News Update :

PKS 1

PKS 1

PKS 2

PKS 2

PKS 3

PKS 3

PKS 4

PKS 4

PKS 5

PKS 5

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Ekspresi Romantis, Ada Hak Jones yang Mesti Dijaga :)



"Mas nggak usah posting kata-kata yg romantis di facebook, ya," kata suami saya sambil berpamitan untuk kerja malam ini. Maklum, hari ini adl 1st wedding aniversary kami. Saya pun mengangguk tak masalah.

Saya jadi ingat, dulu persepsi sy adalah bahwa sebuah keromantisan jika suami rajin memention istrinya di medsos. Setidaknya, bagi saya saat itu, memention istri di facebook dengan menyelipkan kata-kata manis adalah sebuah "pengakuan" yg dibutuhkan oleh seorang wanita dari prianya dan sebuah ungkapan "peneguhan eksistensi" pasangannya di depan publik, khususnya teman-temannya. Sebagaimana bangganya dan tersanjungnya seorang wanita bila suaminya dgn cintanya selalu mengenalkan istrinya pd teman-teman yg dijumpainya, "kenalin, ini istriku."

Dulu pun saya sempat bertanya mengapa suami sy tidak suka melakukan hal yg banyak dilakukan para suami, khususnya pasangan muda pada istrinya, yakni memention istrinya di medsos. "Sesekali aku kan jg pengen," gerutu saya kala itu.

Namun, seiring dengan perjalanan pilinan hari yg kami lalui dlm pernikahan, juga seiring kedewasaan memandang suatu wujud romantisme, saya tahu bahwa tak berkurang romantisnya pd saya, meski ia tak menyebut saya di akun medsosnya. Saya pun tak merasa kurang "pengakuan" dan tetap merasa "dibanggakan" pula oleh suami sy. Sebagaimana kata-kata yg sering ia ucapkan pd saya ttg kesyukurannya menjadi suami sy dan terima kasihnya untuk kesediaan sy menjadi istrinya yg selalu sy jawab dgn ungkapan serupa pula.

Sebagaimana yg bunda Helvy Tiana Rosa rasakan pd suaminya, buat saya pun, tak harus menunggu hari tertentu, ulang tahun, atau milad pernikahan untuk menangkap cinta dari suami sy.

Ia bukannya tak pandai merangkai dan mengekspresikan kata. Ia bahkan pembuat puisi romantis 'maksimal' jauh melebihi kemampuan saya yg sarjana sastra ini. Tak pernah kata 'miss you', 'love you', 'honey', 'cinta', dan kini 'bunda' dan berbagai emoticon romantis absen tiap harinya dari Whatsapp kami.

Tapi, dia mengajari saya menikmati romantisme dalam ruang terbatas dimana hanya ada "aku" dan "kamu". Alhamdulillah, berbagai aplikasi komunikasi kini memudahkan suami-istri untuk 'menumpahkan" kata-kata romantis dan intim satu sama lain secara privat. Tinggal pilih saja. Ada BBM, WA, atau bahkan jika tangan gatel ingin posting hal-hal romantis di facebook, kita bisa membuat grup rahasia dimana isinya hanya ada kita berdua dgn pasangan kita. Dan saya sampai pd titik dimana saya begitu menikmati area privasi kami ini.

Apa yg ia ajarkan pd saya benar adanya bahwa dalam ruang hak berekspresi kita di muka umum, ada hak kenyamanan orang lain yg harus kita jaga pula. Sebagaimana pula yg pernah sy tulis sebelumnya, jangan sampai kebahagiaan kita menjadi sebab kenelangsaan atau ketidaksyukuran orang lain akan kondisinya. Dalam hal ini adalah kenelangsaan para 'jones' (jomblo ngenes) yg membaca posting romantis kita pd pasangan.

Buket mungil mawar putih dan gempornya kaki habis jalan-jalan ke islamic book fair dan gramedia menjadi bukti manis keromantisannya hari ini.

Seperti pangeran dalam impian, ia menggenapi semua kebahagiaan saya. Setiap momen "belajar" dalam pernikahan ini bersamanya sungguh-sungguh saya nikmati.

Saya hanya berdoa semoga ia menjadi suami sy yg pertama dan terakhir, pun sebaliknya. Agar sebagaimana dijanjikan, ia yg terakhir adalah ia yg akan menjadi pasangannya kelak di surga.. aamiin...

Setahun sudah sy menjadi istrinya.. moga semakin shalihah dan lebih baik dalam mencintai, melayani, menghormati, dan memuliakannya...

Mohon doanya ya semoga pernikahan kami menjadi cahaya kebaikan pula untuk sebanyak mungkin orang..

Pernikahan yg tidak saja membelajarkan kami berdua, tp jg bisa membelajarkan untuk orang lain lewat pelajaran kecil yg bisa kami bagikan..

8 September 2013 - 8 September 2014

-Iva Wulandari-

Bahagiakan Pasangan Anda



Bersyukurlah.. wahai para istri yang memiliki suami yang baik dan pengertian.. yang senantiasa memimpin dan melindungi keluarganya.. jagalah ia dengan cinta dan keikhlasan.. hiasi dirimu dengan do'a dan ketaatan...

Bersyukurlah.. wahai para suami yang memiliki istri yang sabar dan pengertian.. yang senantiasa berhias hanya untuk suaminya.. yang selalu berusaha menanyakan ridlo suaminya..yang senantiasa meminta izin pada suami..dan menghormatinya..dan mampu membantu kesusahan mu...

Sadarlah... no body's perfect...lihat baiknya dia.. betapa... karena di luar sana.. banyak pasangan yang berakhir di meja sidang... dengan berbagai alasan... banyak keluarga tercerai berai karena kecintaan pada harta.. ilmu yang kurang... serta obsesi dunia..

Manjakan pasangan anda..karena memang hanya anda yang halal untuk nya...
Bahagiakan hatinya..karena bahagianya sudah tertawan oleh akad nikah anda...
Jangan sakiti dia.. jika kau tak tau kapan ia dipanggil oleh-Nya..

Salam cinta untuk seluruh keluarga Indonesia... semoga sakinah..mawaddah warrahmah.. dan barokah.. aamiin.

(Nur Layla Zamzanah)

Duhai Perempuan, Hendak Berkarir di Luar atau Berkarir di Rumah? | Catatan @Farmillaa



Pertanyaan yang amat sering menyambar siapa saja pasca lulus kuliah adalah, "sekarang kerja dimana?" Atau, "Kapan nikah?" Eaaaa... Kalau pertanyaan kedua sih pertanyaan yang pasti terdengar tak mengenal waktu. Masih kuliah kek, setelah kuliah kek, entah kenapa terutama kaum sesepuh sangat suka melontarkan pertanyaan yang sejatinya bikin telinga para jomblo kepanasan. Hehehe

Aku sendiri, sudah menentukan sikap bagaimana rencana karirku berikutnya. Yang pasti ada banyak pertimbangan yang sudah mulai kutimang-timang (anakku sayang) beberapa bulan terakhir ini. Ya, perencanaan itu penting, tinggal nanti bagaimana mengatur langkah untuk bisa sejalan seirama dengan pasangan kita nanti.

Sepertinya diskusi tentang perencanaan masa depan, sudah menjadi diskusi paling menarik bagi kita sesama kaum hawa. Aku sendiri lebih banyak bertanya pada teman-teman yang sudah menikah dan mempunyai anak. Salah satunya, untuk mempertimbangkan keputusanku nanti. Bukankah mengambil pelajaran dari pengalaman orang lain itu lebih baik?

Sore tadi, aku kembali berdiskusi singkat tentang karir perempuan. Awalnya, aku hanya ingin mengajak adik kelasku untuk mengikuti perekrutan anggota baru KAMMI. Tetapi, ternyata dia sedang hamil 7 bulan, Aku bahagia sekaligus kaget. Bahagia karena tentu saja hamil dan memiliki anak adalah impian setiap wanita, termasuk diriku. Kaget karena sebelumnya aku sama sekali belum tahu kalau sang adik kelas ini sudah menikah sejak tahun 2012 silam.

"Teteh, tau ada informasi lowongan kerja, gak?" Tanya adik kelasku melalui BBM

"Oya, Buat kapan? Bukannya sekarang dirimu lagi hamil yak?" Aku balik bertanya, karena merasa heran sendiri, lagi hamil kok mau bekerja...

"Iya nanti setelah melahirkan, pokoknya pingin langsung kerja." Jawabnya. Fyuh akupun sedikit bernafas lega setelah mendengar jawabannya. Secara, aku sedikit kaget kehamilannya yang sudah berumur 7 bulan. Apa jadinya jika dibawa bekerja? Bukankah bagi wanita pekerjapun, saat usia kehamilan menginjak 7 atau 8 bulan adalah masanya cuti dari pekerjaan?

Aku sendiri tak menjanjikan, karena aku juga bukan seorang calo lowongan pekerjaan. Hehehe. Tapi, kusampaikan juga, jika suatu hari ada informasi tersebut aku akan menyampaikannya, In shaa Allah.

Iseng-iseng, aku mengirimkan gambar yang sedang ramai di jagat twitter. percakapan dua orang alumni mahasiswi UI yang di Screen Shoot kemudian tersebar. Maklumlah sekarang lagi musim Screen Shoot (SS) postingan orang kemdian disebar. Jika postingan tersebut bagus, tentu menjadi hikmah bagi orang yang membacanya. Namun jika postingannya jelek, malapetaka yang didapatkan. Kita bisa melihat kebelakang, kasus Dinda yang enggan memberi tempat duduk sama ibu hamil, juga kasus yang baru-baru ini ramai adalah kasus Florence yang berani berkata kasar tentang sebuah kota. Semua berawal dari SS :D

Nah, berikut SS yang kukirim padanya


Percakapan tersembut sedikit membantah mitos orangtua jaman dulu, terutama di tempatku yang masih kental dengan nuansa kampungnya, bahwa seorang perempuan gak usah sekolah tinggi-tinggi, karena toh pada akhirnya akan mengabdi di dapur (memasak) sumur (mencuci) kasur (melayani suami)

Sepintas, ungkapan seperti itu cukup masuk akal. Toh orang sekolah kan untuk bekerja, mendapatkan uang. Sekolah aja pakai uang, masa setelah lulus gak menghasilkan uang karena lebih memilih menjadi abdi rumah tangga?

Bukankah pekerjaan-pekerjaan seperti itu juga pekerjaan yang sudah biasa dilakukan para ibu-ibu? Turun temurun dari ibu-ibu kita jaman dulu. Toh di sekolah tidak diajarkan bagaimana mencuci yang baik, bagaimana membereskan rumah yang baik, atau pekerjaan tektek bengek lainnya yang biasa ibu rumah tangga lakukan.

Namun, coba pikirkan kembali. Bukankah para ibu dihadapkan amanah lain selain dapur sumur dan kasur? Amanah yang pastinya sangat berat pertanggungjawabannya. Iya, Anak. Anak adalah amanah sekaligus anugerah yang sangat istimewa. Benarkah tidak tergiur untuk memiliki anak yang jauh lebih hebat dari ibunya?

Sungguh, akupun mengirim gambar tersebut tak bermaksud untuk mencuci otak adik kelasku agar menjadi Ibu rumah tangga saja. Kubilang padanya, untuk sebuah renungan. Terkadang, aku sendiri begitu berambisi untuk memiliki pekerjaan yang bagus karena aku seorang lulusan IPB. Masa lulusan IPB gak kerja? Si anu saja, yang hanya lulusan SMA sudah bekerja di tempat anu. Terkadang menyakitkan, perkataan tersebut.

Seperti yang terjadi pada kisah sahabatku Nouna (nama disamarkan) Ia telah berhasil menjadi seorang istri dari seorang pengusaha cukup sukses. Rumah cukup memadai, kendaraan pun lebih dari bagus. Dan seorang anak laki-laki berumur 1 tahun yang menggemaskan juga pintar. Karena pekerjaan rumah belum terlalu banyak, lama-lama Nouna merasa jenuh sendiri dan lebih memilih bekerja di luar.

Awalnya suami merasa keberatan, tetapi setelah berdiskusi cukup panjang dan lebar, dan dengan rayuan maut sebagai jurus jitu, akhirnya sang suami mengijinkan Nouna bekerja. Satu bulan, sibuk mencari pekerjaan kesana kemari. Bulan berikutnya, Nouna mendapatkan pekerjaan yang cukup bagus. Berangkat kerja pagi, diantar suami, dan pulang sore dijemput suami.

Di bulan ke tiga memasuki dunia kerja, Nouna mulai keteteran dengan pekerjaannya. pagi-pagi harus memandikan anak, menyiapkan keperluan suami, dan hal-hal lainnya. Sehingga banyak pekerjaan rumah yang terbengkalai. Akibatnya, perhatian kepada suami dan anak pun sedikit teralihkan. Suaminya jatuh sakit dan mulai sering masuk rumah sakit, pun bisnisnya merosot tajam.

Anaknya menjadi sangat rentan sakit, karena lebih sering jajan sembarangan saat ditinggal. Dan beberapa kali masuk rumah sakit. Nouna sendiri, cukup stress menghadapi kenyataan itu. Sampai hari ini, saat catatan ditulis, ia masih terbaring lemas di Rumah Sakit karena asam lambungnya tinggi dan radang usus.

Terakhir kontak melalui BBM, dia merasa menyesal telah memilih bekerja demi uang yang tak seberapa dibanding penghasilan suaminya dulu.

Aku sendiri, meskipun aku dari keluarga biasa saja dan membutuhkan perjuangan yang cukup besar untuk menyekolahkanku, orangtuaku tidak menuntutku untuk bekerja dan segera mengganti uang yang habis digunakan untuk biaya sekolahku (ada lho orangtua seperti ini). Dari sejak aku mulai duduk di bangku SD, mereka hanya berpesan, "Nak, belajarlah biar kamu memiliki banyak ilmu. Jika kamu memiliki banyak ilmu, maka kamu bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Bukankah Nabi Sulaiman pun memilih ilmu dari 3 pilihan Allah? Kemudian bisa mendapatkan semuanya?"

Untuk menjadi wanita karir, boleh saja. Karena seorang perempuan juga haruslah mandiri. Kalau bahasa kerennya sih akhwat tangguh, keren menurut gue maksudnya. Iya, termasuk mandiri dari segi finansial. Karena akan ada beberapa kemungkinan yang bisa saja datang diluar rencana kita. Misal, suami meninggal, sementara kita tidak bekerja. Lalu, bagaimana kita bisa menyambung hidup jika sebelumnya kita tak terbiasa mandiri?

Sebagai seorang perempuan, ini cukup menjadi masalah yang menggamangkan hati dan pikiran kita? Memilih menjadi wanita karir atau ibu rumah tangga? Iya, karena aku terlalu memutarkan otak pada lingkaran itu-itu saja, aku pun tak pernah mendapatkan hasil yang memuaskan. Ah ya, di rumah tapi tetap berkarir itu bisa banget.

Referensi dari cerita Nouna dan kemungkinan terburuk jika suami meninggal adalah, aku berkarir di rumah. Kalau kata Mas Ippho Right, Jadikan rumah tangga itu seperti Bisnis. Suami direktur, istri manager. Jika memiliki seorang suami yang berkarir di dunia bisnis, maka geluti bisnisnya dan masuk ke dalamnya. Namun, jika suami adalah pekerja, maka kita bisa membuat usaha rumah tangga yang nggak kalah tinggi hasilnya.

Sementara itu, untuk berkarir diluar adalah pilihan terakhir jika piliha - pilihan tadi sudah cukup sulit direalisasikan. Karena, bagiku menyaksikan dan menemani tumbuh kembang anak jauh lebih menggiurkan dibanding menghabiskan waktu dengan setumpuk kertas. Lalu menjadikan mereka orang-orang hebat. Bukankah ibu adalah madrasah pertama bagi anak? Lalu jika kita sibuk bekerja diluar, bagaimana anak bisa mendapatkan kecerdasan itu untuk ia jadikan sandaran?

Terakhir, ada teori yang menarik dan dipaparkan langsung oleh dr. Dr. Rina Masadah, Sp. PA, M. Phil (Genetika - Fak. Kedokteran Unhalu)  "Setiap anak diwariskan tingkat intelektual dari kromosom 1 gen ibunya, bukan dari ayahnya. Oleh karena itu, carilah calon istri yang pandai, bukan yang cantik."

Nah, ladies, mau dimana kamu berkarir? Di luar atau di rumah? :)

(by @Farmillaa)

Ketika Istri Tak Sesuai Harapan Saat di Kos-kosan



Dulu di tengah canda antara penghuni kos-kosan di gang Jengkol, Ceger, Pondok Aren, sambil mencuci atau ketika sedang setrika baju di pagi hari, kami, saya dan teman-teman satu kos sering bersaut tentang sosok perempuan, akhwat sang calon istri idaman kelak, bayangan sosok yang ideal tentunya, disela lirik nasyid:
 Istri cerdik yang sholihat
Penyejuk mata
Penawar hati
Penajam fikiran
Di rumah dia istri dijalanan kawan
Dikala kita buntu dia penunjuk jalan
Saat itu, menurut kami seorang calon istri adalah, seorang perempuan, seorang akhwat yang ngerti agama, qonaah, tawadhu, tentunya seorang yang sempurna sebagai calon ibu, cantik (tentunya), sabar, romantis, bisa manjain suami (maunya), idealisme yang sempurna.

Saya teringat dalam suatu seminar keluarga, yang diisi seorang ustadz muda, suatu hari dia dimintakan tolong untuk mencarikan istri oleh seorang pemuda, pemuda ini berlatar belakang keluarga besar cukup berada, waktu itu ia masih semester VIII kedokteran di sebuah universitas negeri. Kriteria yang diinginkan oleh si pemuda adalah sosok akhwat yang sholihat, bagus kafaah syar’i nya, pintar, berpendidikan minimal setara dengannya, masih muda, cantik, dll.

Setelah sang ustadz mendengar kriteria tersebut, dengan berseloroh dia berkata, “Akan saya upayakan akhi, tapi seandainya saya bertemu Akhwat yang kriterianya seperti itu, sepertinya tidak akan saya forward ke antum. Saya nikahin sendiri.” :)

Membangun asa adalah sah-sah saja, tidak dilarang. Hanya saja, jangan kaget setelah bertemu realita. Setelah menikah, menyatukan dua hati yang berbeda bukanlah hal mudah. Menginginkan sosok istri yang bisa menyelesaikan urusan rumah tangga dengan tuntas, menyadari kekurangan-kekurangan suami secara paripurna, dan menyelesaikan konflik dua hati tanpa menyisakan sedikit pun sakit hati pada salah satu fihak adalah harapan yang sedikit harus dikoreksi. Apalagi mengharap istri yang selalu siap, selalu berada disisi apabila dibutuhkan, dan selalu siap disamping suami dengan solusi-solusi atas masalah yang dimiliki suami.

Ketika kecewa, timbul pikiran iseng membandingkan istrinya dengan sosok lain, sifatnya, bahkan fisiknya. Maka bersiaplah untuk kecewa, karena apa? Karena kita memandang dari satu sisi bahwa dia ada untuk kita.

Bagaimana kalau dibalik? Kita ada untuk dia, bahwa kita tidak sesuai dengan harapan dia, bahwa kita tidak setampan yang dia inginkan, bahwa dia menekan asa ketika menerima kita, mencoba berdamai dengan kriteria calon suami yang diidamkan, kemudian menerima kita, semata mengharap ridho Allah.

Perlu diingat juga, istri kita memiliki latar belakang yang berbeda, budaya, status sosial, yang harus direkonsiliasi dengan kita, dengan latar belakang yang tidak sama, maka tidak akan pernah sinkron jika keduanya tak memiliki rasa ikhlas, bertahan pada ego sendiri. Tidak perlu heran jika akhirnya hanya konflik yang muncul dalam keluarga.

Secara sunatullah, masing-masing diantara kita juga tetap memiliki kebutuhan sendiri, sisi dunia sendiri, kegiatan sendiri, kesibukan sendiri, yang tidak melulu sibuk untuk berdua, kadang kita sebagai suami ”dipaksa” untuk bertenggang rasa dan bertenggang waktu. Disini nampaknya kita dituntut untuk meng ”kita untuk dia” kan.

Lalu harus kecewakah kita ketika sudah mendapat amanah istri tetapi jauh dari harapan ketika masih hidup di kos-kosan?

Hal terpenting adalah jangan lagi mengkhayalkan idealitas diatas realitas, berandai-andai yang tak sampai, dan mengeluh atas kenyataan yang ada, bisa sakit hati dilanjut sakit fisik. Yang mesti dilakukan adalah berpikirlah progresif, jangan regresif, bahwa Allah memberikan yang terbaik untuk kita.

Jadi teorinya semakin kita berandai-andai, semakin mengeluh dalam melihat perbedaan, semakin terluka hati ini. Selanjutnya, syukurilah, terima apa yang Allah berikan, kemudian carilah solusi atas masalah, carilah titik persamaan untuk meraih kebahagiaan. Singkirkan sederetan tuntutan yang ‘segambreng’ kepada istri kita. Semakin banyak tuntutan, bila tak terpenuhi akan membuat tingkat kekecewaan semakin tinggi.

Percayalah pada janji Allah, bahwa Istri yang baik adalah untuk suami yang baik pula, bukankah kita termasuk mukmin yang baik? Insya Allah.

Sekarang, seiring berjalannya waktu, akhirnya saya menyadari, ternyata dulu saya, kami, telah melupakan satu hal, yaitu bahwa seorang calon istri, seorang perempuan, seorang akhwat, adalah juga manusia, bukan malaikat, yang tentu saja memiliki sifat manusia seperti pada umumnya.

Wallahu’alam

*sumber: artikelmuslimah.com
____
NB: ini BUKAN tulisan admin @pkspiyungan loh :)

"Nikah, Mudah atau Susah?" | Catatan Akhwat



Dulu, saya mengira setiap orang yang mau menikah di usia muda itu berarti sudah pasti siap lahir batin untuk membangun rumah tangga.

Saya sendiri sudah bersiap-siap menikah sejak SMA, saya baca berbagai buku tentang pernikahan, baik dari tinjauan psikologis, agama, kesehatan, bahkan buku-buku yang bercerita tentang tragedi pernikahan seperti perselingkuhan, poligami, dllsb. Saya baca semuanya memang untuk mempersiapkan mental.

Pikiran saya saat itu sederhana saja... Kalau cepat atau lambat saya pasti menikah, kenapa tidak bersiap-siap? Kalaupun ternyata jodoh saya tidak ada di dunia ini, setidaknya Allah sudah melihat usaha saya. Target saya, usia 19 tahun saya sudah siap menikah.

Saya juga sudah melobi orangtua agar diizinkan nikah muda, padahal saat itu saya belum punya calon. Saya juga sudah bicarakan ke dua orang kakak perempuan saya kalau saya minta izin menikah duluan. Saya sedemikian bersiap-siap karena saya menganggap pernikahan adalah hal yang penting.

Sedangkan untuk mendapatkan pekerjaan bagus saja, teman-teman saya rela belajar tinggi-tinggi sampai S1, S2, mengeluarkan uang yang cukup banyak, rela membeli berbagai judul buku, begadang untuk mengerjakan tugas, maka logika saya adalah... Aneh banget kalau untuk pernikahan, yang dipersiapkan hanya masalah gedung resepsi, calon pengantinnya, dana hajatan, menu catering, kocak! Padahal sebagian besar orang menghabiskan usianya dalam bingkai pernikahan.

Bagi saya, siap-siap nikah itu lebih penting pada visi-misi dan juga mental. Mental untuk mau memberi dan diberi, mental untuk mau mengerti dan dimengerti, mental untuk menerima kelebihan dan juga kekurangan pasangan, mental untuk dapat menerima perbedaan. Dalam pikiran saya, menikah itu bukan finish, melainkan start!

Makanya saya cukup syok mendapati fakta bahwa banyak juga perempuan/akhwat yang menikah muda tapi tanpa persiapan, mereka cuma berpikiran enaknya menikah, kalau jodoh udah datang yaa jangan ditolak, daripada pacaran mending langsung nikah. Yaa... Bener sih, tapi pernikahan kan nggak sesederhana itu!

Bayangkan kalau setelah menikah ternyata langsung hamil, kondisi tubuh dan mood perempuan hamil tuh beda banget loh! Cium bau asap knalpot aja bisa mual, bawaannya jadi males dan gampang emosi.

Belum lagi kalau sudah lahiran, mengurus anak tanpa adanya persiapan mental menjadi seorang ibu, bisa berabe! Ditambah lagi, banyak juga yang meskipun memakai KB, tetap tidak mempan, akhirnya tiap tahun melahirkan. Terbayang bagaimana kondisi psikis seseorang yang menikah tanpa persiapan? Masih banyak kasus-kasus lainnya yang membuat pernikahan tampak susah, sebenarnya bukan pernikahannya yang susah, tapi karena kitanya yang tidak mempersiapkan diri dengan baik.

Ibarat mau menghadapi ujian, tapi nggak pernah belajar materi ujiannya, ketika dirasa soalnya susah-susah yaa jangan salahkan siapa-siapa. Sedangkan orang-orang yang sudah mempersiapkan diri saja belum tentu bisa jawab soal ujian dengan baik... Ya kan?

Saya ingin mengatakan bahwa segala sesuatu sebenarnya relatif mudah asalkan kita persiapkan sebelumnya. Terutama adalah mempersiapkan hati/ mental. Saya sendiri telah merasakan perjalanan 7 tahun pernikahan, alhamdulillah pernikahan membuat saya lebih dewasa dan bahagia. Jadi lebih menghargai perbedaan, lebih mampu memaknai tanggungjawab, lebih dapat menikmati hidup.

Badai besar pernah menerpa rumah tangga kami, sekarang sudah berlalu, tapi bukan tidak mungkin di masa depan akan ada lagi, tapi alhamdulillaah... Yang namanya rumus hidup itu memang sederhana saja, jadi... Apapun persoalannya, rumusnya yaa itu-itu saja, demikian juga dalam pernikahan.

Jika ingin pernikahan terasa mudah, sebelum menghadapinya, persiapkanlah diri terlebih dulu. Baik secara materil, terlebih lagi non materil. Walaupun pernikahan ibarat berenang, tidak mungkin bisa jago hanya dengan membaca teori, melainkan harus langsung praktek. Tapi kalau tanpa persiapan apa-apa, bisa jadi tenggelam cuma karena kaki keram. Konyol kan? Betapa banyak pernikahan karam hanya karena masalah sepele, misalnya karena tidak mengerti perbedaan komunikasi laki-laki dan perempuan.

Kalau ingin merasakan pernikahan yang susah, tidak perlu siap-siap, hindari saja pernikahan sebisa-bisanya. Namun yang namanya fitrah, makin dihindari... Ironisnya justru makin mendekat.

Sekarang, pilihan di tangan kita. Tidak pernah ada kata terlambat atau terlalu cepat untuk sebuah persiapan. Bersiap-siaplah, sisanya... Percayakan pada Allah saja! Ia paling tahu yang terbaik untuk diri kita.

Semoga Allah kan selalu memudahkan dan memberkahi setiap urusan kita, termasuk urusan membina rumah tangga. Aamiin.

(Syamsa Hawa)

_______
*Penulis dengan nama asli Shinta Dewi Indriani ini merupakan Pemimpin Redaksi Annida (2011-sekarang). Lulusan Sastra Cina, UI 2008.
*)http://annida-online.com/artikel-9359-nikah-mudah-atau-susah.html

Bila Istri Cerewet



Adakah istri yang tidak cerewet? Sulit menemukannya. Bahkan istri Khalifah sekaliber Umar bin Khatab pun cerewet.

Seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa. Menuju kediaman khalifah Umar bin Khatab. Ia ingin mengadu pada khalifah; tak tahan dengan kecerewetan istrinya. Begitu sampai di depan rumah khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Umar sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang akan diadukannya pada Umar. Tapi, tak sepatah katapun terdengar keluhan dari mulut khalifah. Umar diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang gundah. Akhirnya lelaki itu mengurungkan niatnya, batal melaporkan istrinya pada Umar.

Apa yang membuat seorang Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan, berdiam diri saat istrinya ngomel? Mengapa ia hanya mendengarkan, padahal di luar sana, ia selalu tegas pada siapapun?

Umar berdiam diri karena ingat 5 hal. Istrinya berperan sebagai BP4. Apakah BP4 tersebut?

1. Benteng Penjaga Api Neraka

Kelemahan laki-laki ada di mata. Jika ia tak bisa menundukkan pandangannya, niscaya panah-panah setan berlesatan dari matanya, membidik tubuh-tubuh elok di sekitarnya. Panah yang tertancap membuat darah mendesir, bergolak, membangkitkan raksasa dalam dirinya. Sang raksasa dapat melakukan apapun demi terpuasnya satu hal; syahwat.

Adalah sang istri yang selalu berada di sisi, menjadi ladang bagi laki-laki untuk menyemai benih, menuai buah di kemudian hari. Adalah istri tempat ia mengalirkan berjuta gelora. Biar lepas dan bukan azab yang kelak diterimanya Ia malah mendapatkan dua kenikmatan: dunia dan akhirat.

Maka, ketika Umar terpikat pada liukan penari yang datang dari kobaran api, ia akan ingat pada istri, pada penyelamat yang melindunginya dari liukan indah namun membakar. Bukankah sang istri dapat menari, bernyanyi dengan liuka yang sama, lebih indah malah. Membawanya ke langit biru. Melambungkan raga hingga langit ketujuh. Lebih dari itu istri yang salihah selalu menjadi penyemangatnya dalam mencari nafkah.

2. Pemelihara Rumah

Pagi hingga sore suami bekerja. Berpeluh. Terkadang sampai mejelang malam. Mengumpulkan harta. Setiap hari selalu begitu. Ia pengumpul dan terkadang tak begitu peduli dengan apa yang dikumpulkannya. Mendapatkan uang, beli ini beli itu. Untunglah ada istri yang selalu menjaga, memelihara. Agar harta diperoleh dengan keringat, air mata, bahkan darah tak menguap sia-sia Ada istri yang siap menjadi pemelihara selama 24 jam, tanpa bayaran.

Jika suami menggaji seseorang untuk menjaga hartanya 24 jam, dengan penuh cinta, kasih sayang, dan rasa memiliki yang tinggi, siapa yang sudi? Berapa pula ia mau dibayar. Niscaya sulit menemukan pemelihara rumah yang lebih telaten daripada istrinya. Umar ingat betul akan hal itu. Maka tak ada salahnya ia mendengarkan omelan istri, karena (mungkin) ia lelah menjaga harta-harta sang suami yang semakin hari semakin membebani.

3. Penjaga Penampilan

Umumnya laki-laki tak bisa menjaga penampilan. Kulit legam tapi berpakaian warna gelap. Tubuh tambun malah suka baju bermotif besar. Atasan dan bawahan sering tak sepadan. Untunglah suami punya penata busana yang setiap pagi menyiapkan pakaianannya, memilihkan apa yang pantas untuknya, menjahitkan sendiri di waktu luang, menisik bila ada yang sobek. Suami yang tampil menawan adalah wujud ketelatenan istri. Tak mengapa mendengarnya berkeluh kesah atas kecakapannya itu

4. Pengasuh Anak-anak

Suami menyemai benih di ladang istri. Benih tumbuh, mekar. Sembilan bulan istri bersusah payah merawat benih hingga lahir tunas yang menggembirakan. Tak berhenti sampai di situ. Istri juga merawat tunas agar tumbuh besar. Kokoh dan kuat. Jika ada yang salah dengan pertumbuhan sang tunas, pastilah istri yang disalahkan. Bila tunas membanggakan lebih dulu suami maju ke depan, mengaku,? akulah yang membuatnya begitu.? Baik buruknya sang tunas beberapa tahun ke depan tak lepas dari sentuhan tangannya. Umar paham benar akan hal itu.

5. Penyedia Hidangan

Pulang kerja, suami memikul lelah di badan. Energi terkuras, beraktivitas di seharian. Ia butuh asupan untuk mengembalikan energi. Di meja makan suami Cuma tahu ada hidangan: ayam panggang kecap, sayur asam, sambal terasi danlalapan. Tak terpikir olehnya harga ayam melambung; tadi bagi istrinya sempat berdebat, menawar, harga melebihi anggaran. Tak perlu suami memotong sayuran, mengulek bumbu, dan memilah-milih cabai dan bawang. Tak pusing ia memikirkan berapa takaran bumbu agar rasa pas di lidah. Yang suami tahu hanya makan. Itupun terkadang dengan jumlah berlebihan; menyisakan sedikit saja untuk istri si juru masak. Tanpa perhitungan istri selalu menjadi koki terbaik untuk suami. Mencatat dalam memori makanan apa yang disuka dan dibenci suami.

Dengan mengingat lima peran ini, Umar kerap diam setiap istrinya ngomel. Mungkin dia capek, mungkin dia jenuh dengan segala beban rumah tangga di pundaknya. Istri telah berusaha membentenginya dari api neraka, memelihara hartanya, menjaga penampilannya, mengasuh anak-anak, menyediakan hidangan untuknya. Untuk segala kemurahan hati sang istri, tak mengapa ia mendengarkan keluh kesah buah lelah.

Umar hanya mengingat kebaikan-kebaikan istri untuk menutupi segala cela dan kekurangannya. Bila istri sudah puas menumpahkan kata-katanya, barulah ia menasehati, dengan cara yang baik, dengan bercanda. Hingga tak terhindar pertumpahan ludah dan caci maki tak terpuji.

Akankah suami-suami masa kini dapat mencontoh perilaku Umar ini. Ia tak hanya berhasil memimpin negara tapi juga menjadi imam idaman bagi keluarganya.

WallahuAlam.

(Oleh : Ahmad Bustam)

*Sumber: dudung.net, artikelmuslimah

Ibu, Kembalilah!




1. Ibu, kembalilah ke rumah. Anakmu terbidik oleh peluru zaman. Fisiknya bugar namun jiwanya terkapar. Kembalilah!

2. Apa yg kau cari dalam hidup duhai ibu? Jika surga adalah tujuan, maka mendidik anak sungguh2 adalah pintu terdekat yg antarkan kau menuju surga idaman.

3. Jika pun ibu harus bekerja maka itu adalah darurat. Segeralah cari jalan untuk bisa kembali ke rumah. Sebab, anakmu makin tumbuh dan tak bisa ditunda.

4. Memang tidak bijak meminta ibu berhenti bekerja. Namun lebih tidak bijak lagi membiarkan anak-anak terlantar tanpa kasih sayang.

5. Tundalah dulu obsesi karirmu. Setidaknya hingga anak telah tumbuh dewasa. Setelahnya, kau bisa puas menuai karya

6. Sejatinya, ibu itu profesi utama. Sisanya, sambilan aja

7. Jika mengurus anak, dengan cara sambilan. Maka akan muncul generasi sambel-sambelan (saudara kandung cabe-cabean).

8. Bagi seorang suami, jangan tuntut istrimu bekerja. Sebab, kau telah renggut hak anak yg lebih butuhkan ibunya dibandingkan TV atau I-Phone S5.

9. Jadilah lelaki pemberani. Berani katakan kepada istri : 'tinggallah kamu dirumah. Biar aku saja yg penuhi kebutuhan kita'

10. Ingatlah...Anak itu titipan dari Allah. Maka jangan kau titipkan lagi kepada orang lain. Emangnya Allah salah nitip? Wal'iyaadzu billaah...

11. Apa yg ibu korbankan di saat anak masih belia, akan menjadi kado indah di saat anak telah dewasa.

12. Sekiranya ibu ingin bekerja, maka itu hanya untuk aktualisasi diri semata. Bagian dari dinamisasi jiwa. Bukan untuk jadi profesi utama

13. Pengasuhan anak ibarat utang piutang. Apa yg tidak diberikan ortu di masa kecil, maka anak akan menagihnya di usia remaja dengan perilaku yg menyebalkan

14. Jika anak sulit mendengar kata bunda, itu mungkin tersebab saat kanak ia diabaikan saat bicara. Ibu harus buru-buru ke tempat kerja

15. Saat remaja anak tak betah di rumah. Sebab ibu juga sering pergi keluar saat ia masih bocah. Jarang ada di rumah

16. Maka, segera cari jalan untuk pulang. Jadilah ibu yg seutuhnya. Selalu hadir di saat anak membutuhkan. Ibu, menjadi pahlawan bagi generasi masa depan

17. Salam bahagia. Mohon maaf jika tak berkenan. Sila disebarkan.

*By: @ajobendri