News Update :

PKS 1

PKS 1

PKS 2

PKS 2

PKS 3

PKS 3

PKS 4

PKS 4

PKS 5

PKS 5

Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

[Cerpen] M a t a


BALIK ke kampung, setelah 27 tahun merantau di Praha, Cheko, membuat perasaan diaduk-aduk. Entah seperti apa bentuk kampungku sekarang. Ingatanku meloncat-loncat dari satu ingatan ke keping ingatan yang lain. Rindu yang lima tahun lalu hanya berupa putik, kini sudah menjadi buah masak. Kalau tak segera dipetik, ranumlah ia. Maka, sebelum terlanjur, kuteguhkan azam ini untuk pulang, melihat bumi tempat pertama kali kaki ini berpijak.
   
Pesawat yang kutumpangi melayang-layang di atas kota ini. 27 tahun lalu aku menyebutnya kampung. Tapi tampaknya tak lagi. Entahlah orang di sini. Dari ketinggian ini, aku melihat gedung tinggi, perkantoran, apartemen serta pusat perbelanjaan. Pilot memberi pengumuman tidak lama lagi pesawat akan mendarat. Tapi jantungku sudah berdegup-degup kencang. Pulang ke kota ini adalah impian puluhan tahun lalu, yang kini jadi nyata.
   
Tidak ada yang menyambutku. Dan aku pun tak minta dijemput. Sebenarnya aku ingin memberi kejutan kepada orang kampungku: Tajul, anak Isa bin Jumud yang sudah 27 tahun merantau di Eropa, kini balik kampung. Taksi biru ini menjadi saksi kegembiraanku. Tak dapat aku berkata-kata. Melainkan dada yang gemuruh, hati yang bergetar, napas yang naik turun mengatur keseimbangan.
   
Rumah pertama yang ingin kudatangi adalah rumah orangtuaku. Setelah itu baru aku ke jalan Kelapa, rumah Pri sahabatku waktu SMP. Besok, baru mendatangi orang tua-tua di kampung ini.
   
“Assalamualaikum...” Tak ada jawaban.
Kupandangi kiri dan kanan rumah. Lengang.
“Assalamualaikum! Ada orang?” Tetap tak ada balasan.
“Maak, bapaak... salamualaikuuum.”
   
Kudengar suara pintu berkiut, lalu bunyi langkah kaki. Seiring dengan itu terdengar suara batuk kering. Sesosok perempuan tua keluar meraba tangannya, seperti mencari-cari sesuatu.
   
“Mana tongkatku bang?”
“Tadi dekat lemari!”
“Tak ada, dimana awak letak tadi?”
“Di situlah, dekat lemari sebelah laut.”
“Ada suara orang, sayup-sayup terdengar. Siapa tu...?”

Perempuan tua ini tidak lain ibuku. Kerongkongan ini tiba-tiba tercekat melihat Mak dan Bapakku, kedua-duanya dalam keadaan buta. Badan seperti melayang, rasa tak sanggup menyaksikan:

“Mak...”

Kupeluk tubuh orangtua itu, tak sanggup lagi memendam haru menyaksikan keadaan orangtuaku dalam keadaan buta.

“Siapakah engkau ini?”
“Aku Tajul, Mak, anak emak yang merantau di Eropa, tak ingat lagikah emak dengan suaraku?”
“Bang...? abang, ke sinilah, Tajul dah pulang ni... sini cepat Bang!”
Suara emak mendesah, sangat lain dari yang pernah kudengar dulu.
“Siapa...? Tajul...?”

Seorang lelaki tua bertongkat keluar dari kamar. Tergopoh-gopoh hingga melanggar kursi yang melintang. “Engkaukah yang datang Jul?” Kerongkonganku semakin tercekat. Dadaku sebu tak terkira, melihat keadaan ini. Ternyata bapakku juga buta. Dulu Mak dan Bapakku semua sehat jasmani dan rohani. Kini mengapa jadi...b u t a a a a...!

Tak sempat aku bertanya apa yang membuat Emak dan Bapakku jadi begini, mereka lebih dulu bertanya:

“Tajul, bilo dikau sampai?”
“Baru sekejap tadi Mak.”
“Pakai apo engkau dari Pghaha?”
“Bukan Pghaha, Pak...! P r a h a.
“Ya, itulah. Pakai apo engkau dari Pghaha?”
“Pakai pesawat yang baru turun tadi, Pak.”
“Dah berapo tahun dikau tak balik, Jul?”
“Dah dekat 27 tahun. Mak dulu dan Bapak sehat belaka. Apa pasal jadi begini? Betulkah Mak dan Bapak tak dapat melihat?”

Sejenak rumah itu senyap. Sepi, bisu, bagai setan lewat melintas. Kulihat Mak tersenyum. Wajah Bapak datar saja. Mungkin masing-masing mengharapkan bukan dia yang menjawab, sehingga keduanya saling menunggu. Lama.
   
Tiba-tiba Bapak memecah kesenyapan itu.
   
“Naik, naiklah dulu, mungkin kau penat lama di perjalanan, istirahatlah dulu. Minum kopi? Bapak buatkan ya?”
   
“Tak usah payah-payah. Berjumpa dengan Mak dan Bapak saja, Jul sudah bahagia, jangan ditambah-tambah dengan kopi yang akan membuat hajap Bapak saja.”
“Apa pulak hajapnya. Kami ini... walau mata gelap memandang, tapi hati terang benderang,” ujar Mak sambil tersenyum kecil. Inilah senyum yang kubawa merantau 27 tahun yang lalu. Dan baru sekarang kulihat kembali.

Kulihat Bapak telah menghilang di balik dapur.

“Cobalah lihat kamar kau, tu, bersih atau macam kapal pecah?” tanya ibuku.
“Seperti kapal pecah Mak, siapa yang tidur di sini?”
“Adik kau si Sam, dia itu, tak tentu arah kerjanya,” rungutnya.
“Biarlah Mak, namanya budak bujang...”
“Siapa kata dia bujang. Sudah menikah pun dia, hanya dia saja yang “gila”, ikut-ikut pula menusuk ...”

Sampai di sini Emak berhenti.

“Menusuk apa Mak?”
“Tidak! Kelakuannya tak senonoh, sehingga bininya minta cerai...”

Bapak datang membawa teh untukku. Walau tadi dia bertanya: mau minum kopi, tapi dia tahu aku hanya minum teh.

“Bisa bikin teh dalam gelap” godaku.
“Rumah ini Bapak bangun sendiri. Jadi seluk beluknya sudah tahu betul. Tak mungkinlah kami tak tahu dimana letak saring teh,” kata Bapak. Tersenyum.

Inilah senyum laki-laki yang menggetarkan banyak gadis di kampung kami, dulu. Kini senyum itu sudah bercampur persoalan hidup yang aku tidak tahu. Suruhan agar aku beristirahat kuikuti. Memang badan ini terlalu letih melalui perjalanan 2 hari 2 malam dari kota Praha, sebuah kota indah di Cheko, daratan Eropa.

***
Pagi pertama.

Sebagai kebiasaan, aku lari-pagi usai sholat subuh. Terang beringsut merayapi kampung kami. Gelap malam terkelupas oleh cahaya fajar yang sebentar lagi berganti pagi.
   
Kulihat, ada keganjilan pada kampung ini. Semalam aku tak sempat bertanya: mengapa Mak dan Bapakku kedua-duanya buta, padahal dulu mata mereka sehat belaka. Kedua, sudah tiga orang kujumpai subuh ini, semua berjalan pakai tongkat.
   
Lah! ini Pak Haji Yusuf, yang dari dulu dikenal tak pernah lepas dari senyum, bertongkat pulang dari surau.
   
“Assalamualaikum Pak Haji.”
“Waalaikumsalam. Siapa ni pagi-pagi menegur kami?”
“Saya Tajul, anak Isa bin Jumud. Tak kenal lagikah dengan saya?”
“Apa pulak tak kenal. Dah berapa tahun kau tinggalkan kampung ini?”
“Waktu pergi dulu, saya masih kanak-kanak, sekarang dah jadi bapak-bapak,” gurau saya. Pak Haji Yusuf terkekeh, ketawa khasnya.
   
Kami berjalan searah. Kupegang tangan Pak Haji Yusuf dengan maksud membimbing dia berjalan. Namun dia menolak. “Saya dah hapal seluk beluk kampung ini. Tak payah kau bimbing, aku dapat berjalan sendiri,” ujarnya halus.
   
Mata hari menyembul dari celah pohon nyiur. Masyallah, seberapa banyak aku melihat orang di kampung ini, semuanya dalam keadaan buta. Astaghfirullah, apa sesungguhnya yang terjadi?

Ku pegang tangan Pak Haji Yusuf.

“Pak Haji, mohon jelaskan padaku, apa yang menyebabkan orang kampung ini buta semua?
   
Haji Yusuf kembali tersenyum. Tenang.
   
“Apa Mak dan Bapak kau tak cerita?”
“Belum sempat lagi Pak, terlalu petang aku tiba semalam, dan badanku kelelahan sehingga langsung lenyak. Ketika bangun subuh, mereka masih tidur, dan aku keluar olahraga,” jelasku terengah-engah.

Haji Yusuf tampak tenang, tak peduli pertanyaanku yang gelisah dan cenderung mendesaknya.
   
“Pulanglah dulu ke rumah engkau. Nanti Mak dan Bapakmu akan jelaskan.”
“Tak bisakah Pak Haji jelaskan sekarang?”
“Pulanglah dulu...”
   
Yah, apa boleh buat. Kutinggalkan Haji Yusuf, lalu melangkah ke Jalan Kelapa, menjumpai Pri, sahabatku sejak SMP. Karena kampung ini tidak terlalu besar, semua rumah dapat ditempuh berjalan kaki dalam sekejap.
   
“Ada Pri?” tanyaku kepada remaja yang sedang latihan menari zapin pagi itu. Tapi aku melihat keganjilan. Masya Allah... semua gadis-gadis ini buta.
   
“Wahai anak, mengapa semua kalian bermata buta? Dan yang lebih mengherankan lagi, tak adakah kesulitan kalian berlatih zapin, sedang mata tak dapat memandang?”
   
Salah seorang dari gadis itu menjawab:

“Yang buta kan mata lahir, Pak Cik, mata batin kami... hmm, terang benderang!” candanya. Semua penari buta itu tertawa-tawa keriangan. Mereka terus mengatur gerak langkah.
“Masuklah Pak Cik, Ngah Pri ada di dalam...” ujar seorang gadis yang wajahnya mirip dengan Tina, istri Pri.
   
“Salamualaikum... Pri!”
“Engkau tu, Tajul?” Kulihat Pri pun melangkah dengan mata tak dapat melihat. Berdesir darah ini melihat sahabatku ini pun bermata buta.
“Ya, lamo betul kito tak jumpo.”
“Ya, tapi aku masih kenal suara engkau.”

Tak habis diri ini diterjang bingung, ada apa sebenarnya yang terjadi, hampir seluruh isi kampung ini buta.
   
“Dikau pun buta, Pri. Sudah lelah aku dari semalam berjalan dan bertemu dengan seluruh isi kampung. Tak lain yang kutemui: orang buta... orang buta. Mengapa semua orang buta, Pri? Mengapa semua orang suka matanya buta, Pri? Dan mengapa semua orang tidak mau bercerita, Pri?” tanyaku hampir frustrasi.
   
“Bapak dan Mak dikau dah cerita?”
“Belum...”
“Pergilah pulang dulu, biar mereka yang menjelaskan, kami ini apalah, hanya mengikut...”
“Jadi, engkau pun tak mau cerita pada aku?”
“Bukan begitu, Tajul, desa ini sudah sepakat, hanya Mak dan Bapak dikau lah yang paling berhak menjelaskan persoalan ini. Aku bisa saja menjelaskan, tapi takut salah, nanti marah pula orang kampung.”
   
Kalau begitu aku harus pulang untuk menjumpai Mak dan Bapak. Tampaknya hal ini menjadi harus. Sebab mulai dari Pak Haji Yusuf, orang-orang yang berjual beli di pasar kampung, anak gadis yang latihan zapin, sampai sahabatku sendiri, Pri, semua tak mau menjelaskan mengapa semua menjadi buta. Dan mereka tidak pernah mengeluh, bahkan gembira, matanya buta.

***

“Assalamualaikum, Mak!”
“Masuklah... dari mana saja pagi-pagi buta?”
“Melihat-lihat kampung. Semua orang di kampung ini dah gila agaknya,” rungutku, sambil duduk di kursi tua, kursi makan orang di rumah ini.
“Kenapa pula?” tanya Mak menyanggah.
“Mulai dari Mak dan Bapak, sampai semua orang di kampung ini, tak satupun mau menjelaskan kenapa semua menjadi buta!”
   
Kulihat emakku tersenyum mendengar sungutku.
   
“Tak ada  engkau bertanya semalam,” goda Mak, tetap tersenyum.
   
Aku tak dapat berkutik. Memang benar, begitu selesai makam malam tadi, aku pun rebah, tak sadarkan diri sampai azan subuh tadi.
   
“Baiklah Mak... Sekarang saya nak bertanya. Oya, Bapak kemana?”
“Ke darat agaknya, menoreh getah...”
   
Seiris perasaan kecewa masuk ke hatiku. Inilah masa aku harus tahu, mengapa orangtuaku, sahabatku dan semua orang di kampung ini buta.
   
“Mak... saya kira Mak dan Bapak buta karena kecelakaan. Semalam aku tak sempat bertanya. Kini jawablah pertanyaanku: Mengapa mata Mak, Bapak dan semua orang di kampung ini, buta? Mengapa Mak...”
   
Kulihat orangtua itu tersenyum. Dia bangkit dari duduk, berjalan mengitari meja makan yang sudah menghitam.
   
“Tajul, kau keluar terlalu pagi.”
“Bukan itu pertanyaanku Mak,” potongku.
“Bukan begitu caranya kalau ingin penjelasan!” suara emakku tegas. Baru kali ini kudengar suaranya setegas itu. Ada degup kecil di dadaku.
“Kalau engkau keluar sekarang, tentu kau dapat melihat kampung kita dah jadi apa. Sekarang pergilah engkau keluar, lihatlah apa yang telah terjadi. Kau lihat dengan mata kepalamu sendiri. Setelah itu baru kita bicara. Bapakmu pun akan bicara. Semua orang kampung ini pun akan bicara. Sekarang pergilah...”
   
Tak ada pilihan. Aku mesti keluar, mengikuti saran orangtuaku. Dan melihat dengan mata kepalaku sendiri, dan mencari tahu, apa sesungguhnya yang menyebabkan semua orang di kampung ini menjadi buta.
   
Baiklah, aku harus mandi dulu, sebelum melakukan perjalanan kedua di hari ini. Udara yang dingin dan air yang sejuk mengingatkan aku pada hari raya, ketika dipaksa mandi subuh.
   
Emak menyiapkan sarapan lempeng sagu dan air teh. Selesai mandi aku seperti kembali ke masa kecil ketika sarapan dengan lempeng sagu dan teh manis hangat.

***
Matahari naik sepenggalah.

Orang-orang sudah keluar rumah. Kalau petang semalam dan subuh suasana masih seperti kampung, tapi sekarang tidak. Berbagai jenis manusia lalu lalang di kampung ini.
Yang berkulit putih, berkulit hitam dan berkulit kuning ada. Yang terbanyak tampaknya sawo matang. Kulit, rambut, bentuk wajah, tinggi badan, semua hampir sama dengan orang kampung kami.

Tapi bahasa mereka agak lain. Ups, bukan bahasa! Kalau bahasa dia punya rumpun kata yang jauh beda. Tapi ini dialek. Dialek mereka agak lain, lebih kasar. Dan rata-rata orang ini kurang sopan, kurang santun, kurang pandai menyesuaikan diri, kurang beradab, bahkan banyak yang kurang ajar.

Di Praha aku pun berjumpa dengan orang seperti ini. Dengan sok mereka bicara dengan dialek daerah mereka didepan hidung bule yang terheran-heran: kok masih ada manusia yang bicara keras-keras, tanpa menyadari betapa orang yang mendengarnya sangat-sangat muak, loyo, serasa ingin muntah.

Orang seperti inilah yang memenuhi kampung kami. Perilaku tak sopan yang sudah biasa mereka terapkan pada orang-orangtua mereka, ingin dilakukan di kampung ini. Malin Kundang anak durhaka, kini berserak di kampung ini.

Maka jadilah kampung ini daerah tak berperadaban. Mobil penumpang diisi sepenuh-penuh orang. Di mobil itu speaker yang mengeluarkan musik menghentak-hentak, berdentum-dentum sampai bergetar jantung di dada ini. Tak ada lagi keindahan sebuah kota.

Bersamaan dengan itu, para pemudanya pamer merokok sehingga mobil ini seperti dapur zaman dahulu, sebu oleh asap yang memedihkan mata.

Itu ketika berada di dalam mobil. Sebelumnya orang ditarik-tarik agar menaiki mobilnya, tak peduli apakah mobil jurusan itu yang akan dituju oleh orang yang ditarik.
Begitulah pukimmaknya mereka ini. Itu dari kalangan bawah.

Aku datangi toko dan kedai mereka berjualan. Pertama masuk mereka ramah-tamah. Tapi kalau batal membeli, semua keramahan tadi langsung berubah sinis dan ketus. Yang dari kalangan atas pun demikian. Hanya saja cara mainnya yang lebih tertutup.

Nah, kelompok inilah yang memenuhi kampung kami. Mereka datang dari sebuah wilayah yang tak berperadaban, masuk ke sebuah masyarakat yang halus budi pekerti dan mulia tingkah laku.

***

Pukul satu siang. Aku teringat kepada Nisa, anak Pri yang buta, yang sedang berlatih zapin. Betapa riangnya mereka, terlonjak-lonjak menyesuaikan langkah dengan irama empat kali empat sebagai rentak musik tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
Kemudian Pri sendiri yang amat mahir menggesek biola, sekalipun matanya buta. Kiki, anak laki-laki yang lincah bermain gambus, walau matanya buta. Dinda, anak bungsunya, masih digendong bundanya, juga buta. Pak Haji Yusuf yang juga buta, terlihat di kelopak ingatanku.

Dengan lunglai aku melangkah balik ke rumah.

Rasa hatiku – tadi – ingin bertanya kepada Mak dan Bapakku, mengapa mereka membutakan matanya. Dan bagaimana ceritanya sehingga seluruh penduduk di kampung ini buta semua.

Tapi tak payahlah. Aku sekarang sudah mengerti. Dan... dengan bismillah, kuambil sebatang buluh sebesar ibu jari, kuruncingkan, lalu kubenamkan tepat pada kedua bola mataku.

Dan kini semuanya menjadi terang ....

***

Pekanbaru, 2002

Oleh: Azmi R Fatwa
Anggota DPRD Bengkalis dari F-PKS

[Cerpen] Kota Kehancuran


UNTUNGLAH aku jadi berangkat pagi itu. Dengan menumpang pesawat pertama, akhirnya aku dapat bercerita di Kuala Lumpur ini, tentang apa yang terjadi pada kota kami. Jika tidak, tentu aku senasib dengan seluruh penduduk kota yang baru saja kutinggal.

Agaknya dapatlah aku berkata: Hanya aku satu-satunya saksi hidup yang dapat menceritakan ihwal yang menimpa kota kami dalam kadar sebenarnya. Sebab di pesawat, hanya aku sendiri yang berkulit sawo matang. Lain dari itu, bule, orang India, Cina, serta Arab. Rupanya, sehari sebelumnya mereka sudah diberitahu oleh konsulat negara masing-masing, agar sesegera mungkin meninggalkan kota kami.

Sedang aku di pesawat ini tidak lebih dari sekedar pelarian, membawa hati yang mati, tergilas oleh congkaknya arus yang mendesak, agar menghadapi sebuah kenyataan apa adanya. Detak hati ini menyuruhku pergi, meninggalkan semua kenangan terhadap peradaban kota yang telah membesarkan aku.

Yah, apa boleh buat, akhirnya bencana itu betul-betul menimpa kota kami. Yang membuat aku selamat dari kehancuran itu adalah selisih waktu 17 menit. Pesawat kami take off pukul 8.50. Sedangkan kehancuran itu terjadi pukul 9 lewat tujuh menit. Untuk mengucap syukur atas keselamatan ini, aku tak sampai hati, sebab hampir semua kerabatku berada di kehancuran itu.

Dari tingkap pesawat masih dapat aku lihat gumpalan badai mengangkat sebuah hotel tidak jauh dari kawasan gubernuran, persis seperti kotak korek api terbawa angin pusak. Dan tak seberapa jauh dari itu, aku lihat, kantor gubernur pun terangkat, dibawa angin, dan terhumban  ke sungai. Pesawat kami pun tampaknya harus hati-hati jika tidak ingin tertabrak oplet, bus kota atau taksi yang beterbangan...

***
   
Di ketinggian ini, pesawat kami hampir saja ditabrak oleh seperdua bangunan kantor walikota yang diterbangkan badai gila ini. Ketika bangunan terbang itu mendekat, semua di pesawat ini menahan napas. Wanita dan anak-anak menjerit-jerit ketakutan.

Seorang Arab mengeluarkan tasbih besarnya. Si Cina paling bising, entah apa yang diucapkannya. Si Bule yang kelihatannya lebih tenang dari yang lain, bibirnya pucat pasi. Dan entah mengapa, si India ketawa-ketawa saja, menggeleng-gelengkan kepala.
   
Atas permintaan semua penumpang, pilot pesawat tidak langsung terbang ke kota yang dituju. Melainkan berputar-putar dulu melihat kota yang baru saja kami tinggal berangkat. “Kota kehancuran,” batinku.

Betapa tidak. Gedung tertinggi di kota ini, yang dibangun dengan biaya jutaan dolar, kini yang tampak dari atas ini tinggal puing. Entah kemana badan bangunannya. Padahal konstruksinya dari beton bertulang.
   
Sedangkan gedung DPRD terbongkas, terpelanting di suatu tempat yang aku tidak tahu dimana. Tapi melihat gedung bercat kuning itu menimpa deretan rumah-rumah, si Bule berkata: Demi Yesus Kristus, itu kan kompleks Teleju, tempat saya tidur tadi malam. Matilah si Nimar...”  gumamnya dalam bahasa Inggris aksen Brazil.
   
Begitulah kota kami hancur selebur-leburnya. Aku kira mungkin inilah agaknya akhir zaman. Tapi mengapa kehancurannya tidak seperti yang aku bayangkan waktu kecil? Dulu, Pak Haji Aziz, guru kami, mengatakan, pada hari kiamat manusia bagai anai-anai beterbangan.
   
Tapi ini yang beterbangan malah gedung-gedung, perkantoran, mobil, rumah. Tidak ada manusia beterbangan seperti anai-anai. Dan anehnya lagi, kalau memang benar kiamat, mengapa kami masih bisa menyaksikan peristiwa ini? Katanya, kalau hari kiamat, semua orang dimatikan oleh satu teriakan dahsyat, begitu sangkakala ditiup. Tapi ini tidak. Kami masih bisa naik pesawat terbang.
   
Lantas, apakah yang terjadi sesungguhnya? Menunggu laporan wartawan dari kota kami tentu saja tidak mungkin, sebab melihat kehancuran dari ketinggian ribuan kaki ini, tentulah semua penduduk, tak terkecuali wartawan, tewas. Tadi aku juga lihat gedung PWI ikut punah-ghanah. Kalau dalam urusan lain, bolehlah wartawan minta keistimewaan. Tapi kali ini pasti tidak. Sebab kehancuran benar-benar terjadi secara total.
   
Puluhan orang di atas pesawat ini terheran-heran menyaksikan kehancuran kota kami. Aku yang tahu sebab musabab asal usul malapetaka ini tidak terlalu sibuk menjengah keluar jendela. Dan rupanya seisi pesawat memandang aneh ke aku. Mereka heran, mengapa aku malah sibuk menghitung-hitung tasbih.

Setelah lama senyap, baru kudengar suara:
   
“Tuan,” kata si Bule, dalam bahasa Inggris, “Mengapa Anda tidak melihat ke bawah?”
Lantas kujawab: “Karena di bawah itu kota kami.”
“Tapi mengapa Anda tidak menunjukkan ekspresi sedih atau...”
“Karena aku tahu apa yang tidak kalian ketahui,” potongku.
   
Si India yang sejak tadi geleng-geleng kepala, dalam bahasa Inggris petah, minta saya menjelaskan apa sesungguhnya telah terjadi pada kota yang baru saja kami tinggalkan. Seorang pramugari yang menangkap pembicaraan kami, bergegas masuk ke cockpit.
   
Tak lama setelah itu pilot yang berkebangsaan Prancis mendekati dan menyapaku.
   
“Pak Tajul,” sapanya dalam bahasa Inggris keprancis-prancisan. “Anda penduduk asli kota yang baru saja kita tinggalkan?”
   
Aku mengangguk. Kini semua mata terarah kepadaku. Kubalas tatapan mereka satu demi satu. Si Pilot berpaling ke arah luar jendela, menyaksikan puing-puing kota kami, diikuti oleh pasang mata yang lain. Sejenak seluruh isi pesawat senyap. Hanya detak sepatu pramugari yang terdengar di ruang belakang dan deru mesin pesawat ini.
   
“Apa arti semua ini? Dunia belum kiamat, tapi kota kalian sudah kena armagedon seperti tertuang dalam Alkitab,” katanya.
   
Tidak segera kujawab pertanyaan itu. Menarik napas dalam-dalam, memandang ke bawah. Memainkan bibir. Mengedipkan mata berkali-kali. Cuma itulah yang kulakukan sebelum menjumpai jawaban yang tepat. Ketika jawaban kudapat, aku harus merangkai kalimat yang tepat, sehingga yang mendengarkan tidak salah tangkap.
   
Akhirnya aku berkata:
“Itulah kalau kepentingan menjadi ideologi!”
Semua mata heran, tak paham maksudku.
“Apa maksud Tuan?”
Kutarik napas dalam-dalam tiga kali. Mata mereka tak berkedip ke arahku.
   
“Negeri kami itu tidak diurus dengan betul. Kepentingan menjadi dasar pengambilan keputusan. Intelektual banyak. Koran banyak. Mahasiswa banyak. Setiap hari cendikiawan mengkritik, budayawan berbicara tentang pembangunan yang berat sebelah. Anjuran: jangan lakukan ini, jangan lakukan itu, pakai jalan ini, jangan tempuh yang itu... tak pernah dipeduli.
   
Aku berkata perlahan-lahan dalam bahasa mereka membuat semua mereka terdiam menyimak setiap kalimat yang keluar dari mulutku.
   
“Setiap minggu mahasiswa berunjukrasa. Setiap hari koran memberi peringatan. Tapi semua tak menjadi perhatian Walikota. Dia, sebagaimana seorang dokter yang membeli gelar profesor di kota itu, asyik dengan permainannya sendiri, dikelilingi oleh pengusaha yang sentiasa membenarkan dan memuji-muji keputusan sang Walikota. Ujung dari permainan itu adalah bagi-bagi proyek, dan Pak Walikota minta persenan dari proyek itu... “
   
Tak satu pun dari yang mengelilingiku berkedip.
   
“Sudah terlalu banyak orang mengingatkan, mulai dari cendikiawan dalam negeri, budayawan, sampai Kepala Negara asing pun pernah secara halus mengatakan agar segera diadakan perbaikan pada sistem lelang tender dan pengeluaran tak jelas pada proyek pembangunan. Namun semuanya dianggap angin lalu... “
   
Mereka masih terperangah mendengar ceritaku.
   
“Maka, gedung pun dibangun asal jadi. Jalan dibuat dengan prinsip: yang penting selesai. Sekolah buruk dirobohkan dan diganti yang baru. Dan minggu lalu...
Aku terhenti, menarik napas lagi, membuat mereka yang mendengar makin tak sabar.
“Apa yang terjadi minggu lalu?” tanya mereka hampir serempak.
   
“Walikota memutuskan agar mesjid terbesar dan termegah di kota itu dirobohkan, dan dibangun dengan yang baru!”
   
Mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutku, seluruh mata orang di pesawat itu terbelalak mengekspresikan kekecewaan masing-masing. Dalam sekejap suasana pesawat itu riuh oleh celoteh, gumam, umpatan serta segala macam caci maki penyesalan atas apa yang menjadi penyebab kehancuran kota kami itu.
   
“Masjid dirobohkan?” bunyi satu suara.
“Mana boleh masjid tempat ibadah dirobohkan. Tidak boleh!” seru suara yang lain.
“Sekalipun kita orang Katolik, kita tetap tak setuju jika ada tempat ibadah dirobohkan, walaupun untuk dibangun baru,” ujar yang lain pula.
“Ya, kami ini agama Budha, juga tidak sependapat jika ada masjid dirobohkan.”
“Bukankah lebih bagus bangun masjid baru di tempat lain. Itu jauh lebih untung,” ujar si Cina.
“Ya, sebaiknya bangun saja masjid baru, yang sudah ada jangan dirobohlah... Itu kan rumah Allah,” tutur si Arab.

Pembicaraan tentang kota kami yang hancur menjadi tema utama semua penumpang pesawat. Dan tidak lama lagi, pesawat kami hampir tiba di Kuala Lumpur. Rupanya kejadian yang menimpa kota kami sudah tersebar diseluruh dunia. Seorang penumpang berkebangsaan Arab menunjukkan berita di cnn.com yang baru saja dicopi dari laptop-nya.
   
Begitu turun dari pesawat, puluhan kamera dan ratusan reporter dari berbagai media massa seluruh dunia menyambut kedatangan kami: Selamat datang rombongan yang selamat dari kota kehancuran!” tulis sebuah spanduk dalam bahasa Inggris, India dan Cina.
   
Hampir semua penumpang yang turun sibuk melayani pertanyaan wartawan. Aku mencoba cari jalan keluar lain, dari pintu belakang, sehingga luput dari sorotan kamera dan todongan mic si reporter yang selalu hanya minta statement.
   
Tidak ada yang menyambutku di kota ini: Kuala Lumpur yang begitu asing, akhirnya terpaksa ku akui sebagai Tanah Airku. Karena dari semua penyebab yang aku ceritakan pada orang-orang yang ingin tahu ceritaku, cuma satu hal yang tidak aku katakan terus terang.

Biar aku sendiri yang menjelaskan kepahitan ini kepada anak cucuku nanti, bisik hatiku. Bahwa kota kami sekarang diserbu oleh jutaan pendatang, melebihi jumlah penduduk tempatan... sehingga membuat masyarakat setempat minoritas di Tanah Kelahirannya sendiri. Dan, mereka menganggap kota kami itu sebagai kampungnya sendiri, menerapkan kebiasaan serta tradisinya sendiri...!
   
Yah, pendatang telah menyebabkan kehancuran kota kami. Nilai-nilai luhur masyarakat setempat diinjak-injak oleh mereka yang datang tak membawa peradaban seketil pun.
Kini, kota kami betul-betul telah menjadi kota kehancuran....!

***

Pekanbaru, 10 Februari 2002

Oleh: Azmi Rozali S.IP, M.Si.
Anggota DPRD Kabupaten Bengkalis dari F-PKS

Lasinta Ari Nendra Wibawa Pemenang Lomba Cipta Puisi “Bebaskan Palestina”



Puisi berjudul “Tentang Kota yang Menjaga Takbir dalam Degup Dada” karya Lasinta Ari Nendra Wibawa (Garut, Jawa Barat) dinobatkan sebagai Pemenang Pertama Lomba Cipta Puisi Tingkat Nasional 2014 bertema “Bebaskan Palestina” yang ditaja Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Di urutan kedua diraih Faidi Rizal Alief (Sumenep, Madura) dengan puisi berjudul “Rahasia Doa”, dan di urutan ketiga diraih Niken Kinanti (Pati, Jawa Tengah) dengan judul puisi “Kisah Pecinta dari Palestina”.

Selain memilih tiga pemenang utama, FAM Indonesia juga mengumumkan tujuh puisi pilihan, masing-masing berjudul “Bunga Darah” (A. Warits Rovi, Sumenep, Mandura), “Tadarus Duka di Pelaminan Gaza” (Andi Jamaluddin AR. AK, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan), “Riak Ombak di Matamu” (Ikhsan Hasbi, Banda Aceh), “Tempat Bermain Kami” (Ken Hanggara, Surabaya), “Sebelum Doa Kami Melangkah Begitu Kaku” (Manusia Perahu Sudianto, Sumenep, Madura), “Kabar Palestina Hari Ini” (Ilman Bahri, Jakarta), dan “Palestina Bercerita” (Ikhsan Satria Irianto, Bengkulu).

Pemenang diumumkan Rabu (10/9), malam, di kantor FAM Indonesia, Pare, Kediri, setelah melalui sejumlah tahapan seleksi. FAM Indonesia menerima 543 naskah puisi yang dikirim peserta dari seluruh penjuru Tanah Air dan Mancanegara.

Sebagai tanda apresiasi, FAM Indonesia memberikan hadiah berupa uang tunai, paket buku, piagam penghargaan, dan puisi pemenang dibukukan bersama 77 puisi nominator.

Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela, lewat siaran pers, Kamis (11/9) mengatakan, lomba itu telah dimulai sejak tanggal 15 Juli 2014 dan ditutup 30 Agustus 2014. Lomba ditujukan untuk membangun kepedulian masyarakat Indonesia khususnya penulis terhadap penderitaan yang sedang diderita rakyat Palestina dari cengkeraman tentara Zionis Israel.

“Banyak cara membantu rakyat Palestina, selemah-lemahnya lewat doa dan puisi,” ujar Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”.

"Bau Pesing Genderuwo" Dibedah

Sementara itu, FAM Cabang Surabaya ikut berpartisipasi dalam acara bedah buku "Bau Pesing Genderuwo" karya Eko Prasetyo, Sabtu (6/9) lalu. Eko Prasetyo adalah anggota FAM Surabaya, mantan editor di salah satu harian di Surabaya, dan aktif menulis buku.

Koordinator FAM Cabang Surabaya, Yudha Prima mengatakan, bincang buku itu diikuti sekitar 10 pegiat literasi dari berbagai komunitas di Kota Surabaya. Acara berlangsung dengan suasana keakraban di Graha Literasi, Sukodono, Sidoarjo.

“Berbeda dengan buku-buku karya tunggal Mas Eko yang lain, buku ‘Bau Pesing Genderuwo’ dikemas sangat ringan, menggunakan bahasa populer yang minim kosakata sulit, bahkan acapkali menggunakan bahasa Suroboyoan,” ujar Yudha Prima yang juga penulis buku cerpen “Anomali”.

Menurut Yudha, meski penulisnya memberi label “100% Bukan Homor Biasa” pada buku itu, namun Eko Prasetyo sama sekali tidak memperlihatkan kesan ingin beralih menjadi seorang komedian.

“Berbekal latar belakangnya sebagai seorang jurnalis, Mas Eko mencoba menyorot realita kehidupan yang dia alami maupun dia amati, mulai dari hal yang sangat sederhana hingga persoalan politik domestik, serta menyisipkan kritik dan pesan di balik kekocakan kisah-kisahnya,” tambahnya.

Selain menyentil sisi sosiokultural, buku "Bau Pesing Genderuwo" menyentuh masyarakat awam kelas grassroot dan membangkitkan gairah membaca mereka. “Tentunya ini merupakan sebuah misi yang harus diperjuangkan dan didukung bersama,” tambah Yudha Prima, peraih FAM Award pada 2013 lalu.[dm/rel]

Untukmu Anggota Dewan (PKS)





Untukmu Anggota Dewan (PKS)

Terbanglah..terbang..
Menyibak angin membelah langit
Jadilah kuat dan menguatkan
Jadilah besar dan membesarkan

Hotel mewah yang bakal kau singgahi
Adalah tanah becek perkampungan
tempat kami menebar brosur menawarkan nama
AC-nya yang dingin...
Tak sedingin malam yang pernah kami lewati
Ketika memasang spanduk bergambar wajahmu

Oh !.berpaculah bagai kuda perang
Jangan takut menyampaikan kebenaran
Jangan ketiduran di medan perjuangan

Oh !..melesatlah jauh laksana anak panah
Sejauh sampai menuju sasaran
Tapi jangan lupa pulang

Biarlah kami disini menunggumu dalam rindu
Sekedar mengenang kisah kita dahulu

Oleh: Antho Bandara

Dilantik Aleg DPRD Bantul hari ini, Kader PKS tulis "Surat Wasiat" untuk Istri



Hari ini (Rabu, 13/8/2014), 45 Anggota DPRD Kabupaten Bantul periode 2014-2019 bakal dilantik. Acara pelantikan akan dilakukan di Pendopo Parasamya, Kabupaten Bantul.

Salah satu anggota DPRD Bantul yang bakal dilantik itu adalah Setiya dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dia termasuk 28 aleg 'wajah baru' dari 45 anggota DPRD Bantul, 17 aleg adalah incumbent. Di hari pelantikan ini, kader PKS yang aktif di twitter dengan akun @setiya_jogja ini membuat "Surat Wasiat" kepada isterinya. Berikut isinya:


Istriku,
Hari ini suami-mu akan mengucapkan sumpah-janji sebagai wakil rakyat DPRD Bantul
Sebentar lagi mereka akan menyebutku bapak dewan

Sekali lagi aku tegaskan
Ini bukan kemuliaan
Ini bukan takrim
Ini taklif
Ini beban berat dan tanggung jawab

Kalau sebanyak orang berebut mendapatkannya
Karena jabatan kedudukan dan sekian fasilitas lainnya
Aku berangkat karena tugas dakwah

Ingatlah bukankah tidak terbayang sebelumnya, saat kita memulai berkeluarga, untuk menjadikanku anggota dewan?
Aku memantapkan langkah ini, karena tugas jamaah. Tugas dakwah!

Selain tanggung jawab sebagaimana anggota dari partai lain, ada tanggung jawab dakwah yang aku emban...
Dakwah dengan segala karakternya. Dakwah yang penuh hikmah sekaligus berisi banyak mihnah...

Ingatlah istriku,
Bukan banyaknya fasilitas yang akan kita dapati...
Tapi banyaknya tuntutan dan tanggung jawab

Kita...??
Ya. Kau dan aku!!
Kita!!!
Karena sebentar lagi kau akan sandang predikat ibu dewan.
Mereka tidak akan peduli.
Dan yang perlu kita lakukan bukan menjelaskan, tetapi memerankan sebaik mungkin.

Istriku tercinta,
Dalam tugas beramar-ma'ruf nahi munkar
Kesempatan kita bekerja dengan tangan dan lisan.
Tidak lagi dengan hati. Di tangan ini akan tersampir sedikit dari kekuasaan.

Dalam kesempatan menjadi sebaik-baik manusia,
Kita memiliki kesempatan untuk memberi kemanfaatan kepada lebih banyak manusia.

Tapi ingatlah,
Makin tinggi pohon, makin tinggi angin yang akan menerpa nya.
Akar yang makin kuat kita butuhkan.
Silah billah dan silah bil-ikhwah harus terjaga dengan mesra

Istriku...
Ijinkan hari-hariku akan aku bagi
Karena aku tidak lagi milikmu semata Aku ini milik ummat

Maafkan aku saat banyak meninggalkanmu
Untuk menunaikan tugas berat ini

Istriku
Ingatkan aku
Untuk selalu setia kepada Sang Pencipta, setia kepada bangsa dan negara, setia kepada dakwah, serta selalu setia kepada keluarga kita

Istriku tersayang
Doakan aku
Mampu mengemban amanah ini
Doakan aku
Bisa memberi kemanfaatan untuk sebanyak-banyak manusia
Doakan aku
Mampu memberi kemanfaatan untuk para kader, simpatisan dan masyarakat yang telah bekerja bersama
Doakan aku
Bisa menjalankan tugas dakwah dan jamaah. Menjadi batu bata yang baik untuk bangunan peradaban
Doakan aku
Tetap istiqomah dalam jalan dakwah yang diridhoi Allah
Doakan aku
Tidak terperdaya dengan segala fitnah dan tipu muslihat dunia. Apapun bentuknya.
Doakan aku
Bisa membawamu dan keluarga kita ke surga Allah yang menjadi cita-cita kita

Istriku,
Titip anak-anak kita
Semoga kita bisa mendidiknya bersama-sama menjadi pelanjut dakwah kita. Anak-anak yang akan membanggakan kita, tidak saja di dunia. Tapi saat kita berkumpul di surga Allah nantinya.

Rabu, 13/08/2014
Dengan sepenuh cinta

Setiya

Maka, Menjadilah seperti Musa



Maka, Menjadilah seperti Musa
(July 23, 2014 at 7:20am)

Kutulis kata-kata ini saat kau sudah tekad berkata
Lantang mundur dari ajang yang bikin Indonesia berkamar dua
Bahwa ada aksi curang, culas menggelembungkan suara
Hingga akhirnya kau urung jadi pemimpin Indonesia

Tapi ini bukan beban di pikiran hamba
Meski sinis, caci, cerca, terus membahana
Apa saja yang kau pikir dan bicara
Satu simpul di kepala mereka:
Kau, manusia berbahaya!

Meski kau urung di singgasana
Kau sudah lekati di dalam dada
Jangan surut hanya karena mereka jumawa
Atas ‘kalah’ yang kau derita
Itu tidaklah seberapa
Andai kau masih mau mengabdi pada bangsa
Demi Indonesia tidak kian nestapa
Di bawah duli presiden bergaya jari dua

Belajarlah kau pada Musa
Saat ia terusir kalah lalu dihina
Berkonsolidasi di Madyan demi titah-Nya
Bersiap siaga melawan sang angkara
Raja pendaku tuhan semesta

Kadang siapa saja berubah karena kuasa
Dulu lugu, kelak zalim demi wibawa
Ditopang puji dan puja tak berkira
Dari tukang hitung cepat, pemerhati, hingga media utama
Ditopang intelektual dan alim ulama pelawan fatwa
Maka jadilah: yang hitam, putih dikata
Yang berdarah-darah dibilang niscaya dalam angka

Pada akhirnya
Semua bisa menjadi apa saja
Jadikan presiden berpredikat durjana
Seperti Firaun di negri Mesir sana

Selaksa Musa yang riwayatkan setitik nista
Karena regangkan nyawa orang tak sengaja
Setitik aib pula yang benamkan kau selamanya
Sebagai penjahat hak asasi manusia, katanya

Tapi, bangkitlah! Buktikan kau berjiwa ksatria!
Seperti Musa saat tegakkan kalimat lillahi ta’ala
Agar tuhan yang disembah hanya Dia saja
Bukan raja-raja jahat penuh polesan citra

Kau mungkin tetap selemah Musa
Saat gagap bila nanti hadapi penguasa angkara murka
Batarakala adikuasa cengkerami negara
Dan kau telah miliki para bajik bak Khidir dan Harun namanya

Ada ulama yang sebenarnya merawat agama
Bukan sekadar fatwa meski disebut ‘bajingan’, dihina
Bertabiklah pada sederet para bijak yang siap berkata
Menasihat dari hati agar amarah berpadu dengan kuatnya jiwa
Masih ada waktu untuk berbenah melawan dusta murka
Masih ada ruang untuk mencinta, pada Indonesia tercinta
Bukan sekadar bersimbolkan burung garuda
Lebih dari itu: mendamba Nusantara jaya berpilar Pancasila

Jenderal, tetaplah kau seperti kuda!
Berlari menggapai cita, menolak lupa
Tanpa kesumat dendam membara
Karena kami percaya: menjadi dewasa
Tak harus selalu tampil di muka
Ia bisa hadir sebagai oposan penguasa
Biar rakyat tidak mudah lupa
Agar Indonesia tidak menjadi Bani Israel di hadapan Musa.

(Buat seorang perwira yang berani melawan tirani Moerdani, tapi hormati Jenderal Bintang Lima AH Nasution)

*Puisi karya Yusuf Maulana

Rindu Pagi dan Kemenangan


Oleh Nina Mariana

13 Juli 2014, di tengah rintik hujan…Mesjid Agung AlBarkah, Bekasi (setelah acara Munashoroh PALESTINA).

Pagi nan bening dipertengahan bulan Ramadhan…semburat kilau mentari dari balik jendela, langit jernih menampakkan cahaya-Nya, angin diutus menghembuskan harum bulan nan suci, senandung orang yang berpuasa, sempurnakan setiap anugerah.

Rindu pada pagi, sebab pagi membuat kita mampu tegak berdiri kembali, setelah larut dengan malam, kadang kepekatan tanpa purnama, kebingungan arah tanpa bintang, kegundahan dunia membuat malam semakin panjang, malam-malam bulan suci berlalu tanpa kenangan, mimpi kelampun kian meretas, seakan malam tak bisa tuntas.

Sementara dibelahan bumi lain…langit pagi dan malam tanpa beda. Raga kerap tegak berdiri di atas tanah perjuangan, mereka tegar mengemban amanah besar, degup bergemuruh tak henti mengiringi sosok yang pergi silih berganti dan tak akan kembali, pekik takbir bersanding dengan desing senjata dan peluru.

Rindu kemenangan, sebab sejarah mencatat tentang beberapa kemenangan abadi kaum muslimin di bulan suci. Fitrah, apabila jasad merindukan sang pencipta, persembahan terindah di bulan penuh kemulian dan kebahagian.

Seiring pagi penuh harapan, tumbuhlah cinta bagai hujan yang membersihkan reruntuhan derita perang. Walaupun hingga detik ini, tidak akan ada yang dapat menyangsikan pertolonganNya, bagaimana barisan panjang dengan langkah tegap itu tetap kuat bertahan…

Selamat berjuang saudara-saudaraku…

[Puisi] Bhinneka Tunggal Ika | By @RiaSanusi


Bhinneka Tunggal Ika

Berbeda itu indah
jika kita bisa memaknainya dengan jiwa
berbeda itu manis
jika kita bisa menghiasinya dengan cinta
berbeda itu nikmat
jika kita bisa menjadikannya surga
kita berbeda...
karena memang diciptakan tak pernah sama
kita berbeda...
karena memang itu adalah sunnatullah

biarkan perbedaan itu seperti apa adanya
biarkan dia tumbuh mengikuti kehendak takdirnya
biarkan dia mengalir menuju kepada muaranya
sebab tak ada yang salah saat kita berbeda
sebab perbedaan hadir untuk memberikan warna

di sini kita punya Indonesia
sabang sampai merauke adalah tanah kita
di sini kita bangga dengan bhineka tunggal ika
sebagai semboyan dan perekat bangsa
di sini kita lantangkan suara
meski berbeda namun tetap SATU jua...!!!

Oleh: Ria Dahlia

KITA Adalah SATU | By @RiaSanusi


KITA Adalah SATU

Senada seirama itulah KITA
Menyamakan langkah, membersihkan hati
Untuk mencapai SATU tujuan

Jangan pernah ragu menyuarakan kebenaran
Jangan pernah takut membela keadilan
Jangan pernah goyah menggenggam keteguhan

Tak ada yang mampu menghalangi
Tak ada yang mampu membeli

Karena semangat kita adalah SATU
Karena hati kita adalah SATU
Karena langkah kita adalah SATU
Karena suara kita adalah SATU

Untuk Indonesia yang lebih maju
Untuk negeri yang lebih utuh
Untuk martabat bangsa yg lebih bermutu
BERSATU kita teguh, BERKOTAK-KOTAK kita runtuh...!!!
SALAM #INDONESIABANGKIT

Oleh: Ria Dahlia

“Mayat dalam Lumbung”

Cerpen “Mayat dalam Lumbung” karya Siti Sofiyah (Semarang, Jawa Tengah) dinobatkan sebagai pemenang pertama Lomba Cipta Cerpen Tingkat Nasional 2014 yang ditaja Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia dan diumumkan Kamis (3/7), bertepatan dengan Hari Sastra Nasional.

Pemenang kedua diraih Inung Setyami (Tarakan, Kalimantan Timur) dengan cerpen berjudul “Topeng Ireng”, dan pemenang ketiga diraih Irzen Hawer (Padangpanjang, Sumatera Barat) dengan cerpen berjudul “Ampek Sen”.

Selain menetapkan tiga pemenang utama, FAM Indonesia juga memilih delapan cerpen yang diunggulkan, masing-masing berjudul “Katemi Masuk TV” (Weda S. Atmanegara, Yogyakarta), “Kisah yang Berakhir Bahagia” (Siti Nurbanin, Tuban, Jawa Timur), “Sebuah Harapan” (Yahya Rian Hardiansyah, Jember, Jawa Timur), “Bersama Tubuh Emak yang Mati, Sulung dan Bungsu Berperang” (Ken Hanggara, Surabaya), “Kisah Pemenggal Kepala” (Ade Ubaidil, Cilegon, Banten), “Lelaki yang Usai Mengembara” (Reddy Suzayzt, Yogyakarta), “Tapung Tawar” (Novaldi Herman, Pekanbaru, Riau), dan “Bawal” (Ikhsan Hasbi, Banda Aceh).

Sekjen FAM Indonesia Aliya Nurlela, Jumat (4/7) mengatakan, sejak lomba dibuka pada tanggal 5 Mei 2014 dan ditutup 25 Juni 2014, panitia menerima 204 naskah cerpen. Selain pemenang utama, juga dipilih 40 cerpen nominator yang dibukukan bersama karya pemenang.

“Peserta terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan umum,” kata Aliya Nurlela yang juga penulis novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”.

Dia menyebutkan, lomba cerpen tingkat nasional 2014 itu digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Sastra Nasional. Hari Sastra ditetapkan pemerintah RI pada tanggal 3 Juli dan dideklarasikan sejumlah sastrawan Indonesia tahun lalu di Bukittinggi, Sumatera Barat.

“Kami harapkan, lewat kegiatan ini Hari Sastra Nasional dapat lebih semarak, terutama untuk membudayakan menulis karya sastra di kalangan generasi muda,” katanya.

Sebagai tanda apresiasi kepada para pemenang utama, FAM Indonesia memberikan hadiah berupa uang tunai, paket buku, dan piagam penghargaan.

FAM Indonesia adalah komunitas penulis nasional yang berpusat di Pare, Kediri, Jawa Timur. Berdiri pada tanggal 2 Maret 2012 yang kehadirannya ditujukan untuk menyebarkan semangat cinta (aishiteru) menulis di kalangan generasi muda, khususnya siswa sekolah dasar, SLTP, SLTA, mahasiswa, dan kalangan umum lainnya.

“FAM Indonesia bertekad membina anak-anak bangsa untuk cinta menulis dan gemar membaca buku. Sebab, dua hal ini melatarbelakangi maju dan berkembangnya negara-negara di dunia lantaran rakyatnya suka membaca buku dan menulis karangan,” tambah Aliya Nurlela. (rel)

Jakarta (jangan) Tinggal mimpi, Indonesiaku Siap Maju...

Disebelah mulai dengan blusukan..
Pak Prabowo sudah digarda depan mempertahankan NKRI..sebagai prajurit sejati..tak gentar mati..

Tak menuntut kompensasi..apalagi menjual harga diri negeri..
Tak pernah didampingi birokrasi..yang menghabiskan banyak rupiah dan energi..
Tak laku didalam negeri karena terbuang mempertahankan eksistensi diri..hingga luput dari pantauan anak negeri..karena media menganak tiri..

Kini muncul bukan karena pencitraan diri..tapi lebih pada kepedulian hati..akan bangsa yang terjajah birokrasi dan penguasa yang tunduk pada mata biru kulit putih..

Terlahir bukan dari rakyat jelata..disyukuri dari kaum berpunya..tapi mau merayap membumi..diantara hidup dan mati..demi keutuhan negeri ini..
Jadi bukan hanya cuap cuap basa basi..seperti banyak orang mengkritisi..

Mari memilih untuk kebaikan negeri ini
Yang perlu kebanggaan akan kemampuan berdiri sendiri
Tak perlu jual jual aset kekayaan pribumi
Demi menghidupi rakyatnya sendiri

Untuk pemimpin negeri..kita butuh sosok yang mumpuni..dari Sabang sampai Merauke..wilayah yang harus diawasi..bukan cuman untuk disikapi
Tapi langsung dieksekusi..dengan diplomasi tingkat tinggi
Maka kupilih dia Prajurit sejati
PRABOWO untuk Indonesiaku
No 1 PILIHANKU

Untuk Jakartaku
Memang perlu sosok seperti Gubernurku
Blusukan sambil dikuntit kamera TV
Dari keramaian pasar hingga gelapnya gorong-gorong
Kilatan blitz menambah semangat birokrasi untuk tampil ditayangan TV

Entah karena pencitraan atau kerja sejati
Tapi memang perlu dirimu disini
Memperbaiki tiap institusi
Dan juga kerja para birokrasi

Idemu yang baik hati
Memakmurkan rakyat Jakarta
Jangan  tinggal mimpi
Jakartaku membutuhkanmu
Agar pencari nafkah tak habis waktu
Karena padatnya lalulintas
Dan tak lagi menggerutu karena banjir yang selalu menggenangi

Para pedagang Pasar Tanah abang pun berharap konsistensimu
Atas harapan dari titahmu
Tertata rapi bukan hanya ilusi

Jakarta membutuhkanmu
Ikuti hati nuranimu
Jauhkan bisikan bisikan disekitarmu
Yang menggodamu dengan kekuasaan, jabatan dan pencitraan dirimu

Jangan kau hilangkan harapanku
Akan hadirmu di kotaku
Mengurai tiap gorong-gorong..menata para pedagang..menuntaskan infrastruktur..
Sehatkan Jakarta
Pintarkan anak bangsa
Tuntaskan benih kebaikan yang kau tabur
Hingga menjadi kemaslahatan masyarakat
Jangan kau tinggalkan..hingga menjadi barang rongsokan
Jakarta tertata hanya mimpi
diatas bantal empuk rupiah yang terbuang
Untuk Jakarta Tertata..teruslah blusukan pak Jokowi

Jika keduanya sesuai Jabatannya
Kuyakin Indonesia lebih kuat dan bermartabat

Untuk Pilpres 2014
Pena Ummu Akram

Dariku, Untukmu Sobat...



Dariku, Untukmu Sobat...

Aku tertegun sesaat
Kala mendengar kabar bagai kilat
Seorang sahabat yang tampak sehat
Begitu bersemangat
Dikabarkan sedang menahan beban berat
Katanya dia harus dirawat

Sobat...
Maafkan aku yang tak mampu berbuat lebih
Hanya mampu merasa sedih
Sambil berdo'a agar engkau segera pulih
Karena aku yakin engkau orang terpilih
Tetap kobarkan semangatmu walau tertatih
Karena keahlian didapat dengan banyak berlatih

Sobat...
Tanpamu disini sepi
Canda tawamu bagai secangkir kopi
Temani daku kala jenuh menghinggapi
Semoga engkau kuat menghadapi
Cobaan yang ku yakin pasti bertepi

Batam, menahan gerah, Ahad (22/6)

Oleh: Bang DM
____
Puisi ini didedikasikan untuk admin Web PKS Cikarang Timur, Bekasi (www.pksciktim.org) yang sedang sakit. Semoga Allah segera sembuhkan. Aamiin.

[Cerpen] Panggil Aku Pakman!

Pakman, lelaki kampung itu masih termenung. Angannya terbang mengenang perkataan para pemuda di sekitar rumah kostnya. Perkataan yang selalu ia ingat dimana saja berada. Saat duduk, mandi, makan, bahkan saat berjalan menjual es cendol keliling yang menjadi usaha penopang hidupnya.

Kegundahan mencuat dalam hati. Gundah yang timbul akibat rasa keadilan yang terlukai. Ketika nama, sebagai satu-satunya hal berharga yang melekat dalam dirinya ternyata mengecewakan penyandangnya sendiri. Sejatinya Pakman tak pernah tahu, siapa orang yang mengusulkan nama itu kepada orang tuanya, atau mungkinkah justru bapak sama si mbok yang menginginkan nama itu melekat padanya? Entah! Yang jelas Pakman tetap menganggap mereka salah karena tak pernah mengajaknya berunding perihal sebuah yang akan disandangnya. Tapi, sejak kapan pula ada bayi berunding untuk sebuah nama?

Ya, jangankan untuk menyoal tentang sebuah nama. Demi hal yang remeh temeh seperti membuang kotorannya sendiri bukankah ia tidak bisa? Sebuah ketidak bisaan dulu yang tak ubahnya ketidak bisaannya kini untuk menggugat, justru membuatnya terpenjara dalam gundah yang menyiksa.

Tentu saja, kegundahan itu bukanlah tanpa musabab. Dan seandainya ada orang yang paling dianggap bertanggung jawab, sudah barang tentu, dengan senang hati Pakman akan mengarahkan telunjuknya kepada Andre. Mahasiswa yang menyewa di sebelah tempat kost Pakman itulah biang petaka dari semua beban dalam jiwanya.

***

“Jadi, nama Mas Pakman?” suatu sore diawal perkenalan mereka.

”Iya, Mas. Nama saya Pakman. Nama njenengan Mas Andre tho?” Pakman menyahut gembira.

Ia ingat betul pesan si mbok di kampung. Bersikap ramah adalah hal teramat penting bagi seorang perantau. Itulah salah satu pesan keramat yang tak akan dilupakannya, selain pesan untuk selalu mempererat tali seduluran. Sebuah ikatan yang kata si Mbok, dapat menyelamatkannya dari segala susah saat tinggal di ranah orang.

”Namanya kok lucu, sih?” Andre tiba-tiba tertawa.

”Lucu gimana tho, Mas Andre?” Pakman bengong. Pikirannya tak dapat mencerna ucapan Andre.

“Mas bisa basa Inggris?” Andre kembali bertanya.

Pakman menggeleng perlahan.

“Mas, mau tahu arti nama mas menurut basa Inggris,?” Andre melanjutkan.

Pakman gembira. Seumur hidupnya di kampung,  ia tak pernah belajar bahasa Inggris. Apalagi untuk mengetahui arti namanya, dalam bahasa asing yang sangat terkenal. Dalam hatinya menelusup kebanggan tak terkira. Ia berharap, suatu saat kelak, ketika ia pulang kampung, akan dapat bercerita tentang namanya. Nama yang juga memiliki makna dalam bahasa orang bule. Luar biasa! Sungguh, suatu hal yang tak pernah terpikir sebelumnya!

”Iya. Boleh...boleh sekali, Mas Andre” Pakman sumringah.

”Pak itu artinya ini, Mas” Andre berkata datar. Ia memperlihatkan jempolnya yang dimasukan pada sela-sela pangkal telunjuk dan jari tengahnya yang terlipat.

”Kalau Man itu artinya laki-laki. Jadi nama Mas itu artinya laki-laki tukang gini...”

Pakman terkejut bukan kepalang. Matanya nanar memandang ujung jari tengah Andre yang menarik ujung jari telunjuknya, membentuk sebuah lingkaran bolong. Sementara, telunjuk tangan kiri Andre menerobos di tengahnya.

Pakman mengerti. Isyarat itu dikenal juga di kampungnya. Isyarat yang bermakna ”gituan”. Tabu. Jorok. Bahkan sangat terlarang untuk diperbincangkan. Manurut Andre saat ini, justru namanyalah yang menjadi biang ketabuan.

Tak bisa dipungkiri, Pakman hanyalah seorang lelaki kampung. Pemuda yang tak terbiasa dengan banyolan kota, apalagi banyolan para mahasiswa, kaum terpelajar yang memang pintar dalam pandangan Pakman. Pakman terseret keluguan. Perkataan Andre tentang makna namanya ia ceritakan kepada pemuda-pemuda yang ia kenal di sekitar rumahnya. Maksud hati ingin mendapat penjelasan. Apalah daya, yang didapat malah tertawaan. Kasihan!

***

Pagi itu, Pakman bersiap menjual dagangan. Gerobak kesayangannya telah ia bersihkan ketika Andi, tetangganya yang pengangguran itu datang.

”Udah mau berangkat, Mas?” Andi membuka percakapan.

“Iya, Bang. Sekarang harus lebih rajin. Insya Allah bulan depan ada rencana pulang kampung. Jadi kalo ndak ngebut ya gimana,” Pakman menanggapi ucapan Andi dengan tulus.

“Kalau begitu sekalian saja, Mas” Andi tersenyum.

”Sekalian apa, Bang?” Pakman bertanya penuh rasa penasaran.

”Ganti nama. Biar keren dikit, kek”

Dug! Untuk kesekian kalinya Pakman tersiksa. Kota besar ternyata tak seramah yang ia kira. Untuk ukuran nama yang di kampungnya tak pernah dipermasalahkan, di kota besar itu ternyata menjadi hal yang sangat unik untuk dibicarakan.

”Ah, Mbok! Kenapa juga namaku bukan Jeki, Alex, atau apalah yang tidak bikin orang tertawa waktu dengernya” demikian Pakman berkata dalam hati. Perkataan yang dulu tak pernah ia ucapkan. Perkataan yang ia bawa sepanjang perjalanannya berjualan cendol.

”Si Mbok, sih! Yang dikasih nama kan aku. Kenapa juga dulu ndak pernah ngajak rembugan. Huh!” Pakman mengumpat.

Siang itu, matahari menyengat. Terik. Menyentuh kulit siapa saja yang berada di bawahnya. Pakman duduk bersandar di tiang Masjid. Dzuhur baru saja beranjak. Dilaluinya dengan sholat berjamaah di sebuah Masjid yang tak jauh dari kampus. Angin semilir menerpa wajah lelaki kampung itu. Lembut. Membawa kantuk yang menyerang tiba-tiba.

”Assalamu’alaikum,” seorang pemuda duduk di sebelah Pakman. Tangannya terjulur mengajak bersalaman.

”Wa..Wa’alaikum Salam,” Pakman tergagap melihat kehadiran pemuda yang tanpa disadari sudah berada di sampingnya itu. Tanganya terjulur. Hangat. Keramahan ditawarkan pemuda itu.

”Perkenalkan, Mas. Nama saya Ari. Saya kuliah di kampus itu. Nama mas siapa?” Dengan sopan Ari membuka percakapan.

”Nama saya......saya....” tiba-tiba saja wajah Andre berkelebat dalam benak Pakman. Pakman malu. Minder untuk menyebutkan namanya sendiri. Rasa takut menyerang. Ia tak ingin Ari menertawakan, seperti orang-orang terdahulu yang dikenalnya. Pakman tercenung dalam bingung.

“Kenapa, Mas?” Ari mengerutkan keningnya.

”Saya m…malu, Mas. Nama saya jelek,” Pakman tergagap.

”Emang siapa namanya, Mas?”

”Janji ya, Mas. Mas ndak akan ketawa” Pakman menatap Ari penuh harap.

”Baik. Insya Allah” Ari menjawab mantap.

”Nama saya Pak...Pakman, Mas” Tak urung Pakman menyebutkan nama. Keraguan masih tergambar jelas dari ucapannya.

Suasan hening. Pakman menunggu reaksi Ari. Jantungnya berdegup kencang.

”Subhanallah! Nama yang sangat bagus, Mas!”

Di luar dugaan Pakman, Ari justru memuji namanya. Pakman terperangah!

”Bagus dimananya, Mas. Orang lain aja bilang nama saya jelek” Pakman penasaran.

”Jelek gimana, Mas?”

”Kata orang, nama saya dalam basa Inggris tuh artinya ”gituan”. Jorok. Makanya saya malu mau bilangkan nama saya sama Mas Ari,”

Ari tersenyum. Dengan cepat ia dapat mengurai duduk persoalan yang menyebabkan Pakman merasa malu. Dengan kecakapannya berpikir Ari memaklumi.

”Mas, tahu kenapa saya bilang bagus? Sekarang ini, dunia tinju ramai. Ada petinju Philipina yang prestasinya bagus. Namanya Many Pacquaio. Nah, dia dipanggil Pacman. Mirip kan sama nama mas? Makanya saya kagum,” Ari memberikan pemaparan.

”Kagum kenapa, Mas?”

”Orang tua mas hebat. Mereka bisa ngasih nama anaknya, seperti nama julukan seorang petinju. Orang kuat. Padahal waktu itu kan belum ada,”

”Jadi nama saya ndak jelek, Mas?” Pakman memburu.

Ari menggelengkan kepalanya.

”Yang bikin jelek itu pikiran, Mas. Tergantung dari sudut mana seseorang memandang. Makanya saya sarankan sama Mas. Sering-seringlah duduk sama orang yang pikirannya baik. Artinya, biar kita ikut terbawa berpikir baik juga,”

Pakman manggut-manggut mendengar penjelasan Ari. Seberkas cahaya telah muncul dalam hatinya. Menggulung segala kecemasan yang selama ini ia bawa.

”Mengerti, Mas?” kembali Ari bertanya.

Pakman mengangguk.

“Jadi nama mas siapa?” untuk kali ini Ari bercanda.

”Nama saya Pakman, Mas. Ya, Pakman!!” kali ini lelaki dusun itu menjawab mantap. Semantap pukulan ampuh petinju Philipina yang ditelevisi itu. O, syukurlah. (*)

Oleh: Eko Wahyudi
Follow @ewahyudie on Twitter

*)http://www.ewamazing.com/2014/06/cerpen-panggil-aku-pakman.html?m=1

SATU is The Best To Choose


SATU is The Best To Choose

Sahabat, dalam hidup ini untuk menggapai Ridho Allah
Kita harus SATU Tujuan Hidup yaitu Allah SWT
Kita harus SATU Tauladan Hidup yaitu Nabi Muhammad SAW
Kita harus SATU Pedoman Hidup yaitu Al-Quran

Sahabat, dalam berorganisasi untuk mencapai tujuan
Kita harus SATU dalam VISI
Kita harus SATU dalam MISI
Kita harus SATU dalam MOTTO
Kita harus SATU dalam Gerakan

Sahabat, agar tujuan pergerakan kita BERHASIL
Kita harus SATU dalam Instruksi
Kita harus SATU dalam Cara Berfikir
Kita harus SATU dalam Cara Bersikap
Kita harus SATU dalam Cara Bertindak

Sahabat, agar dakwah ini BERHASIL sesuai dengan SYARIAT
Kita harus SATU dalam Sami’na Watho’na
Kita harus SATU dalam Langkah
Kita harus SATU dalam Semangat
Kita harus SATU dalam Kebersamaan
Kita harus SATU dalam Ukhuwah Islamiyah
Kita harus SATU dalam Kemenangan

Sahabat, untuk Menang kita harus berSATU
Ber SATU untuk melakukan Perubahan
Ber SATU untuk melakukan Perbaikan
Ber SATU untuk mewujudkan Kuntum Khoirah Ummat
SATU dalam Rahmatan Lil’alamin

SATU adalah Pilihan yang terbaik untuk MENANG
SATU adalah Pilihan tepat untuk Calon Pemimpin yang bermartabat
SATU adalah Pilihan Kita SEMUA

Oleh: Bang Opieq [BO PKS Bengkalis]