News Update :

PKS 1

PKS 1

PKS 2

PKS 2

PKS 3

PKS 3

PKS 4

PKS 4

PKS 5

PKS 5

Tampilkan postingan dengan label Anis Matta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anis Matta. Tampilkan semua postingan

Anis Matta: F-PKS Solid Dukung Pilkada Lewat DPRD



Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta memastikan fraksinya di DPR solid mendukung pengesahan RUU Pilkada dengan opsi pelaksanaan melalui DPRD. Sebanyak 57 anggota F-PKS akan hadir pada sidang paripurna 25 September lusa.

"Kalau itu kita sudah tradisi untuk selalu hadir. Kedisiplinan fraksi kita bagus jadi tidak khawatir dengan itu. Insya Allah semuanya datang," kata Anis Matta usai menghadiri perayaan ulang tahun ke-84 Kerajaan Arab Saudi di Hotel Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jaksel, seperti dilangsir detik.com, Selasa (23/9/2014).

Anis Matta meyakini fraksi lainnya yang bergabung di Koalisi Merah Putih yakni Gerindra, Golkar, PPP, PAN akan tetap solid mendukung pelaksanaan Pilkada melalui DPR. "Insya Allah solid," ujarnya.

Tapi Anis menolak berkomentar soal ketidakhadiran Demokrat dalam rapat koalisi menjelang paripurna. Meski bukan barisan koalisi, Demokrat mulanya ikut mendukung Pilkada lewat DPRD namun belakangan balik badan karena Susilo Bambang Yudhoyono justru merestui Pilkada secara langsung.

"Tanya ke Demokrat," ujar Hidayat menanggapi pertanyaan wartawan.

Paripurna 25 September akan menjadi pertarungan terakhir di DPR antara kubu koalisi Joko Widodo-Jusuf Kalla versus Koalisi Merah Putih. Retak kesolidan mulai muncul setelah kader muda Golkar yang dimotori Agus Gumiwang menyatakan akan memilih Pilkada langsung bila dilakukan voting di paripurna.

Sedangkan PPP diprediksi juga terbelah. Sebab sejumlah anggota DPR di Fraksi PPP berada di dua kubu yakni pimpinan Emron Pangkapi dan Suryadharma Ali. Kubu Emron melalui Waketum Suharso Monoarfa menegaskan partainya menginginkan fraksi PPP mendukung Pilkada langsung.[dm]

Buktikan Konsistensi, PKS Larang Kader Masuk Kabinet Jokowi


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memiliki sikap tersendiri terhadap posisinya sebagai salah satu partai di luar pemerintahan. Presiden PKS Anis Matta mengungkapkan, PKS melihat posisi sebagai partai pemerintah ataupun oposisi tidak ditentukan oleh pilihan, tapi kondisi yang sudah terjadi.

"Menjadi oposisi dalam periode ini bukanlah pilihan, namun karena kondisi," ujar Anis saat memberikan sambutan dalam pembekalan calon anggota legislatif PKS di Grand Sahid Hotel, Jakarta, kemarin (21/9).

Anis menyatakan, PKS tidak pernah sedikit pun terpancing oleh isu adanya sejumlah partai di Koalisi Merah Putih (KMP) akan menyeberang ke kubu pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Dia menilai, kabar bahwa dua anggota KMP, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), akan menyeberang ke Jokowi-JK juga sampai saat ini tidak terbukti. PPP, misalnya, terindikasi kuat akan menyeberang setelah konflik internal muncul di partai berlambang Kakbah tersebut.

"Saya kira (konflik internal) itu tidak akan menyebabkan mereka keluar ?dari kesepakatan besar yang sudah kita lakukan," ujar Anis.

Dia menilai, momentum saat ini merupakan kesempatan untuk membuktikan idealisme dari partai politik. Jika pada masa lalu masih banyak tren sejumlah parpol yang menyeberang ke pemerintahan, pasca ditetapkannya pemerintahan baru, hal yang terjadi saat ini bagi Anis memiliki situasi yang berbeda.

"Kita perlu konsisten. Saya kira politic swing sudah tidak eranya lagi. Politik kutu loncat sudah bukan zamannya," tutur Anis.

Dia bahkan meminta seluruh kader PKS menjalankan prinsip itu dan berharap kadernya tidak merasa putus asa karena sepanjang lima tahun ke depan PKS menjadi oposisi bagi pemerintah.

"Kita di oposisi, jangan sedih. Dulu kita pernah oposisi. Zaman Pak Hidayat (Hidayat Nur Wahid, Red), itu lebih berat," ujarnya.

Karena itulah, Anis melarang kadernya untuk menjadi anggota kabinet Jokowi-JK.

"Enggak dong. Sekarang ini saatnya kita memberikan bukti konsistensi," tegasnya.

Anis menambahkan, karena kondisi sudah menentukan, PKS harus tetap berjuang sebagai oposisi. Risiko sebuah demokrasi pada proses penentuan hanyalah menjadi bagian dari pemerintahan atau menjadi oposisi.

"Kita ingin memimpin, tapi kalah. Sesederhana itu. Ini hanya bagian ibadah karena paketnya sama, dalam pemerintahan atau di luar pemerintahan," tandasnya.[dm/jpnn]

PKS tak Akan Berpaling Dari KMP, Meski Ditawari Kursi Menteri


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta menegaskan partainya akan tetap bertahan di dalam Koalisi Merah Putih (KMP). Anis menjanjikan, mereka tidak akan berpaling, meskipun jika ada tawaran bagi kader-kadernya untuk menduduki posisi menteri.

"PKS Insya Allah solid dalam Koalisi Merah Putih. Kita solid di Koalisi Merah Putih," kata Presiden PKS Anis Matta di sela-sela acara Silaturahim Anggota Legislatif Nasional "Konsolidasi Dan Pengokohan Dakwah Parlemen Untuk Pemenangan Pemilu 2019" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (21/9).

Anis menyatakan berada di dalam maupun di luar pemerintahan merupakan suatu hal yang biasa. Sebab, kata dia, PKS sudah pernah berada di kedua posisi itu.

"Dulu PKS pernah oposisi sendirian, masuk dalam pemerintahan 10 tahun, sekarang ada lagi dalam oposisi, itu mah biasa aja. Di dalam dan di luar sama saja," ujar Anis.

Anis pun menegaskan PKS tidak akan berubah haluan di tengah-tengah jalannya pemerintahan. "Insya Allah," tandasnya.[dm/jpnn]

Anis: Kader PKS Tak Perlu Sedih Karena Oposisi



Presiden PKS Anis Matta meminta kepada para kader supaya tidak sedih karena posisi PKS yang berada di luar pemerintahan. Pasalnya hal ini sudah pernah PKS alami, ketika dipimpin oleh Hidayat Nur Wahid.

Hal itu diungkapkan Anis dalam Silaturahim Anggota Legislatif Nasional "Konsolidasi Dan Pengokohan Dakwah Parlemen Untuk Pemenangan Pemilu 2019" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Minggu (21/9).

"Saya ingin menyampaikan peran kita dalam koalisi. Kita sekarang dalam oposisi. Jangan sedih karena kita dalam oposisi," kata Anis.


Baca juga: PKS Akan Jadi World Class Political Party

Anis menyatakan oposisi PKS saat ini lebih ringan dibandingkan di era Hidayat Nur Wahid. Sebab, PKS memiliki banyak rekan dalam oposisi.

"Kita sekarang tidak sendiri, kita punya kawan banyak dalam oposisi. Jumlahnya bahkan lebih banyak dari yang tidak oposisi. Harusnya relatif lebih ringan dari saat masa Pak Hidayat," tandas Anis.

Anis Matta juga menyampaikan rasa syukurnya karena partainya masih bisa bertahan menghadapi segala ujian yang menerjang mereka.

"Yang kita syukuri kapal kita tidak tenggelam di tengah badai. Ada banyak goncangan, penumpang banyak yang mabuk, tapi antum yang hadir di sini survive. Insya Allah kapal yang kita perjuangkan ini bisa lampaui perjuangan di samudera yang lebih luas," kata Anis.

Dalam kesempatan ini, Anis menyampaikan ucapan terima kasih kepada para anggota legislatif terpilih. Sebab mereka mampu melewati perjuangan berat untuk terpilih.

"Saya ingin ucapkan terima kasih karena kita lampaui perjuangan berat bukan cuma karena sistem yang kita alami, dalam 1,5 tahun perjuangan kita lebih berat," ujar Anis.

Oleh karena perjuangan berat itu, Anis mengungkapkan kader yang bisa terpilih menjadi anggota legislatif harus bersyukur kepada Allah. "Karena bisa bertahan di tengah badai," tandasnya.

Dalam acara Silagnas, hadir anggota legislatif terpilih, baik itu yang berada di tingkat DPR maupun DPRD. Selain itu ada juga petinggi PKS di antaranya Fahri Hamzah, Taufik Ridho, dan Hidayat Nur Wahid.[dm/jpnn]

Anis: PKS Akan Jadi World Class Political Party


Presiden PKS Anis Matta menyatakan partai yang dipimpinnya akan menjadi World Class Political Party. Untuk mewujudkannya dilakukan dengan cara mengembangkan kapasitas mereka sebagai partai politik.

Pernyataan itu disampaikan Anis di acara Silaturahim Anggota Legislatif Nasional "Konsolidasi Dan Pengokohan Dakwah Parlemen Untuk Pemenangan Pemilu 2019" di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, seperti dilangsir jpnn.com, Ahad (21/9).



Baca juga: Inilah Pesan Anis Matta Kepada Anggota Dewan PKS

"Yang harus kita lakukan sekarang adalah terus mengembangkan kapasitas dan pada akhirnya kita pantas memimpin negara. Dengan terus meningkatkan kapasitas, PKS bukan hanya akan pantas memimpin negeri ini, namun partai ini akan menjadi World Class Political Party," kata Anis.

Menurut Anis, PKS kini memiliki lebih dari 1.200 anggota legislatif dari tingkat DPRD kabupaten/kota hingga DPR. Hal ini, ujar dia, harus disyukuri. "Ini adalah fase baru dalam kehidupan aleg PKS. Fase di mana kader PKS bisa memperluas jangkauan dakwahnya. Kita sikapi fenomena ini dengan rasa syukur," ujar Anis.

Anis berharap para kader PKS bisa memberikan banyak kontribusi kepada bangsa Indonesia. "Semoga ke depannya kader-kader PKS bisa berkontribusi lebih banyak bagi negeri ini," tandasnya.[dm]

Inilah Pesan Anis Matta Kepada Anggota Dewan PKS


Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mengadakan Silaturahmi Anggota Legislatif Nasional (Silagnas). Acara ini dihadiri oleh calon anggota legislatif PKS yang lolos ke parlemen untuk periode 2014-2019.

Silagnas ini dihadiri Presiden PKS, Anis Matta, Sekjen PKS Taufik Ridho, Hidayat Nurwahid, dan politisi PKS lainnya. Selaku presiden PKS, Anis mengucapkan selamat kepada calon anggota legislatif yang lolos ke parlemen.

"Anda (calon anggota parlemen), ini mewakili wajah PKS dan buatlah warna dengan Partai Keadilan Sejahtera,"ujar Anis di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, seperti dikutip tribunnew, Minggu (21/9).

Anis menyatakan kebanggaannya kepada calon anggota parlemen karena diisi oleh banyak kalangan perempuan, kader muda di bawah umur 25 tahun, kader yang telah berjuang di beberapa kali pemilihan legislatif.

Dalam pidatonya Anis memberikan arahan kepada calon anggota legislatif tentang fokus perjuangan parlemen kepada 1.200 orang. Anis meminta seluruh calon anggota parlemen untuk membuat kebijakan yang prorakyat.

Selain itu, Anis juga mengingatkan kepada seluruh calon anggota DPR yang baru menghadapi fenomena politik global. Pada saat yang sama, pengganti Lutfi Hassan Ishaaq ini tegaskan posisi PKS sebagai oposisi terhadap pemerintahan Jokowi.

"Kita tak pernah minta jabatan," katanya.[dm]

Anis Matta: "Umat Islam akan terus menjadi pilar NKRI"






*Kultwit @anismatta
(17/8/2014)

Alhamdulillah, Indonesia sebagai nation-state yang berdaulat mencapai usia ke-69 hari ini..

Indonesia awalnya adalah cita2, berubah menjadi identitas, kemudian menjadi entitas politik..

Untuk apa menjadi entitas politik? Untuk mewujudkan kehidupan sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan berkeadilan..

Peringatan tahun ini jadi istimewa karena kita baru saja melewati tonggak proses demokrasi: pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden..

Kita baru saja melewati satu periode presidensial penuh secara konstitusional (2 x 5 thn) tanpa ancaman demokrasi..

Demokrasi yang makin matang ini harus jadi modal mewujudkan kesejahteraan.. Apalagi ada bonus demografi menunggu kita..

Kita akan merealisasikan bonus demokrasi dan bonus demografi dalam dekade yang akan datang.. Dengan modal itu, cita2 kemerdekaan akan dapat kita wujudkan..

Bonus demografi di alam demokrasi bagai bibit unggul yang tumbuh di tanah yg subur.. Kita harus menjaganya dari hama dan penyakit..

Komitmen kita terhadap demokrasi akan memastikan bibit unggul itu tumbuh menjadi pohon yang kokoh dan buah yang manis..

Itu yang menjadi janji kita kepada generasi yang akan datang.. Seperti janji para "founding fathers" bahwa kemerdekaan adalah jembatan emas menuju kemakmuran..

Tadi pagi (17/8/2014), ketika memperingati detik2 kemerdekaan bersama Koalisi Merah Putih, saya merasakan komitmen dan semangat janji kemerdekaan itu..

Juga malam ini, di acara muhasabah kemerdekaan RI yang dilaksanakan MUI.. Umat Islam akan terus menjadi pilar NKRI, bersama semua elemen bangsa..

Semoga Allah meridhoi perjalanan negara-bangsa Indonesia ke depan..

Kobarkan semangat Indonesia!!

Kultwit @anismatta Mensikapi Tragedi Gaza dan MH17




Anis Matta
(Presiden PKS)

Seluruh dunia marah & berduka.. Dlm sepenggal Ramadan ini, kita menyaksikan dua tragedi kemanusiaan dlm wkt berdekatan..

Yg pertama adlh serangan militer brutal Israel kpd warga sipil Palestina di Gaza; dan kedua tertembaknya pswt Malaysia Airlines di Ukraina..

Kedua insiden tersebut sulit diterima hati & akal sehat..

Di tengah dunia yg makin saling bergantung (interdependen), msh ada agresi militer atas nama penguasaan wilayah..

Kedua insiden itu mirip, serangan militer yg memakan korban warga sipil yg tidak berdosa..

Pd MH17, lebih menyakitkan krn mrk sama sekali tdk terlibat dlm konflik di Ukraina..

Dlm setiap konflik kekerasan, warga tak berdosa menjd korban yg paling terluka..

Mrk tidak boleh cuma dianggap sbg "collateral damage" dr suatu konflik..

Dlm Al Qur'an Allah berfirman, barang siapa membunuh seorang manusia, sama dgn membunuh semua manusia..

Pembunuhan thd seorg manusia memberi rasa tdk aman kpd manusia lainnya.. Pembunuhan merpkan pelanggaran nilai ke-manusia-an yg plg nyata..

Kita semua berduka, marah & mengutuk kekerasan berujung tragedi kemanusiaan tsb..

Kita berdoa & berusaha agar kekerasan atas nama apa pun dapat lenyap dr muka bumi..

Kita mendukung Palestina menjd negara berdaulat & mendesak semua pihak utk menghentikan agresi militer Israel di Gaza..

Kita menyampaikan duka kpd saudara2 kita di tanah air yg kehilangan keluarga, kerabat & sahabat dlm tragedi MH17..

Kita juga turut berduka bagi sdr2 kita di Belanda, Malaysia, Australia & negara2 lain yg warganya menjd korban tragedi ini..

Kita berdoa agar arwah korban diterima di sisi Allah & keluarga diberi ketabahan..

Semoga Allah mengijabah doa kita dibulan yg penuh rahmat ini.. Aamiin..

*dari twit @anismatta (19/7/2014)

Prabowo dan Anis Gelar Aksi Solidaritas untuk Rakyat Palestina


Calon Presiden RI yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto dan Presiden PKS, Anis Matta bersama tokoh nasional lainnya siang nanti akan menggelar aksi simapati terkait penyerangan Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza.

Acara ini akan berlangsung pukul 13.00 WIB (Jumat, 11/7), tepatnya selesai shalat Jumat, di Budaran Hotel Indonesia (HI) Jakarta, dengan tema "Aksi Solidaritas Rakyat Indonesia untuk Rakyat Palestina".

Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) sebagai penyelenggara mengajak seluruh rakyat Indonesia agar ikut dalam aksi solidaritas ini.

Selain mengimbau menggunakan pakain putih, aksi solidaritas ini akan mengumpulkan infaq dan shodakoh untuk diberikan kepada rakyat Palestina yang sudah "dijajah" oleh Israel.

Sebelumnya, Ketua Kaukus Parlemen Indonesia untuk Palestina, Almuzzammil Yusuf menyerukan agar di bulan Ramadhan ini masyarakat dunia turut berpartisipasi menghentikan kekejaman Israel yang didukung Amerika Serikat terhadap rakyat Palestina. Menurutnya rakyat Palestina memerlukan bantuan kongkrit agar kebiadaban Israel berakhir secara permanen.

"Sebagai Muslim, saya mengecam keras kekejaman Israel yang didukung AS yang telah menewaskan 78 rakyat Palestina. Saya menyerukan PBB, OKI, ASEAN, AIPA, kepala pemerintahan, lembaga kemanusiaan, ormas keagamaan dan masyarakat dunia untuk mengecam tindakan Israel dan memberikan bantuan kongkrit kepada rakyat Palestina," kata Wakil Ketua Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS ini dalam keterangan persnya, Kamis malam (10/7). [rus/rmol]

Taujih Presiden PKS Menghadapi Hari H Pilpres


*dari kultwit @anismatta
(8/7/2014)

Tengah malam seperti ini, masih pada siap siagakah?

Mantap!! ramai bener responnya, padahal sudah tengah malam.. ada yg lagi ronda, tilawah, dll.. insyaALLAH saya temani dengan kultwit..

Alhamdulillah, masa kampanye Pilpres telah berjalan lancar.. Kini kita memasuki masa tenang.. Apalagi di tengah suasana Ramadhan..

Masa kampanye terasa hangat.. Kedua pihak mencurahkan semua tenaga yang dimiliki.. Kini saatnya memantapkan hati dan mendengar nurani..

Nurani adlh konsep yg unik.. Artinya, kira2, hati yg terang.. Lawannya adlh zulmani, hati yg gelap..

Berarti, di tanggal 9 Juli besok, kita datang ke TPS dengan hati yg terang..

Terang krn kita tlh mantap dgn pilihan, mantap krn kita percaya pilihan kita akn mnjdkan Indonesia yg kuat, bermartabat, adil & sejahtera..

Kompetisi ini juga jadi bermakna ketika kita melihatnya dgn hati yg terang..

Kita sudah bekerja sekuat tenaga, mencurahkan segala daya upaya, skrg saatnya kita berdoa & bertawakal..

Doa & tawakal dgn hati yg terang ini yg akan membuat kerja keras punya nilai ibadah, bukan sekedar kerja fisik keduaniawian semata..

Setelah tgl 9 Juli, kita juga tetap berkontribusi bagi negara & bangsa Indonesia melalui pilihan kita masing2..

Kerja sama politik dan kompetisi politik yg sehat dpt dilanjutkan pasca-Pilpres..

Pasca-Pilpres adlh saat kita menjalankan pemerintahan, membuat kebijakan, dan membuktikan janji2 kita selama kampanye..

Baik yg kalah maupun yg menang harus siap.. Siap berkontribusi..

Yg belum berkesempatan memerintah, bisa berkontribusi menjd kekuatan penyeimbang melalui kritik yg konstruktif..

Sehingga aspirasi rakyat dpt dipastikan didengar dan dijalankan..

Dlm mnjalankan pemerintahan, pasangan Prabowo-Hatta akn melanjutkan kerja sama politik dlm koalisi pemerintahan yg sehat, terbuka dan etis..

Dlm koalisi, yg dikedepankan adlh visi & platform Indonesia Bangkit serta strategi utk merealisasikan visi & platform tsb ke dlm kebijakan..

Dlm koalisi, yg dikedepankan adlh kewajiban, bkn semata2 hak.. Setiap anggota harus bisa bekerja sama, dapat dipercaya dan diandalkan..

Semua itu harus dijaga demi Indonesia yg kuat, bermartabat, adil dan sejahtera..

Kita melangkahkan kaki ke TPS dgn hati yg terang, memilih pemimpin yg dpt mewujudkannya..

Kpd seluruh kader & simpatisan @PKSejahtera yg besok bertugas sbg saksi, mari kita lakukan dgn sekuat tenaga, dilandasi keikhlasan..

Jalankan tugas dgn ketekunan & ketelitian yg tinggi..

Jika Indonesia yg maju ibarat sebuah rumah yg indah, insyaALLAH esok kita bisa berkata pd anak2 kita:

“Lihat rumah yg indah itu, salah satu batu batanya ayah dan ibumu yg memasang..”

Pd akhirnya, Pilpres ini adlh ikhtiar mencari pemimpin yg tepat.. Stlh kompetisi selesai, kita akn berangkulan lagi sbg sesama anak bangsa..

Semoga Allah meridhoi perjuangan kita, dan meridhoi Indonesia menjadi negara-bangsa yang kuat, maju, adil dan makmur..

Kobarkan semangat Indonesia!!

"Marhaban Ya Ramadhan, Selamat Datang Bulan Kemenangan"


Twit @anismatta
(27/6/2014)

1. Marhaban Ya Ramadhan.. Selamat datang bulan jihad, selamat datang bulan kemenangan.

2. Seperti oase bagi para musafir kita menantikan kedatangan ramadhan dengan penuh rindu dan harap..

3. Saya teringat ketika puasa pertama kali diwajibkan bagi kaum muslimin dimasa Rasulullah SAW..

4. Itu terjadi pada tahun kedua hijriyah.. persis ketika proses konsolidasi "komunitas baru" baru saja selesai pd tahun pertama..

5. Merakit komunitas Muhajirin Mekkah dgn komunitas Anshar Madinah sebagai sebuah komunitas baru..

6. Komunitas baru yg sama sekali beda dgn ciri sosial masyarakat jazirah Arab umumnya..

7. Komunitas baru ini disatukan oleh Islam, bukan oleh etnis atau suku.. Itu merupakan lompatan sosiologis yg dahsyat dlm sejarah mereka..

8. Komunitas baru itu disatukan oleh Islam dlm sebuah teritori yg independen..

9. Tapi bkn ruang hampa karena dipenuhi oleh komunitas lain yg juga eksis di Madinah..

10. Ada identitas sosial baru ditengah identitas lain yg plural..

11. Walaupun independen, komunitas baru itu punya sumber ancaman keamanan yg laten, yaitu musyrikin Mekkah..

12. Karena itu proses2 social building dan state building bagi komunitas baru itu bukan pekerjaan yg mudah..

13. Agama baru yg menyatukan berbagai etnis tp sekaligus hidup ditengah komunitas lain yg berbeda, dgn ancaman keamanan yg tinggi..

14. Mereka perlu faktor kohesi yg kuat..tp jg daya tangkal dan daya lawan yg sama kuatnya utk mempertahanakan eksistensi..

15. Lima langkah social and state building yg dilakukan Rasulullah SAW adlh: membangun mesjid sbg pusat aktivitas sosial dan pemerintahan,

16. mempersaudarakan Muhajirin & Anshar,membangun pasar,mmbentuk angkatan perang dan mmbuat perjanjian dgn komunitas lain(Piagam Madinah)..

17. Semua langkah itu dilakukan pada tahun pertama hijriyah..

18. Islam berhasil menjadi faktor kohesi bagi internal komunitas muslim baru jg bagi masyarakat Madinah yg plural scr umum..

19. Tapi setiap satu percobaan selalu membutuhkan ujian.. dan ujian bagi kohesi itu adalah perang..

20. Dan itulah yg terjadi.. perang terbesar pertama yg dialami komunitas baru itu adalah perang Badar..

21. dan perang Badar itu terjadi pada pertengahan Ramadhan pertama di tahun kedua hijrah..

22. Lebih dari dua pekan setelah komunitas baru itu melakukan puasa pertama mereka.. mereka masuk ke dalam sebuah perang besar..

23. Perang besar yg mengubah arah sejarah mrk dan kelak sejarah jazirah Arab, sejarah kawasan dan kemudian sejarah manusia scr keseluruhan..

24. Puasa dan perang.. itulah kisah Ramadan pertama dimasa Rasulullah SAW..

25. Dan apa maknanya?? Semua pencapaian besar dlm sejarah manusia selalu datang dari fondasi spiritual yg kokoh..

26. Fondasi spiritual itu mmbuat kt bisa eksis dgn sumber daya terbatas, fokus pd cita2 dan bebas dr gangguan2 kecil yg sering mengalihkan..

27. Fondasi spiritual itu sekaligus memberi energi yg dahsyat untuk pencapaian2 besar..

28. Saya selalu mengingat kisah itu setiap kali Ramadhan datang..

*)https://twitter.com/anismatta

Anis Matta: Indonesia Butuh Pemimpin yang Otentik, Bukan Polesan



Twit @anismatta
(Sabtu malam, 21/6/2014)

Alhamdulillah.. Baru saja mendarat di Jakarta..

Banyak pertanyaan via mention.. InsyaALLAH sebagian besar akan terjawab dalam kultwit saya sebentar lg..

Alhamdulillah, kampanye pilpres berjalan lancar.. Suasana mulai hangat, kedua pihak berlomba2 di dlm kebaikan..

Kedua tim capres sedang melakukan "total football", walau Belanda sendiri sudah tidak menerapkannya sbg akibat globalisasi..

Pd hari Ahad, 22 Juni besok, kita akan menegaskan sikap & pilihan kita di Gelora Bung Karno..

Tempat bersejarah yg dibangun Bung Karno utk menempatkan Indonesia sejajar dgn bangsa2 lain di dunia..

Pd hari Ahad nanti kita akan menyerap semangat yg diwariskan Bung Karno utk menolak jd bangsa kuli dan kuli bangsa2 lain..

Bagi saya, terbentuknya koalisi pendukung Prabowo adlh sebuah keniscayaan kristalisasi politik yg alamiah..

Sebelum ini, komposisi koalisi juga relatif sama.. Hanya skrg minus PKB, plus Gerindra.. Sisanya sama..

Inilah koalisi kanan-tengah yg terbangun secara alamiah, atas dasar spektrum ideologi yg berdekatan..

Koalisi ini juga mencerminkan spektrum ideologi politik rakyat kebanyakan, walau sebagian tdk diartikulasikan..

Krn itu koalisi Prabowo mendapat dukungan yg luas dr rakyat, krn persamaan spektrum itu.. Spt pemancar yg ditangkap oleh radio di rumah2..

Kepercayaan & dukungan kpd Prabowo semakin meningkat, itu terasa dlm acara di daerah2.. Dukungan yg tulus..

Juga ketika saya & Prabowo berdialog dgn warga masyarakat.. Dialog yg alami.. Bukan dirancang utk diliput TV..

Krn itu acara di Gelora Bung Karno nanti adlh konfirmasi & penegasan dukungan yg berdasarkan kesamaan gagasan..

Dukungan alamiah, bukan krn popularitas figur, apalagi krn polesan pencitraan media.. Dukungan terhadap pribadi yg otentik..

Saya mengundang para sahabat utk hadir di Gelora Bung Karno pd hari Ahad besok, utk berSATU, menyatakan sikap politik yg SATU..

Bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin otentik yg memberi harapan, bukan pemimpin polesan yg menyajikan hiburan..

Bahwa dukungan kpd Prabowo lahir dr kesamaan gagasan & cita2, Indonesia yg kuat, maju, adil & sejahtera..

Sekarang saatnya.. Kobarkan semangat Indonesia!!

"Harapan atau Hiburan?" | Kolom Anis Matta


Harapan atau Hiburan?
(Oleh Anis Matta)


Pengujung transisi menuju demokrasi adalah situasi yang khas: ekspektasi akan hidup yang lebih baik kian membuncah tapi pada saat yang sama energi dan euforia– bahkan kesabaran–sudah menyurut.

Fase pungkas transisi, yaitu konsolidasi demokrasi, adalah jalan sepi yang ditempuh dengan ketekunan, bukan panggung ingar-bingar penuh deklamasi. Dalam tahap ini diperlukan pemimpin yang mampu menggerakkan sekaligus mendorong rakyat, agar mau melangkah lagi agar tujuan transisi, yaitu demokrasi yang sejati dapat tercapai. Itulah yang kini terjadi di Indonesia. Pemilu demokratis sudah tiga kali kita lewati dan kini kita tengah melaksanakan pemilu demokratis keempat dengan ekosistem politik yang jauh lebih stabil.

Kita telah berusaha merumuskan arah yang ingin dituju agar transisi ini tidak menjadi jalan berputar atau–malah lebih parah–berputar-putar tanpa arah. Tantangan itulah yang coba dijawab dalam Sidang Umum MPR dan proses amendemen UUD 1945 pasca-Reformasi. Kita berusaha untuk menulis kembali cetak biru dan mempertegas alasan kehadiran (raison d(raison detre) Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi semua warga bangsa yang berlindung dalam naungannya.

Dalam perjalanannya, cetak biru itu harus berdialektika dengan realitas dan ekspektasi yang terus berubah. Kini kita harus menjaga stamina agar negara dan warganya tidak kehabisan tenaga untuk menuntaskan transisi demokrasi karena janji perbaikan hidup sebagian belum terwujud.

Karena itu, kita harus bekerja bersama menuntaskan transisi demokrasi dan menghindarkan Indonesia dari jebakan transisi berkepanjangan (prolonged transition), di mana nilai dan sistem lama telah dihancurkan namun nilai dan sistem baru belum terbangun, atau belum mampu menghasilkan kehidupan lebih baik sebagaimana yang dijanjikan.

Jebakan transisi berkepanjangan ini membutuhkan pemimpin yang mampu memecah kebuntuan situasi sekaligus menjaga api harapan tetap menyala untuk mencapai garis tujuan.

Demokrasi “Media-Sentris”

Kita tengah berada di era “demokrasi melalui media” di mana media memegang peran penting dalam mentransmisikan pesan ke dan dari masyarakat. Media telah menghablurkan batas antara realitas yang kita alami sendiri dan realitas yang kita serap dari media. Hari ini orang yang tidak tinggal di Jakarta bisa bercerita tentang macetnya Jakarta akibat pengetahuan yang diserapnya dari media.

Ini juga yang mempengaruhi ruang politik kita. Media berperan sangat penting karena media tidak semata mempresentasi realitas, tetapi merepresentasi (mewakilkan hadirnya) realitas ke depan khalayak. Menurut ahli kajian media David Buckingham (2010), media tidaklah menawarkan jendela bening tembus pandang untuk melihat “dunia”, namun menghadirkan sebuah “dunia” dalam versi yang telah dimediasi.

Media bukan menyediakan kacamata atau teropong, tapi menghadirkan akuarium sehingga kita beranggapan bahwa akuarium itulah keseluruhan dunia ini. Yang terserak di luar akuarium dianggap tidak penting dan bermakna. Logika media (terutama televisi/ tv) adalah “menonton dan ditonton” dengan dikotomi peran pasif-aktif yang semakin kabur, terutama dalam konteks pemilihan umum.

Penonton yang selama ini dinilai pasif dan tidak berdaya, dalam politik menjadi berdaya karena dialah pemilik suara yang diperebutkan. Sementara, para tokoh politik yang diimajikan berkuasa, sebenarnya sedang memainkan pertunjukan yang naskahnya didiktekan oleh massa rakyat melalui survei opini publik. Dalam situasi “media-sentris” seperti ini, sangat mudah orang terjebak untuk menjadi penghibur bagi penonton.

Tokoh-tokoh politik menyajikan tontonan yang menyenangkan hati penontonnya, melalui suatu pertunjukan buatan. Apa yang dipertontonkan belakangan ini tentu berbeda makna dan motivasinya dengan, misalnya, kebiasaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX keliling Yogyakarta pada malam hingga subuh. Pada suatu kesempatan beliau memberi tumpangan kepada seorang mbok pasar.

Ketika sampai di pasar, orang-orang memberi tahu mbok bahwa yang memberinya tumpangan adalah Ngarsa Dalem. Langsung mbok itu pingsan! Tidak ada media yang meliput, tapi cerita itu hidup sampai sekarang. Cerita yang otentik, nyata, bukan pertunjukan. Masyarakat umum mengetahuinya belasan tahun kemudian melalui buku Takhta Untuk Rakyat.

Karena dikendalikan dengan logika hiburan, bukan otentisitas, tokoh politik terjebak untuk menyederhanakan masalah dan cara penyelesaian masalah. Ini tak terelakkan karena dalam demokrasi media- sentris, durasi, jam tayang, prime time, sound byte menjadi indikator utama. Pesan pemimpin dikemas mirip iklan yang renyah dan berdimensi tunggal agar mudah diingat tanpa elaborasi yang mendalam.

Gagasan Pemimpin

Di tengah arus media-sentris itu, kita kekurangan kesempatan menelaah gagasan pemimpin secara mendalam. Ruang-ruang publik yang didominasi logika media dan budaya instan berpotensi melahirkan figur pemimpin penghibur yang membuat kita tertawa sejenak meskipun masalah tetap menggunung.

Pemimpin penghibur tidak mengajak penontonnya berkerut kening karena yang ditawarkan adalah keceriaan sesaat—tanpa memikirkan bagaimana besok atau lusa. Pemimpin penghibur tidak menawarkan masa depan karena yang penting baginya adalah hari ini. Pemimpin penghibur juga kerap khawatir penontonnya berpaling mencari tontonan lain yang lebih menghibur.

Mirip logika rating dalam industri sinetron. Indonesia tidak membutuhkan pemimpin penghibur atau pemimpin sinetron. Kita sudah melewati sejumlah krisis dan kini tengah bersiap untuk naik kelas dari negara skala menengah menjadi negara kuat dalam ukuran ekonomi dan pengaruh geopolitik.

Kondisi itu akan tercapai jika kita berhasil menuntaskan transisi demokrasi dan menghasilkan negarabangsa yang kuat dan demokratis. Yang dibutuhkan adalah pemimpin penyala harapan, bukan penyaji hiburan, bahwa hari esok yang lebih baik akan datang jika kita mau bekerja keras, bukan dengan tertawatawa sejenak.

Peran penting pemimpin adalah menciptakan “state of mind” atau situasi psikologis di dalam masyarakatnya dengan cara melahirkan dan mengartikulasikan tujuan yang menggerakkan orang dari kepentingan mereka sendiri menuju kepentingan bersama yang lebih tinggi. (JW Gardner, 1988).Kita membutuhkan lebih banyak ruang lagi untuk mendengarkan gagasan pemimpin untuk mendapat harapan, bukan hiburan.[]

*Koran SINDO (Opini, edisi 19/6/2014)



Harapan atau Hiburan? | By @anismatta

Pengujung transisi menuju demokrasi adalah situasi yang khas: ekspektasi akan hidup yang lebih baik kian membuncah tapi pada saat yang sama energi dan euforia– bahkan kesabaran–sudah menyurut.

Fase pungkas transisi, yaitu konsolidasi demokrasi, adalah jalan sepi yang ditempuh dengan ketekunan, bukan panggung ingar-bingar penuh deklamasi. Dalam tahap ini diperlukan pemimpin yang mampu menggerakkan sekaligus mendorong rakyat, agar mau melangkah lagi agar tujuan transisi, yaitu demokrasi yang sejati dapat tercapai. Itulah yang kini terjadi di Indonesia. Pemilu demokratis sudah tiga kali kita lewati dan kini kita tengah melaksanakan pemilu demokratis keempat dengan ekosistem politik yang jauh lebih stabil.

Kita telah berusaha merumuskan arah yang ingin dituju agar transisi ini tidak menjadi jalan berputar atau–malah lebih parah–berputar-putar tanpa arah. Tantangan itulah yang coba dijawab dalam Sidang Umum MPR dan proses amendemen UUD 1945 pasca-Reformasi. Kita berusaha untuk menulis kembali cetak biru dan mempertegas alasan kehadiran (raison d(raison detre) Negara Kesatuan Republik Indonesia bagi semua warga bangsa yang berlindung dalam naungannya.

Dalam perjalanannya, cetak biru itu harus berdialektika dengan realitas dan ekspektasi yang terus berubah. Kini kita harus menjaga stamina agar negara dan warganya tidak kehabisan tenaga untuk menuntaskan transisi demokrasi karena janji perbaikan hidup sebagian belum terwujud.

Karena itu, kita harus bekerja bersama menuntaskan transisi demokrasi dan menghindarkan Indonesia dari jebakan transisi berkepanjangan (prolonged transition), di mana nilai dan sistem lama telah dihancurkan namun nilai dan sistem baru belum terbangun, atau belum mampu menghasilkan kehidupan lebih baik sebagaimana yang dijanjikan.

Jebakan transisi berkepanjangan ini membutuhkan pemimpin yang mampu memecah kebuntuan situasi sekaligus menjaga api harapan tetap menyala untuk mencapai garis tujuan.

Demokrasi “Media-Sentris”

Kita tengah berada di era “demokrasi melalui media” di mana media memegang peran penting dalam mentransmisikan pesan ke dan dari masyarakat. Media telah menghablurkan batas antara realitas yang kita alami sendiri dan realitas yang kita serap dari media. Hari ini orang yang tidak tinggal di Jakarta bisa bercerita tentang macetnya Jakarta akibat pengetahuan yang diserapnya dari media.

Ini juga yang mempengaruhi ruang politik kita. Media berperan sangat penting karena media tidak semata mempresentasi realitas, tetapi merepresentasi (mewakilkan hadirnya) realitas ke depan khalayak. Menurut ahli kajian media David Buckingham (2010), media tidaklah menawarkan jendela bening tembus pandang untuk melihat “dunia”, namun menghadirkan sebuah “dunia” dalam versi yang telah dimediasi.

Media bukan menyediakan kacamata atau teropong, tapi menghadirkan akuarium sehingga kita beranggapan bahwa akuarium itulah keseluruhan dunia ini. Yang terserak di luar akuarium dianggap tidak penting dan bermakna. Logika media (terutama televisi/ tv) adalah “menonton dan ditonton” dengan dikotomi peran pasif-aktif yang semakin kabur, terutama dalam konteks pemilihan umum.

Penonton yang selama ini dinilai pasif dan tidak berdaya, dalam politik menjadi berdaya karena dialah pemilik suara yang diperebutkan. Sementara, para tokoh politik yang diimajikan berkuasa, sebenarnya sedang memainkan pertunjukan yang naskahnya didiktekan oleh massa rakyat melalui survei opini publik. Dalam situasi “media-sentris” seperti ini, sangat mudah orang terjebak untuk menjadi penghibur bagi penonton.

Tokoh-tokoh politik menyajikan tontonan yang menyenangkan hati penontonnya, melalui suatu pertunjukan buatan. Apa yang dipertontonkan belakangan ini tentu berbeda makna dan motivasinya dengan, misalnya, kebiasaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX keliling Yogyakarta pada malam hingga subuh. Pada suatu kesempatan beliau memberi tumpangan kepada seorang mbok pasar.

Ketika sampai di pasar, orang-orang memberi tahu mbok bahwa yang memberinya tumpangan adalah Ngarsa Dalem. Langsung mbok itu pingsan! Tidak ada media yang meliput, tapi cerita itu hidup sampai sekarang. Cerita yang otentik, nyata, bukan pertunjukan. Masyarakat umum mengetahuinya belasan tahun kemudian melalui buku Takhta Untuk Rakyat.

Karena dikendalikan dengan logika hiburan, bukan otentisitas, tokoh politik terjebak untuk menyederhanakan masalah dan cara penyelesaian masalah. Ini tak terelakkan karena dalam demokrasi media- sentris, durasi, jam tayang, prime time, sound byte menjadi indikator utama. Pesan pemimpin dikemas mirip iklan yang renyah dan berdimensi tunggal agar mudah diingat tanpa elaborasi yang mendalam.

Gagasan Pemimpin

Di tengah arus media-sentris itu, kita kekurangan kesempatan menelaah gagasan pemimpin secara mendalam. Ruang-ruang publik yang didominasi logika media dan budaya instan berpotensi melahirkan figur pemimpin penghibur yang membuat kita tertawa sejenak meskipun masalah tetap menggunung.

Pemimpin penghibur tidak mengajak penontonnya berkerut kening karena yang ditawarkan adalah keceriaan sesaat—tanpa memikirkan bagaimana besok atau lusa. Pemimpin penghibur tidak menawarkan masa depan karena yang penting baginya adalah hari ini. Pemimpin penghibur juga kerap khawatir penontonnya berpaling mencari tontonan lain yang lebih menghibur.

Mirip logika rating dalam industri sinetron. Indonesia tidak membutuhkan pemimpin penghibur atau pemimpin sinetron. Kita sudah melewati sejumlah krisis dan kini tengah bersiap untuk naik kelas dari negara skala menengah menjadi negara kuat dalam ukuran ekonomi dan pengaruh geopolitik.

Kondisi itu akan tercapai jika kita berhasil menuntaskan transisi demokrasi dan menghasilkan negarabangsa yang kuat dan demokratis. Yang dibutuhkan adalah pemimpin penyala harapan, bukan penyaji hiburan, bahwa hari esok yang lebih baik akan datang jika kita mau bekerja keras, bukan dengan tertawatawa sejenak.

Peran penting pemimpin adalah menciptakan “state of mind” atau situasi psikologis di dalam masyarakatnya dengan cara melahirkan dan mengartikulasikan tujuan yang menggerakkan orang dari kepentingan mereka sendiri menuju kepentingan bersama yang lebih tinggi. (JW Gardner, 1988).Kita membutuhkan lebih banyak ruang lagi untuk mendengarkan gagasan pemimpin untuk mendapat harapan, bukan hiburan.[koran-sindo]

Anis Matta
Presiden Partai Keadilan Sejahtera

Anis Nilai Prabowo Sosok yang "Keras Kepala"

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta menilai calon presiden Republik Indonesia Prabowo subianto adalah sosok yang "keras kepala" karena kembali ingin membenahi negeri ini dengan menghadapi semua hinaan dan cibiran.

"Yang menarik, Prabowo justru “keras kepala”, kembali ingin membenahi negeri ini. Dihadapi semua hinaan dan cibiran," tulis Anis pada akun Twitternya @anismatta.

Menurut Anis, Prabowo Subianto merupakan sosok pemimpin yang tepat untuk Indonesia hari ini dan Prabowo juga merupakan contoh orang yang terpanggil untuk membenahi Indonesia karena cintanya.

"Saya ingin mengelaborasi mengapa Prabowo adalah sosok pemimpin yang tepat untuk Indonesia hari ini. Bagi saya, Prabowo adalah contoh orang yang terpanggil untuk membenahi Indonesia, karena cintanya," katanya.

Karena keterpanggilan itu, kata Anis, Prabowo mau meninggalkan hidupnya yang nyaman dan bersusah-payah berkubang di politik. Keterpanggilan itu dinyatakan secara terbuka dengan menyatakan mencalonkan diri sebagai presiden dan melontarkan gagasan sejak awal.

"Saya mengapresiasi keterbukaan Prabowo. Lebih baik terbuka dan jujur ketimbang menutup-nutupi diri dengan basa-basi dan kepalsuan," lanjutnya.

Menurut Anis, Indonesia hari ini membutuhkan pemimpin yang berkata dan bertindak benar, bukan berkata dan bertindak sekedar menyenangkan orang banyak.

"Sudah waktunya Indonesia keluar dari perangkap popularitas kemasan dan melangkah menuju kerja keras yang sejati. Yang benar harus dikatakan, walaupun pahit, bukan sekedar melakukan hal-hal yang mengundang tepuk tangan," ungkapnya.

Anis juga mengatakan, sudah waktunya kita memandang pemimpin tidak dengan imajinasi kesempurnaan. Pemimpin bukan figur imajiner. Pemimpin adalah makhluk historis dengan segala kelebihan dan kekurangannya tapi kita percaya dia mampu memimpin kita.

"Prabowo telah membuktikan inisiatif, kelugasan bertindak didasari pada keterpanggilan di tahun 98. Walau kemudian inisiatif itu dinilai salah, ia tanggung penilaian salah itu sendiri," ujar Anis.

Anis menilai, tindakan memiliki dimensi ruang dan waktu. Tindakan yang dianggap benar bisa dinilai salah pada waktu yang lain.

"Dari situ saya belajar tentang karakter kepemimpinan dan patriotisme, yang kadang berujung pahit. Dicap salah. Prabowo telah membayar penilaian pihak lain yang menganggapnya salah. Pihak yang punya otoritas dan kekuasaan. Dia tidak lari dan tidak lantas membenci negeri ini," urai Anis.

"Kalau kata anak gaul, Prabowo sudah move on. Masa lalu ada di belakang. Yang disambut adalah masa depan. Karakter kepemimpinan Prabowo tepat dengan kebutuhan hari ini. Tegas, berinisiatif, terbuka dan tidak berlindung dengan basa-basi," ungkapnya.

Dari sikap Prabowo ini, kata Anis, mungkin ada yang tidak menyenangkan dan menghibur, tapi yang kita butuhkan adalah pemimpin, bukan penghibur. Kita sudah cukup belajar tentang pemimpin yang ingin menyenangkan orang banyak. Sikap yang malah membuat ketidakpastian dan kepalsuan," katanya.

Anis mengatakan, Indonesia mnghadapi tantangan yang makin kompleks dan nyata. Secara geopolitik dan ekonomi internasional, juga dari dinamika demografi. Indonesia harus mampu melindungi warga negaranya di tengah arus orang, barang dan kapital yang semakin bebas dan terbuka.

"Indonesia harus membuktikan bahwa dirinya bukanlah “negara gagal” dan bangsa yang rapuh," tegas Anis.

Masih banyak lagi tantangan yang harus dijawab dengan kepemimpinan oleh seorang yang demokratis sekaligus berkepribadian kuat. Dijawab oleh pemimpin yang berani mengatakan yang tidak enak, bukan yang hanya menggampangkan masalah untuk sekedar penghiburan dan tepuk tangan.

"Indonesia membutuhkan pemimpin yang mengatakan dirinya berniat memimpin dan karenanya memikirkan gagasan. Kita tidak butuh orang yang pura-pura tidak mau jadi presiden, dan karenanya tidak punya gagasan yang ditawarkan. Mungkin Prabowo bukan yang terbaik, tapi dia adalah sosok yang tepat untuk Indonesia hari ini," katanya.

Anis mengatakan hal itulah yang membuat dirinya memilih Prabowo, karena Indonesia membutuhkannya dan respek hatinya karena motif dan niatnya yang benar.

"Saya percaya Prabowo karena melihat perpaduan sikap terbuka dan demokratis dengan kepribadian yang kuat. Prabowo tepat untuk Indonesia. Kobarkan semangat Indonesia," pungkas Anis.[dm/pksnongsa.org]

Anis Matta: Karena Cinta, Prabowo Terpanggil untuk Benahi Indonesia

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta menilai sosok calon presiden Prabowo Subianto merupakan sosok pemimpin yang tepat untuk Indonesia hari ini. Menurut Anis, Prabowo juga merupakan contoh orang yang terpanggil untuk membenahi Indonesia karena cintanya.

"Saya ingin mengelaborasi mengapa Prabowo adalah sosok pemimpin yang tepat untuk Indonesia hari ini. Bagi saya, Prabowo adalah contoh orang yang terpanggil untuk membenahi Indonesia, karena cintanya," tulis Anis pada akun Twitternya @anismatta.

Karena keterpanggilan itu, kata Anis, Prabowo mau meninggalkan hidupnya yang nyaman dan bersusah-payah berkubang di politik. Keterpanggilan itu dinyatakan secara terbuka dengan menyatakan mencalonkan diri sebagai presiden dan melontarkan gagasan sejak awal.

"Saya mengapresiasi keterbukaan Prabowo. Lebih baik terbuka dan jujur ketimbang menutup-nutupi diri dengan basa-basi dan kepalsuan," katanya.

Menurut Anis, Indonesia hari ini membutuhkan pemimpin yang berkata dan bertindak benar, bukan berkata dan bertindak sekedar menyenangkan orang banyak.

"Sudah waktunya Indonesia keluar dari perangkap popularitas kemasan dan melangkah menuju kerja keras yang sejati. Yang benar harus dikatakan, walaupun pahit, bukan sekedar melakukan hal-hal yang mengundang tepuk tangan," ungkapnya.

Anis juga mengatakan, sudah waktunya kita memandang pemimpin tidak dengan imajinasi kesempurnaan. emimpin bukan figur imajiner. Pemimpin adalah makhluk historis dengan segala kelebihan dan kekurangannya tapi kita percaya dia mampu memimpin kita.

"Prabowo telah membuktikan inisiatif, kelugasan bertindak didasari pada keterpanggilan di tahun 98.
Walau kemudian inisiatif itu dinilai salah, ia tanggung penilaian salah itu sendiri," ujar Anis.

Anis menilai, tindakan memiliki dimensi ruang dan waktu. Tindakan yang dianggap benar bisa dinilai salah pada waktu yang lain.

"Dari situ saya belajar tentang karakter kepemimpinan dan patriotisme, yang kadang berujung pahit. Dicap salah. Prabowo telah membayar penilaian pihak lain yang menganggapnya salah. Pihak yang punya otoritas dan kekuasaan. Dia tidak lari dan tidak lantas membenci negeri ini," urai Anis.

Yang menarik menurut Anis, Prabowo justru “keras kepala”, kembali ingin membenahi negeri ini. Dihadapi semua hinaan dan cibiran.

"Kalau kata anak gaul, Prabowo sudah “move on”. Masa lalu ada di belakang. Yang disambut adalah masa depan. Karakter kepemimpinan Prabowo tepat dengan kebutuhan hari ini. Tegas, berinisiatif, terbuka dan tidak berlindung dengan basa-basi," katanya.

Dari sikap Prabowo ini, kata Anis, mungkin ada yang tidak menyenangkan dan menghibur, tapi yang kita butuhkan adalah pemimpin, bukan penghibur. Kita sudah cukup belajar tentang pemimpin yang ingin menyenangkan orang banyak. Sikap yang malah membuat ketidakpastian dan kepalsuan," katanya.

Anis mengatakan, Indonesia mnghadapi tantangan yang makin kompleks dan nyata. Secara geopolitik dan ekonomi internasional, juga dari dinamika demografi. Indonesia harus mampu melindungi warga negaranya di tengah arus orang, barang dan kapital yang semakin bebas dan terbuka.

"Indonesia harus membuktikan bahwa dirinya bukanlah “negara gagal” dan bangsa yang rapuh," tegas Anis.

Masih banyak lagi tantangan yang harus dijawab dengan kepemimpinan oleh seorang yang demokratis sekaligus berkepribadian kuat. Dijawab oleh pemimpin yang berani mengatakan yang tidak enak, bukan yang hanya menggampangkan masalah untuk sekedar penghiburan dan tepuk tangan.

"Indonesia membutuhkan pemimpin yang mengatakan dirinya berniat memimpin dan karenanya memikirkan gagasan. Kita tidak butuh orang yang pura-pura tidak mau jadi presiden, dan karenanya tidak punya gagasan yang ditawarkan. Mungkin Prabowo bukan yang terbaik, tapi dia adalah sosok yang tepat untuk Indonesia hari ini," katanya.

Anis mengatakan hal itulah yang membuat dirinya memilih Prabowo, karena Indonesia membutuhkannya dan respek hatinya karena motif dan niatnya yang benar.

"Saya percaya Prabowo karena melihat perpaduan sikap terbuka dan demokratis dengan kepribadian yang kuat. Prabowo tepat untuk Indonesia. Kobarkan semangat Indonesia," pungkas Anis.[dm/pksnongsa.org]

Menuntaskan Transisi Demokrasi | By @anismatta

Pemilihan umum 2014 harus menjadi tonggak sejarah penting tuntasnya transisi menuju demokrasi yang kita mulai sejak 1998. Karena itu, pemilihan presiden yang akan segera berlangsung bukan saja merupakan momentum politik biasa –dalam konteks siklus demokrasi– melainkan momentum sejarah untuk Indonesia naik kelas menjadi negara demokrasi yang lebih stabil dan fundamental.

Hasil pemilu legislatif menunjukkan fenomena yang mengejutkan bagi sebagian kalangan. Riuh rendah hasil survei menjelang pelaksanaan kampanye pileg memang sempat memberi kesan bahwa perlombaan sudah berakhir bahkan sebelum pemilu dimulai. Elektabilitas partai dan figur seolah sudah dipatok oleh jawaban responden survei. Belum lagi elemen baru yang makin ikut berperan meramaikan ranah politik: media sosial. Seolah-olah pemilihan umum sudah usai dan presiden sudah terpilih. Ternyata belum. Hasil hitung cepat (quick count) berbagai lembaga menunjukkan pembagian suara yang relatif merata, datar (flat) dan terfragmentasi.

Hitungan ini dikonfirmasi oleh hasil penghitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Kita menyaksikan bahkan pemenang pemilu legislatif belum bisa melenggang mencalonkan kandidat presidennya sendiri. Hal-hal yang selama ini taken for granted sebagai rumus kemenangan, ternyata tidak terjadi. Misalnya efek figur terhadap partai, atau pimpinan partai yang juga pemilik media sehingga lebih mudah melakukan “serangan udara”, pencitraan lewat orkestrasi pemberitaan di media, dan belanja iklan yang fantastis, ternyata tidak otomatis berbuah perolehan suara yang luar biasa pada saat pemungutan suara.

Bisa dibilang tidak ada hal luar biasa pada Pemilu 2014 ini. Tidak ada kemenangan mudah dalam pertandingan ini. Pada 2004, kita masih melihat ke-luarbiasaan, Partai Demokrat yang meraih 7% berhasil mengegolkan Susilo Bambang Yudhoyono. Pada 2009, giliran figur Yudhoyono yang mengerek perolehan suara Demokrat. Pada 1999, Golkar yang dihujat oleh gerakan Reformasi ternyata masih survive, bahkan meraih suara nomor dua tepat di bawah PDI Perjuangan yang dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap Orde Baru, bahkan Golkar kemudian meraih suara terbanyak pada Pemilu 2004. Ha l - h a l luar biasa tidak terjadi di Pemilu Legislatif 2014. Tidak ada partai yang meraih suara sangat dominan, tidak ada figur yang fenomenal hingga mampu mengerek perolehan suara partainya. Apa yang terjadi?

Ekosistem Politik yang Lebih Stabil 

Pemilu Legislatif 2014 menunjukkan ekosistem politik yang lebih stabil dan publik pemilih yang tidak “kaget-kagetan” dengan segala manuver berbagai partai politik. Publikasi hasil survei tidak mampu menghasilkan “bandwagon effect” (efek menarik suara) karena pemilih sudah mampu membedakan antara pemilu legislatif dan pemilihan presiden. Bisa dibilang, ekosistem politik kita sudah mampu melakukan “containment” (kemampuan membendung ledakan pengaruh) dan mendistribusi guncangan ledakan itu merata ke seluruh sendi-sendi ekosistem tersebut.

Itu yang tampak dari publik yang tidak kagetan dan mampu melakukan penyaringan informasi di tengah bombardir iklan dan berita. Efek figur yang populer, pencitraan media, belanja iklan, semua itu menjadi faktor yang kontribusinya proporsional saja dari sekian banyak faktor yang dibutuhkan dalam memenangkan pemilu. Memiliki satu atau dua dari sejumlah faktor itu tidak serta-merta menghasilkan kemenangan yang mudah. Dari sini kita belajar bahwa mesin partai, kader, figur, belanja iklan, dan kekuatan finansial, serta faktor-faktor lain adalah bahan mentah yang perlu diracik oleh seorang koki andal untuk membuahkan hasil yang optimal.

Kita menyaksikan masyarakat sipil semakin independen dan berdaya. Tidak ada lagi “politik grosiran”, di mana dukungan diraih dengan hanya memengaruhi pemimpinpemimpin kelompok sosial. Individu semakin menunjukkan jati dirinya. Mereka ingin berpartisipasi tetapi juga tidak ingin pesta demokrasi ini dibajak oleh oligarki elite. Itu yang bisa kita baca dari maraknya partisipasi masyarakat kelas menengah dalam ajakan untuk tidak golput, sambil tetap “dengan galak” meminta pertanggungjawaban dan akuntabilitas dari partai politik dan calon anggota legislatif. Inilah fenomena masyarakat dalam gelombang ketiga sejarah Indonesia.

Setelah sebelumnya dalam gelombang pertama, kita menjadi Indonesia dengan puncaknya pada Proklamasi Kemerdekaan 1945, dan gelombang kedua kita menjadi negara-bangsa modern yang ditandai dengan Reformasi 1998 dan transisi demokrasi, maka pada 2014 ini kita memasuki gelombang ketiga dengan agenda utama memantapkan budaya demokrasi.

Memantapkan Budaya Demokrasi 

Reformasi 1998 dapat disimpulkan sebagai sintesis dari dialektika antara tesis Orde Lama yang dilawan oleh antitesis Orde Baru. Perdebatan dalam relasi antara negara dan agama, polemik kebebasan vs kesejahteraan dan integrasi nasional vs otonomi daerah, telah mengerucut pada kesimpulankesimpulan yang kita dapat selama transisi dari 1998 hingga Pemilu 2014 ini. Dalam perspektif sejarah, Pemilu 2014 ini merupakan tonggak di mana kita menjalankan satu set penuh prosedur demokrasi: pemilihan umum langsung, dan presiden yang berkuasa secara maksimal dalam kerangka waktu konstitusional (dua periode) tanpa ancaman tindakan nondemokratis, dan–mudah-mudahan– serah terima jabatan presiden yang berlangsung secara damai dengan transisi pemerintahan yang mulus.

Demokrasi prosedural baru dapat memastikan kepatuhan terhadap proses dengan harapan prosedur yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula. Prosedur demokrasi baru bicara pada basis legitimasi. Kini saatnya kita melangkah pada substansi demokrasi, yaitu berbicara kemanfaatan sebuah proses dan sistem demokrasi bagi manusia. Demokrasi sebagai budaya artinya nilai-nilai demokratis dijadikan rujukan dalam kita bertindak dan bertingkah laku. Demokrasi bukan sekadar sistem yang mekanistik, melainkan juga menjadi cara menyelesaikan masalah, alat untuk menavigasi kehidupan, yang kita anggap tepat dan karenanya perlu dipertahankan.

Memantapkan budaya demokrasi berarti menggali lebih dalam substansi nilai-nilai sejati demokrasi sambil tetap menjaga sikap terbuka untuk mengkritik dan memperbaikinya. Tidak ada sistem yang sempurna, yang ada adalah sistem yang dirasa tepat untuk menyelesaikan masalah dalam jangka waktu tertentu. Revisi dan koreksi terhadap praktek demokrasi akan semakin memantapkannya. Semoga Pemilu 2014 ini benar-benar merupakan tonggak dituntaskannya transisi demokrasi yang sudah berjalan 16 tahun.

Pemilihan presiden harus menjadi perdebatan gagasan tentang bagaimana kita membangun demokrasi yang mampu menghasilkan faedah bagi rakyat, bukan sekadar pesta pencitraan dan kontes figur penghibur yang menyenangkan tapi melenakan rakyat dari masalah sebenarnya. Semoga kita dapat melangkah ke masa depan dengan demokrasi yang lebih mantap, lebih mampu menghasilkan keadilan dan kesejahteraan untuk seluruh rakyat Indonesia. 

ANIS MATTA
Presiden Partai Keadilan Sejahtera

Sumber: koran-sindo.com

Anis Matta : Nomor Satu Tanda Kebaikan


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Anis Matta menanggapi soal nomor urut satu yang didapatkan pasangan capres dan wapres Prabowo Subianto-Hatta Rajasa untuk Pilpres 9 Juli 2014.

"Mudah-mudahan itu tanda kebaikan. Insya Allah berpengaruh," ujar Anis di Gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta (Minggu, 1/6).

Ia menjelaskan Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa dan Tunggal. Dia menyukai angka ganjil (satu).  Oleh karena itu, Anis merasa nomor itu merupakan pertanda Prabowo akan menjadi pemimpin nomor satu di Tanah Air dan keluar sebagai pemenang dalam pilpres mendatang.

"Capres kita akan menjadi nomor satu," sebutnya.

Anis mengungkapkan PKS mendukung Prabowo sepenuhnya dan akan turun ke lapangan mengikuti kampanye. PKS akan menggunakan struktur dan jaringannya, termasuk kepala daerah untuk memenangkan Prabowo-Hatta. [rmol]

"Representasi Politik Umat Islam" | Oleh Anis Matta



Twit @anismatta

Alhamdulillah, para capres-cawapres sudah resmi terdaftar.. Saatnya memasuki kompetisi yang riil dan sehat..

Sebelumnya sy sdh membahas ttg Islam & Politik di Indonesia.. Kajian yg selalu menarik..

Umat Islam yg jumlahnya banyak adalah fakta sosiologis yg bertransformasi menjadi agregasi aspirasi politik..

Umat Islam sosiologis itu butuh representasi dlm pengelolaan hidup bersama dlm kerangka nation-state ini..

Karena itu umat Islam selalu hadir dlm milestone penting kehidupan berbangsa dan bernegara..

Wajar pula jika umat Islam terlibat dlm pemerintahan dari waktu ke waktu..

Ini penting untuk membangun keseimbangan politik yg sehat..

Demokrasi meniscayakan perwakilan kelompok-kelompok aspirasi politik dan sosial.. Kelompok sosiologis pasti mewarnai percaturan politik..

Di AS yg disebut sbg cth demokrasi, kt bs lht pngaruh warna WASP (white,anglo-saxon,protestant) dlm politik.. Bgtu jg di Malaysia, misalnya..

Orde Baru merusak tatanan keseimbangan alami itu melalui rekayasa politik..

Rekayasa politik: fusi partai, azas tunggal dan marginalisasi kelompok2 Islam yg dianggap tak sejalan..

Setelah Reformasi, gerbang kebebasan terbuka, keseimbangan itu mulai terbentuk kembali dgn sejumlah perubahan..

Umat Islam mengalami transformasi.. Expresi keislamannya tidak semata politik, tetapi identitas..

Politik aliran (abangan, priyayi, santri) tidak lagi punya akar sosial..

Yang tetap adlh fakta sosiologis bahwa umat Islam, juga umat beragama dan kelompok sosial lainnya, memerlukan representasi politik..

Representasi politik ini dibutuhkan sebagai bentuk partisipasi dan agregasi aspirasi..

Krn itu partai Islam, misalnya, dan ormas Islam, akan terus hadir dan mewarnai politik Indonesia, sesuai dgn perkembangan zamannya..

Krn itu pula, kelompok Islam juga akan selalu berpartisipasi dan mewarnai pemerintahan dr waktu ke waktu.. Itu proses yg alamiah..

Jika sekarang kita lihat ada partai Islam di kedua kelompok pendukung capres, itu juga hal yg wajar dan alamiah..

Masing2 punya gagasan utk berpartisipasi dlm kehidupan berbangsa-bernegara..

Masing2 punya gagasan utk melanjutkan partisipasi & aspirasi umat Islam mewarnai pemerintahan ke depan..

Tinggal mari kita kompetisikan gagasan itu secara tajam dr segi pemikiran tp damai dlm penyampaian.. Fastabiqul khairat..

Selain berlomba2 dlm kebaikan, di manapun kita, kita harus saling mengingatkan akan kebaikan dan kesabaran..

Krn itu sy optimis kontribusi partai Islam, dan umat Islam scr umum, dlm pilpres ini akan ttp memberi warna yg positif bg Indonesia.. Amin..

Kobarkan semangat Indonesia!!

Anis Mata: Ada Getaran Indonesia Raya dari Wajah Prabowo-Hatta

Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta dengan suara lantang berbicara memberi sambutan dalam deklarasi Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa di Rumah Polonia yang berada di Jalan Cipinang Cempedak I/29, Otista, Jakarta Timur.

Dirinya menyebutkan, dukungan PKS terhadap pasangan tersebut yakin tak salah. Dalam kesempatan itu Anis mengajak seluruh tamu yang hadir, untuk melihat wajah Prabowo-Hatta.

"Insya Allah (menang), saya merasa tidak perlu menjelaskan alasanya tapi melihat wajah (Prabowo-Hatta) yang didukung dan dicintai. Apa anda merasakan getaran Indonesia Raya disitu?" ujar Anis kepada setiap tamu yang hadir, Senin (19/5/2014).

Seluruh hadirin yang datang pun menjawab serempak dengan kata 'bisa'. Mendapat jawaban seperti itu, Anis pun mengerti jika kemudian Partai Golongan Karya (Golkar) juga bergabung mendukung Prabowo-Hatta.

"Insya Allah malam hari Indonesia akan disinari rembulan dan bintang-bintang," ujarnya mengakhiri sambutan. (tribunnews)