantaran tidak menemukan kebahagiaan yang hakiki.

Peristiwa gantung dirinya aktor kawakan Hollywood ini menyadarkan kembali kepada penulis untuk mencari tahu, setidaknya mereview kembali akan arti kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki tersebut. Tujuannya satu: agar tidak salah melangkah dan tertipu dengan kebahagiaan semu. Bak kilat, pertanyaan langsung terlintas di benak ini. Apakah bahagia itu dan seperti apa sebenarnya bahagia itu? Apakah dengan memiliki mobil mewah, rumah mewah, tanah luas, tabungan yang setiap tahun selalu bertambah di bank, seseorang sudah bahagia?

Apakah dengan meraih popularitas di mata publik dunia, menjadi publik figur, bintang film atau komedian terkenal dunia, seperti halnya Robin Williams, seseorang telah bahagia? Atau dengan menjadi CEO di sebuah perusahaan papan atas dan menjadi politisi terkenal, seseorang telah meraih kebahagiaan?

Sepakat dengan banyak orang, jawabannya, tentulah belum. Sebab, jika ukuran bahagia itu karena memiliki tanah yang luas, menjadi publik figur terkenal dunia, menjadi CEO atau menjadi legislator dan politikus ternama, tentu tidak perlu pusing-pusing mencarinya. Kalaulah parameter kebahagiaan itu dengan memiliki rumah, apartemen dan mobil yang mewah, tentu saja Robin Williams tidak akan terjerumus kepada dunia gelap, narkoba dan alkohol. Bahkan, boleh jadi ia pun tidak akan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri secara tragis jika standar kebahagiaan itu adalah materi.

Namun saudaraku yang kucintai karena-Nya... Di sinilah Robin Williams dan mungkin juga banyak dari “Robin-robin” lainnya salah paham dan akhirnya terjebak dengan kebahagiaan semu tersebut. Selama ini, Robin mengira kebahagiaan itu sebatas menjadi aktor terkenal dunia dengan bergelimangan dollar di tangan. Ia juga keliru menganggap kebahagiaan itu terletak pada materi dan kesenangan dunia belaka, tanpa mempercayai adanya hari setelah kematian.

Tragisnya, karena kebahagiaan hidup tak kunjung diraih,  komedian terkenal ini mengalami depresi berat, kehilangan arah hingga akhirnya terjerumus ke dalam dunia gelap, tergantung pada obat-obatan terlarang, narkoba dan alkohol. Lantaran tak memiliki keyakinan yang kokoh, akhirnya, Robin mengakhiri diri dengan bunuh  secara tragis.

Lantas, dimana kebahagiaan hakiki itu? Suatu hari, penulis pernah mendengar ceramah seorang ustadz. Dalam ceramahnya ia mengatakan, kebahagiaan merupakan suatu perasaan yang berkaitan erat dengan upaya untuk meraih akhirat. Kunci kebahagiaan lanjut ustadz adalah ketika seseorang beriman kepada Allah SWT dan memahami akan tujuan hidup sebenarnya, untuk apa  ia dilahirkan ke dunia.

Singkatnya, kebahagiaan itu terkait erat dengan kondisi psikologi seseorang. Bahagia itu terlihat jelas dari sikap diri kita berupa perasaan yang merasa nyaman, senang, suka cita, damai, tenang, ridha terhadap diri dan menerima dengan ikhlas segala ketentuan yang datang dari Allah SWT.

Jadi saudaraku... Mengukur  kebahagiaan itu sesungguhnya mudah. Indikatornya adalah sejauh mana seorang hamba berinteraksi dengan Tuhan Sang Pencipta dan Maha Pemberi Rezeki. Semakin dekat seorang hamba dengan Tuhannya, maka semakin dekatlah ia dengan kebahagiaan. Sebaliknya, semakin jauh ia dengan Allah SWT, maka semakin jauh pula ia dengan kebahagiaan. 

Seseorang akan meraih kebahagiaan bila ia beriman dan taat menjalankan perintah Allah SWT. Dan kebahagiaan akan segera diraih, bila seseorang intens menjalin relasi dengan Tuhannya. Bahagia terjadi bila seseorang dalam setiap tindak dan lakunya, baik pikiran, tutur kata dan sikapnya semata-mata mengharap ridha-Nya.

Dalam kaitannya dengan ibadah rutin kita, seseorang akan bahagia manakala ia mampu menjaga shalat lima waktu tepat pada waktunya secara berjamaah. Ia pun akan bahagia bila mampu secara istiqamah berpuasa sunnah Senin-Kamis, bersedekah secara rutin, membantu fakir miskin dan anak terlantar serta janda-janda yang tidak mampu.

Tak sekadar itu, seseorang akan bahagia manakala ia mampu menjalin relasi yang baik antara dirinya dengan orang lain. Bahagia pun akan tercipta manakala kita, sebagai seorang ayah mampu berbuat baik dengan anak-anak dan mendidik mereka dengan akhlakul karimah. Dalam hidup berumah tangga, bahagia akan terwujud bila seorang suami mampu berprilaku sopan dan baik dengan istrinya, begitu juga sebaliknya.

Di dunia pekerjaan, bahagia juga akan tercapai bila kita mampu bersikap profesional di dunia kerja kita masing-masing. Seorang pelajar akan bahagia manakala ia sukses belajar dan lulus dari sekolah dengan nilai baik. Seorang pekerja akan bahagia manakala ia mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan baik, amanah dan mencapai prestasi terbaik di kantornya. Bahkan, seorang office boy akan bahagia manakala ia mampu bekerja baik dengan membuat kopi yang enak bagi atasannya.

Kesimpulannya, janganlah kita keliru memahami arti kebahagiaan. Bahagia akan segera datang manakala kita mampu membangun relasi yang intens dengan Allah SWT. Kuatkanlah keimanan kita kepada-Nya dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangannya. Jalanilah perintah-Nya dengan sungguh-sungguh, insya Allah kita akan terhindar dari peristiwa tragis seperti yang dialami Robin Williams. 

(Rivai Hutapea)

Bahaya Tidak Sholat Ashar Berjamaah



Tetangga deket rumahku lagi ada banyak tamu. Mobil-mobil tamunya di parkir di pinggir jalan. Mungkin lagi ada acara keluarga, entah lah, aku dan Kevin (anakku) cuma lewat dalam perjalanan ke masjid. Eh tapi ternyata tuan rumahnya sudah ada di shaf terdepan jamaah sholat Ashar. Masyaa Allah.

Mungkin ada sebagian orang yg sedang ada tamu di rumah, lalu memilih untuk meninggalkan sholat berjamaah. Tapi tidak demikian dengan tetanggaku ini. Jika tamunya laki-laki muslim bisa juga tuh diajakin jamaah ke masjid.

Dari 'Abdullah bin 'Umar, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang kehilangan shalat 'Ashar (dengan berjama'ah) seperti orang yang kehilangan keluarga dan hartanya." (HR Bukhari, yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa'i, Ibnu Majah, Imam Ahmad, Imam Malik dan Ad Darimi, dengan lafadz dan sanad yang berbeda)

[Ardian Squ Candra]

Keutamaan dan Fadhilah Surat Al-Mulk



FADHILAH SURAT AL-MULK
(Surat ke-67 Al-Quran)

Pembahasan tentang Keutamaan Al-Mulk:

Pertama:  Banyak fadhilah dan keutamaan dari surat al-Mulk, diantaranya yang shohih (bisa dijadikan pegangan) adalah:

ـ(1) عن أبي هريرة، عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: سورة من القرأن، ثلاثون اية؛ تَشْفَعُ لصاحبها حتى يُغْفَرَ له: تبارك الذي بيده الملك. (رواه أبو داود واللفظ له, والترمذي وغيرهما، وصححه ابن حبان والحاكم والذهبي، وحسنه الترمذي والألباني)ـ

Dari Abu Huroiroh, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Ada surat dari Alqur’an yang terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat memberikan syafa’at bagi ‘temannya’ (yakni orang yang banyak membacanya) sehingga orang tersebut diampuni dosanya, yaitu: Surat Tabarokalladi bi yadihil mulk“. (HR. Abu Dawud dg redaksinya, diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi dan yang lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, dan adz-Dzahabi, sedangkan at-Tirmidzy dan Albani menghasankannya)

ـ(2) عن أنس بن مالك قال، قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: سورة من القرآن، ما هي إلا ثلاثون آية، خاصمت عن صاحبها حتى أدخلته الجنة، و هي تبارك. (رواه الطبراني في المعجم الأوسط وحسنه الألباني في صحيح الجامع)ـ

Anas bin Malik mengatakan, Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam bersabda: “Ada surat dari Alqur’an, ia hanya terdiri dari 30 ayat, Surat tersebut dapat membela ‘temannya’ sehingga memasukkannya ke surga, yaitu: Surat Tabarok“. (HR. Thobaroni dalam Mu’jamul Ausath, dan dihasankan oleh Albani dalam Shohihul Jami’)

ـ(3) عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قال: من قرأ تبارك الذي بيده الملك كل ليلة، منعه الله عز وجل بها من عذاب القبر، وكنا في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نسميها “المانعة”، وإنها في كتاب الله عز وجل سورة، من قرأ بها في ليلة فقد أكثر وأطاب.  (رواه النسائي واللفظ له والحاكم وقال صحيح الإسناد وحسنه الألباني)ـ

Abdulloh bin Mas’ud mengatakan: “Barangsiapa membaca surat Tabarokalladzi bi yadihil mulk setiap malam, maka Alloh azza wajall menghindarkannya dari adzab kubur, dan dahulu kami (para sahabat) di saat Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- (masih hidup) menamainya “al-Mani’ah” (penghindar/penghalang). Sungguh surat tersebut ada dalam Kitabulloh, barangsiapa membacanya dalam suatu malam, maka ia telah banyak berbuat kebaikan” (HR. Nasa’i dengan redaksinya, diriwayatkan pula oleh al-Hakim dan ia mengatakan: sanadnya shohih, dan dihasankan oleh Albani)

ـ(4) عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ لَا يَنَامُ حَتَّى يَقْرَأَ الم تَنْزِيلُ وَتَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ. (رواه أحمد والترمذي وغيرهما وصححه الألباني)ـ

Dari Jabir, sesungguhnya Nabi -shollallohu alaihi wasalam- tidak pernah tidur (malam) sehingga ia membaca surat Alif lam mim tanzil (biasa disebut Surat as-Sajdah) dan surat Tabarokalladi bi yadihil mulk (biasa disebut surat al-Mulk). (HR. Ahmad, at-Tirmidzi dan yang lainnya, dihasankan oleh Albani)

ـ(5) عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أُعْطِيتُ مَكَانَ التَّوْرَاةِ السَّبْعَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الزَّبُورِ الْمَئِينَ، وَأُعْطِيتُ مَكَانَ الْإِنْجِيلِ الْمَثَانِيَ، وَفُضِّلْتُ بِالْمُفَصَّلِ. (رواه أحمد وحسنه الألباني والأرناؤوط)ـ

Dari Waatsilah ibnul Asqo’, sesungguhnya Nabi -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Aku telah dikaruniai Assab’u yang sebanding dengan kitab Taurat, aku juga diberi Alma’in yang sebanding dengan kitab Zabur, aku juga diberi Almatsani yang sebanding dengan kitab Injil, dan aku dikaruniai kelebihan dengan Almufash-shol” (HR. Ahmad, dan dihasankan oleh Albani dan Al-Arnauth).

Kedua: Fadhilah Surat Almulk bisa diraih oleh mereka yang banyak membacanya, terutama di waktu malam menjelang tidur, sebagaimana diterangkan dalam hadits no: 3 dan 4. Jadi tidak tepat kalau dikatakan bahwa keutamaan tersebut hanya khusus bagi mereka yang menghafalnya saja.

Ketiga: Waktu untuk membaca Surat Almulk ini bisa kapan saja, akan tetapi Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- biasa membacanya saat menjelang tidur malam.

Keempat: Melihat keterangan hadits-hadits di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa memperbanyak membaca Surat Almulk dapat menghindarkan seseorang dari siksa kubur dan siksa neraka.

Kelima: Perlu kami ingatkan di sini, bahwa banyak sekali hadits-hadits tentang keutamaan surat Alqur’an yang dhoif (lemah) bahkan maudhu’ (palsu). Oleh karena itu, hendaklah kita berhati-hati dalam menerima keterangan tentang keutamaan surat Alqur’an, agar kita tidak terjatuh dalam amalan bid’ah dan kepercayaan yang tak berdasar. Hendaklah kita tidak mengamalkan hadits, kecuali telah jelas keshohihannya…

Wallohu a’lam bis showab

Oleh: Abu Abdillah Addariny

Tatkala Lisan Meruntuhkan Kekokohan Jama’ah



يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ، لا تُؤْذُوا الْمُؤْمِنِينَ، وَلا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَةَ أَخِيهِ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ، وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ.

“Wahai orang-orang yang telah Islam lisannya namun belum beriman hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang beriman dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Barangsiapa mencari-cari kesalahan dan kekurangan saudaranya, niscaya Allah –pun akan menyingkap kesalahannya meski ia berada pada bagian terdalam dari rumahnya.” [HR. Thabraani, di dalam al Mu’jam al Kabiir, (9/388)]

Hakim (bukan nama sebenarnya) adalah wirausahawan di bidang IT. Perjalanan bisnis yang ia tempuh tidaklah terus menerus beralaskan permadani nan indah. Suatu masa dia harus menginjakkan kakinya diatas kerikil nan tajam. Kebuntuan menghadang usahanya sehingga dengan terpaksa dia terbelit hutang yang tidak bisa diselesaikannya.

Sebagai seorang tarbiyah sebenarnya dia memiliki keluarga non bioligis yakni keluarga tarbiyah. Namun ia enggan untuk menceritakan bebannya pada jama’ah, dia takut akan menjadi beban jama’ah. Akan tetapi karena hutang tersebut juga terkait dengan ikhwah tarbiyah lainnya maka lambat laun diketahui jama’ah di wilayahnya. Diapun diminta untuk menjelaskan perkara bebannya.

Hakim… dia begitu gembira karena setelah menjabarkan musibah yang dialaminya, respon jama’ah begitu cepat, Hakim juga mendapatkan bantuan modal untuk membangun bisnisnya. Sampai suatu hari Hakim diminta untuk bersilaturahim ke rumah seorang koordinator yang menengani kasusnya. Di sana Hakim mendapat taujih yang begitu menguatkan dirinya dalam kondisi yang tidak menentu itu. Kalimat-kalimat yang dia terima terasa seperti air hujan di musim kemarau.. Namun entah disengaja atau tidak, ditengah hujan yang menyejukkan itu terselip sebuah petir yang menggelegar.. iya mendengar sebuah kalimat yang berbunyi: “ada masukan dari fulan jika ingin cepat kaya, salah satu caranya adalah menikahi wanita kaya” sungguh kalimat yang tak disangka sangka oleh Hakim yang sudah memiliki seorang istri dan 4 anak. Dia tidak menyangka bahwa selama ini pekerjaannya disalah artikan oleh orang-orang yang selama ini dia muliakan. Pekerjaannya dianggap sebagai cara ingin cepat kaya. Untunglah Hakim bukan seorang yang cepat kecewa.. dia tidak mutung ketika itu, tak terbersit dibenaknya untuk keluar dari jama’ah, walaupun kalimat itu terasa sangat getir dan menyayat hati di kala musibah sedang menimpanya. Dia simpan sendiri di lubuk hati yang terdalam, bahkan diapun enggan untuk menceritakan pada istrinya. Kali ini Hakim berjalan pulang dengan langkah yang tidak tegak seperti saat optimisnya kembali tumbuh ketika menerima bantuan modal.

Di tempat lain, kisah hidup Rasyid (bukan nama sebenarnya) tidak terlalu berbeda dengan Hakim. Sudah 4 tahun dia berusaha agar kehidupan ekonominya pulih kembali. Berbagai jenis usaha dia upayakan, namun Allah belum mentakdirkan kesuksesan bagi dirinya.

Pada Ramadhan tahun ini, Rasyid kembali mencoba usaha baru, dia merintis usaha catering dan berhasil mendapatkan rekanan sebuah Lembaga Amil Zakat tingkat nasional. Rasyid ditunjuk untuk menangani sebagian wilayah di kotanya. Rasyid dan istri sepakat bahwa mereka harus menyewa sebuah mobil yang akan digunakan sebagai sarana operasional selama sebulan agar dapat memenuhi kewajiban dengan LAZ tersebut. Dia mengkalkulasi bahwa tidak mungkin mengangkut pesanan yang jumlahnya ratusan boks per hari, hanya dengan sepeda motor bebek yang dimilikinya.

Bisnis itu pun ia jalani selama sebulan penuh dengan suka dukanya. Namun tak disangka-sangka beberapa ikhwah di wilayah kecamatannya yang sudah mengenal dan faham betul dengan permasalahan dirinya selama ini, malah memberikan nilai negatif. Hanya karena pernah melihat Rasyid yang mengendarai mobil tanpa mengetahui detil latar belakangnya, langsung mencibir di depan ikhwah lainnya bahwa Rasyid mempunyai gaya hidup yang tidak wajar.

***

Kisah kisah sejenis mungkin sering kita dengar atau mungkin pernah terjadi pada diri kita sendiri. Apabila kita adalah orang yang terzalimi maka mungkin itulah saatnya Allah memberikan kesempatan bagi kita untuk mendoakan kebaikan pada saudara-saudara kita. Dan apabila kita sebagai pelaku yang menzalimi saudara kita dengan memberikan penilaian yang tidak hak, maka saatnya kita sadar dan melihat kembali bahwa apa yang kita lakukan merupakan salah satu bibit yang menyebabkan dakwah ini semakin ditinggalkan dan mungkin menjadi penyebab Allah enggan menurunkan pertolonganNya.

Materi materi keislaman yang selama ini kita terima bukanlah sekedar formalitas yang berhak kita dapati dalam proses tarbiyah ini. Materi tarbiyah adalah sebuah taklif yang harus kita ejawantahkan dalam kehidupan sehari hari.

Dalam kasus yang saya angkat diatas, Rasulullah dengan tegas mewanti wanti kita tentang bahayanya menilai orang dengan tidak hak. Sebagaimana sabdanya: “Wahai orang-orang yang telah Islam lisannya namun belum beriman hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang beriman dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Barangsiapa mencari-cari kesalahan dan kekurangan saudaranya, niscaya Allah pun akan menyingkap kesalahannya meski ia berada pada bagian terdalam dari rumahnya”.

Fenomena ini memang bukanlah fenomena “khusus”, ini terjadi di kalangan kaum muslimin secara umum. Namun hal tersebut bukanlah dalil yang bisa digunakan untuk mendukung perbuatan tersebut sebagai sebuah kewajaran, apalagi jika terjadi di kalangan orang-orang tarbiyah yang selalu mengedepankan nilai dakwah.

Saya sendiri menilai jika yang melakukan tersebut adalah orang-orang tarbiyah maka dia sudah keluar dari jargon yang selama ini diusungnya, “berlaku adillah karena sesungguhnya adil itu lebih dekat dengan takwa”.

Dua kasus diatas menunjukkan ketidakadilan dalam menilai orang lain bahkan sesama saudaranya disebabkan sikap ceroboh yang tentunya dilandasi dengan tidak memiliki informasi yang lengkap sebelum memberikan penilaian. Simaklah perkataan Ibnu Taimiyyah berikut ini tentang pentingnya memiliki informasi yang lengkap sebelum memberikan sebuah penilaian:

لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مَعَ الْإِنْسَانِ أُصُولٌ كُلِّيَّةٌ تُرَدُّ إلَيْهَا الْجُزْئِيَّاتُ لِيَتَكَلَّمَ بِعِلْمِ وَعَدْلٍ ثُمَّ يَعْرِفُ الْجُزْئِيَّاتِ كَيْفَ وَقَعَتْ  وَإِلَّا فَيَبْقَى فِي كَذِبٍ وَجَهْلٍ فِي الْجُزْئِيَّاتِ وَجَهْلٍ وَظُلْمٍ فِي الْكُلِّيَّاتِ فَيَتَوَلَّدُ فَسَادٌ عَظِيمٌ

“Seorang yang ingin membahas masalah-masalah terperinci (al juz’iyyaat) secara baik dan benar wajiblah memiliki dasar-dasar global yang dijadikannya sebagai tolak ukur. Dengan itulah ia dapat mengetahui berbagai duduk masalah secara terperinci. Jika ia tidak mengetahui dasar-dasar global tersebut, niscaya ia akan tetap berada dalam kedustaan dan kebodohan terhadap masalah-masalah yang terperinci, -sebagaimana- ia –juga- akan tetap berada dalam kebodohan dan kedzhaliman terhadap perkara-perkara global, dan inilah yang menjadi cikal bakal munculnya kerusakan dan kehancuran yang besar.” [Majmu’ Fataawa, (19/203)]

Seorang mukmin selayaknya sadar akan kewajiban dirinya untuk senantiasa menjaga kehormatan kaum muslimin. Allah subahanahu wata’ala telah berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا [الأحزاب/57، 58]

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (al Ahzaab; 57-58)

Dan seorang mukmin juga diminta untuk menghindar dari mengedepankan prasangka.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ [الحجرات/12]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”. (al Hujuraat; 12)

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa yang dimaksud ghibah ? Para sahabat berkata; Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; (ghibah adalah) engkau menceritakan sesuatu yang tidak baik berkenaan dengan saudaramu. Kemudian, Beliau ditanya; bagaimana jika yang saya ceritakan itu –benar- berada pada saudaraku tersebut ? Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; jika betul yang engkau ceritakan berkenaan dengan saudaramu itu, maka sungguh engkau telah menggibahnya. Namun bila cerita engkau itu tidak benar, maka sesungguhnya engkau telah mendzhaliminya.”

Dua contoh kasus diatas mungkin terlihat ringan, umum, bahkan bisa dianggap sebagai angin lalu. Namun di balik itu dampaknya akan begitu negatif. Dampak yang akan muncul adalah berupa perpecahan, permusuhan, saling hasad, dengki, saling tuduh, dan hal-hal lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip ukhuwah dan persaudaraan Islam.

Oleh karenanya sebelum memberikan penilaian kepada orang lain, penting bagi kita memperhatikan kaidah kaidah sebagai berikut:

1. Bertakwalah kepada Allah ketika ingin memberikan penilaian kepada saudara kita dan sesama mukmin. Jadikan Allah sebagai pengawas pendapat diri kita tentang orang yang akan kita nilai.

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”. (al Baqarah; 275)

2. Kedepankan husnuzan sesama muslim.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا [الحجرات 12]

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang …” (al Hujuraat; 12)

3. Berlaku adil dalam menilai dan membicarakan seseorang. Berlaku adil kepada setiap orang adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Sikap seperti ini adalah sikap yang telah diwasiatkan oleh Allah tidak saja kepada ummat Muhammad ––shallallahu ‘alaihi wasallam-, tetapi juga kepada ummat-ummat sebelumnya.

وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى [الأنعام/152]

“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu).” (al An’aam; 152)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ [المائدة/8]

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا [النساء/135]

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan.” (an Nisaa'; 135)

Olehnya itu, maka penilaian terhadap pribadi seorang muslim wajiblah didasarkan pada prinsip keadilan, dan berlandaskan ilmu serta data yang benar dan akurat. Tidak dibenarkan bagi seorang membicarakan pribadi saudaranya –apapun alasannya- jika tidak berdasarkan pada prinsip-prinsip yang telah disebutkan. Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا [الإسراء/36]

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (al Israa'; 36)

4. Dalam menilai seseorang, wajib menjaga persatuan dan ukhuwah. Menjaga nilai-nilai ukhuwwah dan persaudaraan sesama muslim adalah hal yang wajib, dan mencorengnya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyakiti perasaan mereka adalah hal yang diharamkan, dan termasuk bentuk kedzhaliman.

Semoga dengan menerapkan nilai tarbiyah diatas lisan kita, Allah akan memberikan keberkahan dan menutup aib diri kita masing-masing. Sebab tidak ada satu orangpun yang berjalan di muka bumi saat ini yang dirinya luput dari aib. Sungguh kita tidak akan mampu menegakkan kepala kita berjalan di muka bumi ini ketika Allah membongkar aib kita sebagai balasan karena kita mencari cari kesalahan saudara kita. Allah-lah satu satunya Dzat tempat berlindung dari keburukan dan Allah-lah tempat kita kembali. Wallahul musta’an.

(Masyhuri)

Apakah Allah mencintaiku?



Pertanyaan ini berkecamuk dalam pikiran dan perasaanku....


Aku teringat bahwa kecintaan Allah terhadap hamba-Nya bukan datang seenaknya hamba, tapi karena sebab-sebab yang disebutkan oleh Allah dalam kitab-Nya.

Aku coba untuk mentadabburi dan memutar file-file tentang hal itu yang terdapat di dalam al Qur'an. Aku berusaha mengukur diriku terhadap ayat-ayat itu dengan harapan aku menemukan jawaban terhadap kegundahan ini. Semoga aku termasuk ke dalam kelompok orang yang dicintai Allah.

Pertama sekali aku menemukan ayat al Qur'an yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang bertaqwa. Namun sayang, langsung batin ku berkata dengan jujur, aku tidak termasuk ke dalam golongan ini.

Langkah kedua, aku ketemu ayat yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang sabar. Dengan penuh pengakuan tulus batinku langsung mengakui; teramat jauh diriku dari kelas bergengsi ini. Betapa aku tidak mampu bersabar dalam menghadapi segala hal.

Langkah ketiga, aku menemukan ayat yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya. Bukan sok tawadhu', batin ku langsung terkulai mengakui betapa aku lebih banyak dikalahkan oleh rasa malas dari pada bersungguh-sungguh.

Langkah keempat, aku menemukan ayat al Qur'an yang mengatakan bahwa Allah mencintai orang yang berbuat baik. Batinku pun tersenyum getir sambil merenung penuh insaf, kebaikan apa yang sudah ku lakukan? Aku masih punya malu untuk tidak mengaku-ngaku termasuk kelompok orang baik.

Di saat itu aku berhenti merenung. Aku takut kalau-kalau aku tidak menemukan di dalam diriku sifat yang membuat Allah cinta kepadaku.

Kemudian aku mencoba untuk membuka lembaran amal apa saja yang pernah aku lakukan? Namun, jangankan mendatangkan keoptimisan, telingaku memerah sendiri, keringat dingin mulai berkucuran, aku berusaha langsung melupakannya. Aku malu dengan diriku sendiri. Ternyata semuanya bercampur dengan kemalasan, kekurangan, cacat, belum lagi perbuatan yang semata-mata itu dosa dan maksiat.

Ketika aku akan mengakhiri perenunganku, tiba-tiba tangan ku membalik mushaf al Qur'an yang berada di pangkuanku.

Saat itu mataku langsung tertuju kepada potongan ayat yang berbunyi:

إن الله يحب التوابين

".....Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat...." (al Baqarah: 222)

Seolah-olah aku merasa kalau ayat itu diturunkan kepadaku saat itu, untuk menghilangkan gundah di hatiku dan menimbulkan harapan kalau Allah juga cinta kepadaku.

Air mata haru tidak bisa terbendung dari mataku. Perasaan lembut menjalar dari hulu jantung sampai keseluruh pori-pori di tubuhku. Hatiku bergumam; ternyata aku juga dicintai Allah. Aku sampai terisak menahan haru.

Aku pun mulai melantunkan kalimat istighfar:

أستغفر الله الذي لا اله الا هو الحي القيّوم وأتوب إليه

Aku minta ampun kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia, yang Maha Hidup dan Maha Mengatur, dan aku bertaubat kepada-Nya.

Aku betul-betul berharap, meskipun aku jauh dari empat kriteria sebelumnya, jangan sampai aku juga tersingkir dari kelompok orang terakhir ini. Orang yang bertaubat atas segala dosanya.

Ya Allah, jadikan lah kami termasuk orang yang bertaubat dan jadikan lah kami termasuk orang yang mensucikan diri.

(Zulfi Akmal, Al-Azhar Kairo)

Penyesalan yang Lebih Baik dari Ibadah



Ibnu Qayyim rahimahullah :

Jika Allah membukakan untukmu pintu sholat malam, janganlah kau memandang orang yang tidur dengan pandangan merendahkan.

Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, jangan kau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan merendahkan.

Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, jangan kau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan.

Bisa saja orang yang tidur, yang tak berpuasa dan yang tak berjihad lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu."

Kemudian beliau melanjutkan,

Sungguh, Engkau berpagi hari bangun dari tidur lalu menyesal lebih baik dari pada berpagi hari dalam keadaan terjaga lalu berbangga.

Karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah.

*dari kitab Madarijus Salikin:1/177

"Keajaiban" oleh Salim A. Fillah




Iman itu terkadang menggelisahkan.

Atau setidaknya menghajatkan ketenangan yang mengguyuri hati dengan terkuaknya keajaiban. Mungkin itu yang dirasakan Ibrahim ketika dia meminta kepada Rabbnya untuk ditunjukkan bagaimana yang mati dihidupkan. Maka saat Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasaKu?”, dia menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tenteram.”

Tetapi keajaiban itu tak datang serta merta di hadapannya. Meski Allah bisa saja menunjukkan kuasaNya dalam satu kata “Kun!”, kita tahu, bukan itu yang terjadi. Ibrahim harus bersipayah untuk menangkap lalu mencincang empat ekor burung. Lalu disusurnya jajaran bukit-berbukit dengan lembah curam untuk meletakkan masing-masing cincangan. Baru dia bisa memanggilnya. Dan beburung itu mendatanginya segera.

Di sinilah rupanya keajaiban itu. Setelah kerja yang menguras tenaga.

Tetapi apakah selalu kerja-kerja kita yang akan ditaburi keajaiban?

Hajar dan bayinya telah ditinggalkan oleh Ibrahim di lembah itu. Sunyi kini menyergap kegersangan yang membakar. Yang ada hanya pasir dan cadas yang membara. Tak ada pepohon tempat bernaung. Tak terlihat air untuk menyambung hidup. Tak tampak insan untuk berbagi kesah. Keculai bayi itu. Isma’il. Dia kini mulai menangis begitu keras karena lapar dan kehausan.

Maka Hajar pun berlari, mencoba mengais jejak air untuk menjawab tangis putera semata wayangnya. Ada dua bukit di sana. Dan dari ujung ke ujung coba ditelisiknya dengan seksama. Tak ada. Sama sekali tak ada tanda. Tapi dia terus mencari. Berlari. Bolak-balik tujuh kali. Mungkin dia tahu, tak pernah ada air di situ. Mungkin dia hanya ingin menunjukkan kesungguhannya pada Allah. Sebagaimana telah ia yakinkan sang suami, “Jika ini perintah Allah, Dia takkan pernah menyia-nyiakan kami!”

Maka kejaiban itu memancar. Zam zam! Bukan. Bukan dari jalan yang dia susuri atau jejak-jejak yang dia torehkan di antara Shafa dan Marwa. Air itu muncul justru dari kaki Isma’il yang bayi. Yang menangis. Yang haus. Yang menjejak-jejak. Dan Hajar pun takjub. Begitulah keajaiban datang. Terkadang tak terletak dalam ikhtiar-ikhtiar kita.

Mari belajar pada Hajar bahwa makna kerja keras itu adalah menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah. Mari bekerja keras seperti Hajar dengan gigih, dengan yakin. Bahwa Dia tak pernah menyia-nyiakan iman dan amal kita. Lalu biarkan keajaiban itu datang dari jalan yang tak kita sangka atas kehendakNya yang Maha Kuasa. Dan biarkan keajaiban itu menenangkan hati ini dari arah manapun Dia kehendaki.

Bekerja saja. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga.

Di lintas sejarah berikutnya, datanglah seorang lelaki pengemban da’wah untuk menjadi ‘ibrah. Dari Makkah, dia berhijrah ke Madinah. Tak sesuatupun dia bawa dari kekayaan melimpah yang pernah memudahkannya. Dia, ‘Abdurrahman ibn ‘Auf. Dan Rasulullah yang tahu gaya hidupnya di Makkah mempersaudarakannya dengan seorang lelaki Anshar kaya raya. Sa’d ibn Ar Rabi’.

Kita hafal kemuliaan kedua orang ini. Yang satu menawarkan membagi rata segala miliknya yang memang berjumlah dua; rumah, kebun kurma, dan bahkan isterinya. Yang satu dengan bersahaja berkata, “Tidak saudaraku.. Tunjukkan saja jalan ke pasar!”

Dan kita tahu, dimulai dari semangat menjaga ‘izzah, tekadnya untuk mandiri, serta tugas suci menerjemahkan nilai Qurani di pasar Madinah, terbitlah keajaiban itu. ‘Abdurrahman ibn ‘Auf memang datang ke pasar dengan tangan kosong, tapi dadanya penuh iman, dan akalnya dipenuhi manhaj ekonomi Qurani. Dinar dan dirham yang beredar di depan matanya dia pikat dengan kejujuran, sifat amanah, kebersihan dari riba, timbangan yang pas, keadilan transaksi, transparansi, dan akad-akad yang tercatat rapi.

Sebulan kemudian dia telah menghadap Sang Nabi dengan baju baru, mewangi oleh tebaran minyak khaluq yang membercak-bercak. “Ya Rasulallah, aku telah menikah!”, katanya dengan sesungging senyum. Ya, seorang wanita Anshar kini mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma. Walimahnya dengan menyembelih domba. Satu hari, ketika 40.000 dinar emas dia letakkan di hadapan Sang Nabi, beliau bersabda, “Semoga Allah memberkahi yang kau infaqkan juga yang kau simpan!”

Kita mengenangnya kini sebagai lelaki yang memasuki surga sambil merangkak.

Di mana titik mula keajaiban itu? Mungkin justru pada keberaniannya untuk menanggalkan segala kemudahan yang ditawarkan. Dalam pikiran kita, memulai usaha dengan seorang isteri, sebuah rumah tinggal, dan sepetak kebun kurma seharusnya lebih menjanjikan daripada pergi ke pasar dengan tangan kosong. Tetapi bagi ‘Abdurrahman ibn ‘Auf agaknya itu justru terlihat sebagai belenggu. Itu sebuah beban yang memberati langkahnya untuk menggapai kemuliaan yang lebih tinggi. Keajaiban itu datang dalam keterbatasan ikhtiyar keras si tangan kosong. Bukan pada kelimpahan yang ditawarkan saudaranya.

Memulai dengan tangan kosong seperti ‘Abdurrahman ibn ‘Auf seharusnya menjadi penyemangat kita bahwa itu semua mudah. Mungkin dan bisa. Tetapi apakah kemudahan itu? Suatu hari dalam perjamuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella, semua orang mencibir perjalanan Columbus menemukan dunia baru sebagai hal yang sebenarnya sangat mudah. Tinggal berlayar terus ke barat. Lalu ketemu.

Christopher Columbus tersenyum dari kursinya. Diambil dan ditimangnya sebutir telur rebus dari piring di depannya. “Tuan-tuan”, suaranya menggelegar memecah ricuh bebisikan. “Siapa di antara kalian yang mampu memberdirikan telur ini dengan tegak?”

“Christopher”, kata seorang tua di sana, “Itu adalah hal yang tidak mungkin!”

Semua mengangguk mengiyakan.

“Saya bisa”, kata Columbus. Dia menyeringai sejenak lalu memukulkan salah satu ujung telurnya sampai remuk. Lalu memberdirikannya.

“Oh.. Kalau begitu, kami juga bisa!”, kata seseorang. “Ya.. ya.. ya..”, seru yang lain. Dan senyum Columbus makin lebar. Katanya, “Itulah bedanya aku dan kalian Tuan-tuan! Aku memang hanya melakukan hal-hal yang mudah dalam kehidupan ini. Tetapi aku melakukannya di saat semua orang mengatakan bahwa hal mudah itu mustahil!”

Nah, para pengemban da’wah, bekerjalah. Maka keajaiban akan menyapa dari arah tak terduga. Mulailah. Karena dalam keberanian memulai itulah terletak kemudahannya. Bukan soal punya dan tak punya. Mampu atau tak mampu. Miskin atau kaya. Kita bekerja, karena bekerja adalah bentuk kesyukuran yang terindah. Seperti firmanNya;

..Bekerjalah hai keluarga Daud, untuk bersyukur. Dan sedikit sekali di antara hambaKu yang pandai bersyukur. (QS Saba’: 13)

Macam-macam Hari Dalam Pandangan Ulama




Al-Khalil bin Ahmad (wafat 170 H) berkata, Hari-hariku ada 4 macam:

1. Hari dimana aku bertemu orang yang lebih tau dariku, maka aku pun belajar darinya. Itu adalah hari faedah dan ghanimahku.

2. Hari dimana aku bertemu orang yang aku lebih tau daripada dia, maka aku pun mengajarinya. Itu adalah hari aku mengharapkan pahala.

3. Hari dimana aku bertemu dengan orang yang sepertiku. Maka aku pun bertukar pikiran dengannya. Itu adalah hari pembelajaranku.

4. Hari dimana aku bertemu orang yang aku lebih tau daripada dia, tapi dia merasa lebih tau daripada aku. Maka, aku pun diam saja dan menjadikan itu sebagai hari rehatku.


[dari kitab Jami' Bayan al-'ilmi wa fadhlih, ibnu Abdil Bar]

Mencari Bahagia saat Bertemu Masalah



Banyak nian orang tidak bahagia.
Apakah kebahagiaan begitu mahalnya?

Berani menulis ini, jangan dikira hidup saya selalu menyenangkan. Tidak. Banyak peristiwa berat saya alami. Karena itulah kemestian hidup, hanya menapaki ujian demi ujian.

Ingat kisah 3 orang yang terjebak dalam gua kegelapan. Pintu tertutup batu besar. Seakan tak ada celah untuk keluar. Semua usaha fisik telah dilakukan, namun apa daya. Peralatan, sumber daya dan energi memiliki batas.

Namun mereka mencoba jalan lain. Jalan aset kebaikan.
Kepada Allah mereka memanjatkan doa, agar diberi jalan keluar dari pintu kegelapan.
Bertawasul kepada amal shalih yang mereka ujukkan hanya pada Allah.
Dan kembali berusaha, dengan berbekal amal sholeh, mengungkit batu masalah.

Alhamdulillah. Sedikit-demi sedikit cercah cahaya masuk. Berkat amal tiga orang yang berbeda-beda. Satu karena baktinya pada orang tua, satu karena sifat amanahnya pada harta titipan. Bahkan salah satunya karena urung melakukan perbuatan makshiyat zina, itupun amal kebaikan.

Anda yang sedang tidak bahagia...
Merasa terdzalimi dan terjebak gua kegelapan.
Merenung dan bertawasul lah pada amal kebaikan. Jika merasa kurang, lakukan dan tambahkan amal kebaikan.
Bermodal keikhlasan, semoga diberi jalan keluar...

Karena cuaca tak selalu seperti yang kita inginkan.
Mungkin kita tak pernah merasa puas pada sikap orang lain..
Atau mendapatkan apa saja cita-cita dan harapan kita.

Tak mungkin semua orang selalu bersikap seperti apa yang kita inginkan, atau bahkan bersikap seperti seharusnya mereka harus bersikap.
Selalu akan ada yang mengecewakan.
Atau bahkan melukai.

Tapi ingatlah
Hati kita milik Allah
Kita yang berhak menentukan warnanya
Bahagia
Atau merana
Dan bermohon kepada Sang Pemilik hati
Untuk menetapkannya selalu dalam kebaikan.

Jangan biarkan orang lain
Yang memilihkan untuk anda.

Ishbiruu washaabiruu waraabituu

(Ida Nur Laela)

Mengapa Shalat Dhuha Memperlancar Rezeki?




Banyak Muslim yang meyakini bahwa salah satu keajaiban shalat Dhuha adalah memperlancar rezeki. Lebih dari itu, banyak pula Muslim yang telah membuktikan bahwa setelah rutin mengerjakan shalat Dhuha, rezekinya menjadi lebih lancar.

Mengapa demikian? Mari kita perhatikan hadits-hadits yang mengaitkan shalat Dhuha dengan rezeki berikut ini:

يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“Setiap pagi, setiap ruas anggota badan kalian wajib dikeluarkan shadaqahnya. Setiap tasbih adalah shadaqah, setiap tahmid adalah shadaqah, setiap tahlil adalah shadaqah, setiap takbir adalah shadaqah, menyuruh kepada kebaikan adalah shadaqah, dan melarang berbuat munkar adalah shadaqah. Semua itu dapat diganti dengan shalat dhuha dua rakaat.” (HR. Muslim)

فِى الإِنْسَانِ ثَلاَثُمِائَةٍ وَسِتُّونَ مَفْصِلاً فَعَلَيْهِ أَنْ يَتَصَدَّقَ عَنْ كُلِّ مَفْصِلٍ مِنْهُ بِصَدَقَةٍ. قَالُوا وَمَنْ يُطِيقُ ذَلِكَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ قَالَ النُّخَاعَةُ فِى الْمَسْجِدِ تَدْفِنُهَا وَالشَّىْءُ تُنَحِّيهِ عَنِ الطَّرِيقِ فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَرَكْعَتَا الضُّحَى تُجْزِئُكَ

“Di dalam tubuh manusia terdapat tiga ratus enam puluh sendi, yang seluruhnya harus dikeluarkan shadaqahnya.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Siapakah yang mampu melakukan itu wahai Nabiyullah?” Beliau menjawab, “Engkau membersihkan dahak yang ada di dalam masjid adalah shadaqah, engkau menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan adalah shadaqah. Maka jika engkau tidak menemukannya (shadaqah sebanyak itu), maka dua raka’at Dhuha sudah mencukupimu.” (HR. Abu Dawud)

Dalam dua hadits ini dan hadits-hadits lain yang senada, Shalat Dhuha bernilai sedekah. Bukan sembarang sedekah, tetapi 360 sedekah. Sedangkan tiap sedekah akan dilipatgandakan oleh Allah. Subhanallah.

Berikutnya, dalam hadits Qudsi Allah berfirman akan menjamin rezeki hamba-hambaNya yang menjaga shalat Dhuha.

يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَا ابْنَ آدَمَ لاَ تُعْجِزْنِى مِنْ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ فِى أَوَّلِ نَهَارِكَ أَكْفِكَ آخِرَهُ

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Wahai anak Adam, janganlah engkau luput dari empat rakaat di awal harimu, niscaya Aku cukupkan untukmu di sepanjang hari itu.” (HR. Ahmad)

Ketiga, dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan derajatnya hasan shahih menurut Syaikh Al Albani.

بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَرِيَّةً فَغَنِمُوا وَأَسْرَعُوا الرَّجْعَةَ فَتَحَدَّثَ النَّاسُ بِقُرْبِ مَغْزَاهُمْ وَكَثْرَةِ غَنِيمَتِهِمْ وَسُرْعَةِ رَجْعَتِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى أَقْرَبَ مِنْهُ مَغْزًى وَأَكْثَرَ غَنِيمَةً وَأَوْشَكَ رَجْعَةً مَنْ تَوَضَّأَ ثُمَّ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لِسُبْحَةِ الضُّحَى فَهُوَ أَقْرَبُ مَغْزًى وَأَكْثَرُ غَنِيمَةً وَأَوْشَكُ رَجْعَةً

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengirimkan sepasukan tentara, lalu mereka berhasil memperoleh harta rampasan perang yang banyak dan bergegas pulang. Kesuksesan perang, harta rampasan yang banyak dan pasukan kembali dengan selamat menjadi buah bibir di masyarakat. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang lebih banyak memperoleh harta rampasan, bahkan keberhasilannya lebih cepat dibandingkan pasukan tentara itu? Hendaklah seseorang berwudhu lalu pergi ke masjid untuk mengerjakan shalat Dhuha. Maka orang itulah yang lebih cepat memenangkan peperangan, lebih banyak meraih harta rampasan dan lebih segera meraih kesuksesan.” (HR. Ahmad; hasan shahih)

Jika pada hadits-hadits sebelumnya shalat Dhuha dikaitkan dengan sedekah dan rezeki, pada hadits ini shalat Dhuha bahkan membuat orang yang mengerjakannya dapat meraih kesuksesan dengan segera. Subhanallah, demikianlah keajaiban shalat dhuha. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

*sumber: bersamadakwah.com

Cinta Penawar Luka | Salim A. Fillah




Mari sejenak mendampingi seorang Ibu yang melahirkan.


Makhluq Allah yang mulia ini nyawanya berada di ujung tanduk. Serangan rasa nyeri luar biasa menyergap ketika rahim mulai berkontraksi. Makin lama kian sering dan kian menyakitkan. Otot-otot serasa dikejangkan dan tulang-tulang seperti dibetoti. Puncaknya, ketika sang bayi sudah saatnya menghirup udara dunia, maka yang dirasakan sang Ibu adalah perobekan luas, luka jerih yang berdarah-darah, dan tubuh yang dipaksa untuk berkelojotan menuntaskan bebannya.

Rasa sakit itu, sungguh tak terkatakan.

Tetapi lihatlah itu, ketika luka robek masih menyemburkan darah, ketika tenaga tubuh habis lunglai disadap persalinan, ketika rasa lelah timbun-menimbun dengan nyeri menyayat tanpa henti, sang ibu tersenyum begitu indahnya. Seakan semua rasa sakit itu sirna ketika sang bayi yang menangis demikian keras diletakkan di atas dadanya, dalam pelukannya.

Terbayangkah jika rasa sakit dahsyat yang kemudian menguap dalam sekejap macam itu dialami juga oleh seorang pria?

***

Setelah mendaki, lelaki itu masuk terlebih dahulu, menyibak ruang cekung di antara batu. Rikat matanya memeriksa tiap pojok. Dia temukan setidaknya ada empat lubang, sarang makhluk berbisa di gua itu. “Tunggulah sejenak ya Rasulallah”, ujarnya. Dipinggirkannya semua kerikil dan batu. Disapunya lantai dengan surban hingga pasirnya rata dan lembut. Diletakkannya bekal di sudut-sudut.

Lalu diapun duduk. Ditepatkannya selonjoran kaki dan tapak-tapak tangannya pada lubang-lubang yang diperkirakan dihuni binatang berbisa. Anggota tubuhnya dikerahkan untuk menutup bahaya sengatan dari liang-liang itu. Lalu Rasulullah pun masuk, merebahkan diri untuk beristirahat di pangkuan lelaki itu.

Lelaki itu, Abu Bakr Ash Shiddiq yang kurus badannya, pucat kulitnya, dan lembut hatinya; mendampingi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hijrahnya. Kali ini, mereka sedang berada di Gua Tsur untuk menghindarkan diri dari kejaran Quraisy yang murka berat atas lolosnya Muhammad. Dan inilah mereka di sini, menghindar dari jalur perjalanan beberapa jenak untuk mengecoh para pemburu nyawa Sang Nabi.

Belum beberapa lama mereka di situ, Abu Bakr telah mulai merasa sengatan-sengatan binatang berbisa mencekatnya. Rasa ngilu, pedih, dan nyeri yang tak tertahankan menjalar seakan hendak merusakkan syaraf dan melumpuhkan badannya. Tapi dia tetap diam dan menggigit bibir. Ditahannya rasa sakit itu demi agar Sang Nabi tak terganggu istirahatnya. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam pulas sekali.

Beberapa lelaki Quraisy tampaknya mengetahui persembunyian mereka dan memeriksa pintu gua. Abu Bakr mulai gelisah dan disergap cemas. Tepat pada saat itu, sebulir air mata tak mampu lagi ditahannya hingga jatuh menitik berketipak di pipi Sang Nabi. Beliau bangun.

“Jangan sedih hai Abu Bakr”, ujar beliau menatap sahabatnya dengan teduh, “Allah bersama kita.”

Nabi mengatakan “jangan sedih” alih-alih “jangan takut”, sebab meski ketakutan meraja, sungguh Abu Bakr lebih tercekam oleh kesedihannya memikirkan sahabat tercinta. Betapa mereka saling mengerti isi hati.

“Orang-orang itu ya Rasulallah”, ucap Abu Bakr yang telah lupa pada sakitnya, “Andai mereka melihat ke arah kaki mereka sendiri, pastilah mereka akan mengetahui keberadaan kita.”

“Bagaimana pendapatmu hai Abu Bakr”, lanjut Rasulullah sambil tersenyum, “Jika ada dua orang dan yang ketiganya adalah Allah?”

Kalimat Rasulullah dan senyum beliau, ketenangan dan keteduhan wajahnya tiba-tiba membuat Abu Bakr serasa diguyur embun sejuk ketenteraman. Segala rasa sakit akibat sengatan binatang-binatang jahat itu tak lagi terasa. Dunia serasa dipenuhi cahaya yang berpendar-pendar, hangat dan penuh cinta. Sebab mereka berdua telah menyatu, dengan Allah sebagai saksinya, sebagai yang ketiganya.

Inilah cinta penawar luka. Adakah kita punya?


*)http://salimafillah.com/cinta-penawar-luka/

Rahasia Hidup Produktif dan Matang: Menikah Muda



“Islam berkembang hingga pemeluknya mencapai dua miliar, selain karena jihad, juga karena pernikahan,” ujar Anis Matta saat mengisi ceramah nikah, pekan lalu di Bandung, (15/8).

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyempatkan diri hadir dan memberi taushiyah pernikahan antara Muthiah Saidatul Jannah dan Mush’ab Abdurahman Robbani, keduanya adalah anggota Garuda Keadilan, organisasi pengkaderan pemuda PKS.

Sebagaimana isi salah satu hadits Nabi Saw, yang menganjurkan menikah muda, Anis mengakui, menikah muda mendorong pelakunya lebih produktif dan lebih cepat matang jiwanya. Usia muda yang penuh dengan rasa ingin tahu, dan ingin banyak mencoba hal-hal baru, akan diimbangi dengan rasa tanggung jawab yang muncul saat menjalankan rumah tangga. Dengan demikian, kata Anis, pelaku menikah muda akan terhindar dari perilaku-perilaku salah yang didorong gejolak muda.

“Jangan takut dengan tanggung jawab yang akan kalian pikul, karena justru tanggung jawab inilah yang akan membuat kalian lebih dewasa,” pesan Anis kepada kedua mempelai.

Kemudian, Anis juga berpesan, agar keduanya mempelajari ilmu fundamental tentang rumah tangga. Ilmu ini, menurut Anis, sangat sederhana, namun butuh keberanian untuk menjalaninya.

“Jalani apa adanya, insya Allah, Allah akan memberi ilmu-Nya,” kata Anis.

Muthiah adalah putri pasangan Haris Yuliana dan Rita Rahmawati. Haris Yuliana merupakan kader PKS yang periode ini terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Barat, dari dapil Kabupaten Bandung. Adapun Mush’ab adalah putra pasangan Muhammad Sofyan dan Yuni Darmawati.

Anis yakin, penyatuan keduanya dalam pernikahan akan membawa banyak manfaat dan kebaikan untuk umat.

“Sebelum menikah, mereka berdua sudah ada di lingkungan yang sama, sehingga insya Allah faktor penguatnya akan lebih banyak,” tutur Anis. (sumber: anismatta.net)

*Baca juga: Yuks, Khitbah "Si Dia"

Yuks, Khitbah "Si Dia"




Oleh Abdullah Haidir, Lc

Twip kita ngaji yuk... soal khitbah... meminang atau melamar.... asyik kan..:)

1. Khitbah (meminang) merupakan step pertama yg mestinya dilakukan oleh org yg hendak menikah..

2. Khitbah hakekatnya adalah menyampaikan keinginan atau janji utk menikahi wanita pilihannya kpd walinya.

3. Hukumnya disunahkan dalam agama, krn sebelum pernikahan, hendaknya masing2 pasangan mengenali calonnya dg baik.

4. Bagusnya sebelum melangkah khitbah, seseorang melakukan istikharah dan istisyarah.

5. Istikharah adalah mohon kpd Allah agar pilihannya baik baginya, di dunia atau akhirat. Shalat dua rakaat, baca doanya..

6. Istisyarah adalah berkonsultasi dg org2 bijak di sekitarnya, baik ttg kesiapan dirinya atau calon yg akan dilamar.

6a. Jika pilihan sudah ok, hati sudah mantap, istikharah dan istisyarah dah ditempuh... bersiap2lah khitbah...

7. Dianjurkan untuk melihat wanita yang hendak dilamar, begitupula, sang wanita melihat laki2 yg melamar.

8. Dlm riwayat Muslim, ktk ada org yg hendak menikah, namun belum melihat calonnya, Rasululah saw perintahkan dia utk melihatnya.

9. Melihat juga boleh dilakukan sebelum khitbah, selama niat khitbah sudah ada. Bahkan boleh juga tanpa diketahui calonnya..

10. Atau melihat calon dapat dilakukan saat khitbah. Yg penting tidak boleh ada khalwat. Cuma berduaan saja.

11. Sekedar pengalaman, dahulu murabbi saya mengajak saya ke apotik utk beli obat, sekalian utk melihat calon saya yg kerja di apotik..:)

12. Sebaiknya memang tdk cukup dg poto saja. Bahkan boleh jadi ada mudharatnya. Melihat langsung diutamakan.

13. Perkara lain lagi yg harus dipastikan adalah bahwa calon yg dilamar bukanlah org yang terlarang dinikahi..

14. Misal, masih mahram, masih status isteri orang, masih dlm masa idah. Termasuk tidak boleh khitbah wanita yg sudah dikhitbah..

15. Jika semuanya telah siap, hubungilah walinya untuk mengajukan khitbah. Silakan tetapkan waktu yang tepat dan pas.

16. Khitbah bisa langsung dilakukan oleh calon suami, atau diwakili oleh keluarganya. Atau datang rame2 sekalian..

17. Tidak ada ritual khusus utk khitbah. Bahkan sebagian ulama menganjurkan agar khitbah dirahasiakan.

18. Khususnya jika dikhawatirkan khitbahnya mengundang kedengkian. Tapi jk merasa aman, diumumkn juga tdk apa.

19. Terkait dengan hadiah2 dan pemberian, semuanya sekedar pemberian biasa saja. Tidak mengikat, spt mahar.

20. Tidak harus juga menyerahkan cincin khusus utk khitbah. Atau tukeran cincin. Hal itu tdk ada aturannya dlm khitbah.

21. Tapi kalau memang ingin memberi hadiah cincin kepada wanita yg hendak dikhitbah tidk mengapa, dan tanpa ikatan apa2..

22. Sampaikan kepada wali wanita tersebut bhw dia bermaksud melamarnya. Jika walinya setuju, dan wanitanya setuju, resmilah lamaran tsb.

23. Namun, khitbah prinsipnya adalah sekedar janji untuk menikah. Bukan pernikahan itu sendiri. Maka status hukumnya masih 'org lain'.

24. Maka, setelah khitbah, kedua calon pasangan tsb, tetap tdk boleh 'klayar kluyur' kesana kemari berduaan, layaknya suami isteri..

25. Bahkan berbicara pun secukupnya, sesuai kebutuhan, jangan langsung ngomong mesra2an dan cinta2an.

26. Sebaiknya memang, antara khitbah dan akad pernikahan jgn terlalu lama, agar tdk membuka peluang fitnah..

27. Kalau lamaran dibatalkan gimana? Boleh saja. Baik yg membatalakn laki2 ataupun wanita. Hanya saja sebaiknya ada alasan yg jelas.

28. Makanya, khitbah itu baik ketika diajukan atau ketika diterima, hendaknya berdasarkan pemahaman yg jelas, agar tdk timbul masalah.

29. Jika dibatalkan, apakah pemberiannya harus dikembalikan? Tidak harus, itukan hadiah. Namun kalau dikembalikan lebih baik.

30. Jika sang wanita sudah dilamar, maka tidak boleh ada laki2 yg melamarnya, apabila dia tahu akan hal itu.

31. Selama masa khitbah, calon pasangan tsb boleh membicarakan rencana2 pernikahan. Termasuk syarat2 yg ingin diajukan.

32. Kalau syaratnya diterima dan tidak bertentangan dg aturan agama, maka syarat tsb harus dipenuhi.

33. Berdasarkan hadits, syarat yang paling berhak dipenuhi adalah syarat2 dlm perkawinan.

Sampai di sini tweeps kajian ttg khitbah... moga Allah beri kemudian bagi saudara2 kita yg hendak menikah..

asiknya menikah ^^

"Kebeningan Hati" Ibadah yang sangat mahal harganya di sisi Allah








Ibadah yang sangat mahal harganya di sisi Allah, akan tetapi jarang manusia yang mampu melakukannya.

Yaitu: "Kebeningan Hati".

Di antara orang yang punya hati bening berkata:

Setiap kali aku lewat di depan sebuah rumah yang bagus aku berdo'a semoga Allah memberkati rumah itu untuk pemiliknya.

Yang lain berkata:

Setiap kali aku melihat nikmat (mobil, usaha, istri shalehah, keturunan yang baik) yang diberikan Allah kepada seorang muslim aku berdo'a:

"Ya Allah, jadikan lah itu semua dapat membantunya untuk ta'at kepada-Mu dan berkatilah rezkinya itu".

Yang lain lagi berkata:

Setiap kali aku melihat seorang muslim berjalan bersama istrinya aku berdo'a: "Ya Allah, satukan lah hati mereka berdua dalam keta'atan kepada-Mu".

Yang lagi berkata:

Setiap kali aku berpapasan dengan orang yang ahli maksiat aku mendo'annya supaya Allah memberinya hidayah.

Yang lain lagi berkata:

Aku selalu berdo'a kepada Allah supaya menunjuki hati-hati manusia semuanya, hingga mereka nanti di akhirat terbebas dari azab api neraka.

Yang lain lagi berkata:

Sebelum aku berbaring untuk tidur aku berdo'a: "Ya Allah, siapa saja yang telah menyakitiku di antara orang muslim sudah aku maafkan. Oleh karena itu ampunilah dia. Sesungguhnya aku amat hina bila seorang muslim diazab gara-gara diriku".

Hati yang bening....
Betapa kita butuhnya kepada hati seperti itu...

Hati yang tidak kenal iri, dengki, dendam, benci, marah dan permusuhan.

Ya Allah, karuniakanlah kami hati yang bening, yang akan menjadi penyebab bagi kami untuk masuk ke surga-Mu.

(Zulfi Akmal, Kairo)

Agenda Da'wah Tak Kenal Henti



Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Selesai perang Ahzab, Rasulullah saw pulang ke rumahnya. Ketika hendak meletakkan pedangnya, Malaikat Jibril menegurnya...

"Para malaikat belum meletakkan pedangnya, pergilah ke Bani Quraizah (u/ membuat perhitungan dg Yahudi Quraizah yg khianat dlm perang Ahzab)".

Maka Rasulullah saw perintahkan para shahabatnya utk segera menuju Bani Quraizah..

Bahkan saking segeranya beliau berpesan.. "Jangan shalat Ashar sebelum tiba di Bani Quraizah..."

Para shahabat yg belum hilang letihnya dari perang Ahzab, langsung berangkat.... taat...

Sehingga sempat terjadi 'problem' pemahaman... ketika pasukan belum tiba di Bani Quraizah sebelum waktu Ashar masuk...

Sebagian berpendapat, shalat Ashar dulu, sebab maksd pesannya adalah agar bersegera, sehingga ketika masuk Ashar, sudah sampe di Bani Quraizah...

Kalo belum sampe sudah masuk waktu Ashar, ya shalat dulu.. begitu alasannya..

Sebagian lagi berpendapat, jangan shalat Ashar di tempat tsb... sesuai pesan tekstual agar jangan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizah...

Akhirnya ada sebagian shahabat yang shalat Ashar di tempat tsb, sebagian lagi tidak shalat Ashar....

Namun yang pasti, para shahabat yang berbeda pendapat itu, akhirnya sama-sama berangkat menuju Bani Quraizah dan berikutnya terjadi perang tsb..

Pelajaran yg dpt diambil dari cuplikan sirah ini adalah betapa kehidupan seorang muslim penuh dengan agenda tugas dan perjuangan...

Selesainya sebuah tugas dan agenda, justeru akan melahirkan tugas-tugas berikutnya yg lebih luas dan beraneka...

Sebab tabiat dakwah memang begitu, ketika kau tiba di satu titik, justeru dari titik itu kan kau dapatkan titik-titik yg lebih banyak utk kau jangkau.

Itu sesuai dg tabiat seorang muslim yg seharusnya, yaitu tawwaaqah..تواقة sebagaimana ucapan Umar bin Abdul Aziz...
إن لي نفسا تواقة ، كلما وصلت إلى أمر تاقت إلى ما هو أعلى

"Aku memiliki jiwa 'ambisius' setiap aku tiba pada satu perkara, aku ingin mencapai yang lebih tinggi lagi..."

Beruntunglah jika kita dilibatkan dengan berbagai agenda perjuangan. Meskipun tampak melelahkan, namun jiwa kan tercerahkan..

Bukankah Allah juga telah nyatakan فإذا فرغت فانصب

"Jika engkau selesai atas suatu perkara, maka mulailah (dengan perkara lainnya).."

Pelajaran lain yg dpt diambil dr cuplikan sirat tersebut adalah, perbedaan pendapat itu mungkin sekali, apalagi jika speed dakwah begitu tinggi...

Namun yg terpenting adalah, perbedaan tsb jangan mengganggu perjalanan dakwah, apalagi menghalang-halanginya...

Tidak perlu 'mutung' dalam dakwah hanya karena merasa pendapatnya tidak diterima... karena kalau semuanya diterima pun tidak mungkin...

Begitualh perjuangan ini jika kita pahami tujuan besarnya, maka kejadian-kejadian kecil (riak-riak) hanya menjadi romantika yang memperkaya dan memperindah cerita.

Bukan membesar-besarkan perkara samping, sehingga mengabaikan tujuan utama dan target terbesar kita.

Salam perjuangan u/ semua ikhwah dimana saja...