News Update :

PKS 1

PKS 1

PKS 2

PKS 2

PKS 3

PKS 3

PKS 4

PKS 4

PKS 5

PKS 5

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Berantas Buta Huruf Al-Quran, RQ Violet Hadir di Jakarta



Guna memberantas buta huruf Al-Qur'an dan mendorong generasi muda agar mencintai Al-Qur'an, Rumah Qur'an (RQ) yang diberi nama Violet hadir di tengah masyarakat Jakarta yang masih kental dengan budaya Betawi-nya yakni Kelurahan Paseban, Jakarta Pusat.

"Rumah Qur'an Violet berdiri pada 19 September 2014 lalu, dari sebuah kelurahan yang cukup unik, kental dengan keaslian Betawi-nya. Ya itu dia, Paseban, Jakarta Pusat," ujar Azmi Fajri Usman pengelola Rumah Qur'an Violet kepada pksnongsa, Ahad (21/9) malam.




Azmi menargetkan sampai dengan akhir 2015 yang akan datang Rumah Qur'an Violet akan melahirkan sebanyak 10.000 santri dengan standar bisa baca Qur'an dan hafal juz 30.

"Alhamdulillah baru satu minggu berdiri, jumlah santri udah 50 orang," lanjut Azmi yang juga dikenal sebagai seorang Motivator Asia ini.

Azmi menjelaskan, nama kegiatan ini ia namakan "Gerakan 1.000 Rumah Qur'an untukmu Jakarta" yang bertujuan untuk memberantas buta huruf Al-Qur'an.




"Kita gunakan tagline 'I love Qur'an for Jakarta'. Bulan ini sudah antri 10 Rumah Qur'an berikutnya," ungkap Azmi.

Dia mengatakan, untuk daerah dari luar Kota Jakarta juga sudah ada yang mau daftar untuk mendirikan Rumah Qur'an Violet.

"Dari Subulussalam dan Meulaboh, Aceh ada yang mau daftar," katanya.




Rumah Qur'an Violet bernaung dibawah bendera KTC 124 (kontak tahajud club 124) yang juga didirikan oleh Azmi ini melahirkan beberapa produk diantaranya, Rumah Qur'an Violet, Tahajud Center, Hidup sehat ala akupunktur, Ortusuh (beasiswa orang tua asuh) dan Kawula Muda Cinta Guru.

"2 tahun ini konsentrasi pada program pemberantasan buta huruf Al-Qur'an melalui Rumah Qur'an Violet, 1.000 Rumah Qur'an untukmu Jakarta dengan target 10.000 wisuda massal di tahun 2015," katanya.[dm]

Latih Kader Ahli Teknologi, Unila Adakan GAFE


Masih dalam rangkaian Creology Week 2014, Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi mengadakan Training Google Application for Education (GAFE) untuk kadernya, Jumat (19/9), di Gedung D101 FEB Universitas Lampung (Unila).

Kegiatan yang didukung Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia itu, dimaksudkan untuk memperkenalkan aplikasi Google untuk pendidikan. “Kemarin kami sudah mengadakan lomba esai, lomba foto, bazzar hingga festival musik (lomba akustik) untuk mendukung ekonomi kreatif, sekarang kami gandeng Google Student Group Unila buat bekal teknologi,”  ujar Gita Leviana Putri, Pemimpin Umum Pilar Ekonomi Unila, dalam siaran pers yang diterima pksnongsa, Sabtu (20/9).

Dia juga menambahkan, pada Sabtu-Minggu (20-21/9), diadakan Pelatihan Jurnalitik Mahasiswa Tingkat Dasar yang diikuti Pers Mahasiswa se-Lampung.

Disebutkan, pembicara dalam acara GAFE ini yaitu Rizki Kesuma Putra yang merupakan Google Students Ambassador 2014. Beberapa bulan lalu Rizki Kesuma Putra sempat mewakili Indonesia ke Filiphina untuk berkumpul dengan Ambassador Google lainnya.

Sementara Google Student Ambassador 2014 Rizki Kesuma Gutra mengatakan, dia sangat berharap peserta terinspirasi untuk mengeskplorasi lebih banyak manfaat dari produk-produk GAFE yang memang gratis.

“Sehingga kita bisa memberikan suatu pergerakan lebih dalam untuk mendukung perkembangan dunia pendidikan,” katanya.

Pemimpin Umum Pilar Ekonomi Unila Gita Leviana Putri juga menyampaikan hal senada dengan Rizki, dia berharap setelah training ini, kader-kadernya semakin paham dengan produk aplikasi Google, dan bisa mengimplementasikannya di Pilar Ekonomi, di bangku perkuliahan maupun di tengah masyarakat.[dm]

Psikolog: Jangan Mudah Termakan Isu atau Jadi Korban Berita

Saat ini media semakin personal, tak suka dengan tv bisa ke youtube, tak suka media online cek path, twitter atau fb. Namun, di era media yang makin personal ini jangan mudah termakan isu atau jadi korban berita.

"Di era media yang makin personal, mari jangan mudah termakan isu atau jadi korban berita," tulis seorang Psikolog Irfan Aulia pada akun Twitternya @UdaIrfan, Ahad (1/6).

Berkaitan dengan hal tersebut, Irfan membeberkan tentang makna meta kognisi atau meta thinking.

"Meta kognisi adalah memahami cara berpikir orang, atau berpikir tentang cara berpikir," katanya.

Meta kognisi ini, lanjut Irfan, biasa dipakai untuk banyak hal, salah satunya adalah untuk melakukan persuasif dan propaganda.

"Contoh misalnya kalimat Islam yes, partai Islam no, kira-kira ada pesan apa dibalik ini," ungkapnya.

Atau menjelang hari raya tertentu, ada berita pengeboman dan penjagaan diperketat, apa pesan di balik ini?

"Pesan dibalik pesan, berita dibalik berita, adalah definisi sederhana dari meta thinking atau meta kognisi," katanya.

Contoh yang lain lagi, beber Irfan, jangan politisasi agama, ada pesan apa di balik pesan ini?

"Kemarin saat diskusi soal cara cerdas memilih presiden dengan menilai kompetensi di kampus, ada 1 pertanyaan menggelitik. Bagaimana cara menilai berita yang ada tentang capres? Pertanyaan ini pertanyaan meta kognisi," paparnya.

Menurut Irfan, ketika menilai sebuah berita, hendaknya kuliti dulu 5 W dan 1 H-nya, lihat apakah semua unsur ada, dan apakah saling sambung.

"Baru mulai ditanya, apa pesan dari berita ini? Apa pesan dari sang pembuat berita? Apa pesan dari media yang memuat berita ini?," katanya.

Kemudian, lalu lihat konteks, ini sedang ada momen apa? Musim apa? Di tempat yang sedang melakukan apa?

"Contoh kenapa pakai baju simbol agama tertentu pada waktu tertentu dan kenapa harus diungkap kisah sesuatu dalam momen tertentu?," ujarnya.

Menanyakan hal-hal ini, terang Irfan, berarti anda telah berpikir tentang cara berpikir, berpikir tentang berita dibalik berita.

"Berpikir tentang desain sebuah pesan dan ujung atau tujuan akhir sebuah pesan," pungkasnya.[dm/pksnongsa.org]

Guru di Sumbar Dituntut Lebih Profesional

Para guru di Sumatera Barat dituntut untuk lebih profesional dalam mendidik anak didik. Tuntutan ini pun sesuai dengan kepedulian dan perhatian pemerintah dalam kesejahteraannya. Hal ini disampaikan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno pada Rakor Koordinasi Pimpinan Cabang PGRI Tingkat Profesi Sumatera Barat di Hotel Bumi Minang, Rabu (28/5) lalu.

Salah satu bentuk keseriusan pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan yakni  dengan menyediakan APBD provinsi sebesar 20% untuk pendidikan. Anggara  tersebut pun telah diperuntukan kepada guru profesional atau guru sertifikasi.

"Mutu anak, sekolah dan daerah diawali dari mutu seorang guru yang bisa mendidik dan mengajar dengan baik, karena itu seorang guru harus tetap belajar guna menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas," ujar Irwan Prayitno dalam siaran pers yang diterima pksnongsa.org.

Ia juga mengatakan, walaupun banyak dari tenaga pendidik .yang dinyatakan lulus sertifikasi, namun banyak pula yang melepaskan tanggungjawab.

"Begitu jadi guru sertifikasi yang mana tunjangan dan pendapatannya cukup besar, namun tidak sedikit dari mereka melanggar kedisiplinan, seperti jarang masuk dijam pelajaran," katanya.

Ia juga menambahkan, selain melanggar kedisiplinan, masih ada para guru yang tidak bisa mengikuti bahan ajaran atau kurikulum baru yang ada saat ini.

"Artinya cara pengajarannya itu-itu saja, sehingga tak mampu mengiringi perubahan metode pembelajaran," ujar Irwan Prayitno.

Salah satu contoh bukti bahwa guru jadi perhatian besar oleh pemerintah yakni melonjakan peminat fakultas keguruan.

Acara ini juga dihadiri Sekda Sumbar Ali Asmar, Ketua Pengurus Besar PGRI Sulistyo, Ketua Umum PGRI Sumbar Zainal Aqil dan Ketua STKIP PGRI Sumbar Susmelia, serta pengurus PGRI yang ada di kabupaten kota se Sumbar.[dm/pksnongsa.org]

Pendidikan Moral Relevan Atasi Krisis Moral

Penguatan pendidikan moral (moral education) atau pendidikan karakter dalam konteks sekarang sangat relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda di negara kita. Krisis tersebut antara lain berupa meningkatnya pergaulan bebas, maraknya angka kekerasan anak-anak dan remaja, kejahatan terhadap teman, pencurian remaja, kebiasaan menyontek, penyalah gunaan obat-obatan, pornografi, dan perusakan milik orang lain sudah menjadi masalah sosial yang hingga saat ini belum dapat diatasi secara tuntas

Gubernur pada Rapat Kerja yang membahas tentang pendidikan karakter pada Senin siang (26/5) di Auditorium Gubernuran, mengatakan dengan perhatian dan pengawasan dari orang tua dan sekolah akan mampu mengurangi intensitas kenakalan remaja tersebut.

"Jangan sampai anak-anak kita yang menjadi tanggung jawab kita bersama terjerumus kedalam lubang yang hitam, dimana masa depan mereka nantinya? banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini, contohnya dengan melakukan penyuluhan tentang bahaya nya efek dari kenakalan remaja ke sekolah-sekolah, ekstakurikuler seperti pramuka dan tidak kalah pentingnya pendidikan tentang agama," tegas Irwan Prayitno dalam siaran pers yang diterima pksnongsa.org, Jum'at (30/5).

Pada acara yang juga dihadiri oleh Sekda Sumbar Ali Asmar, Ka.Kanwil Kemenag Sumbar Syahrul Wirda, Kepala Dinas Kesehatan Prov. Sumbar Rosnini Safitri dan Kepala Dinas Pendidikan Prov. Sumbar Syamsurizal dengan undangan Ka.Kanwil Kemenag, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas Pendidikan se-sumbar, Gubernur mengajak untuk saling berkerjasama dalam menanggulangi masalah tersebut.

"Langkah ini bukan hanya kewajiban pemerintah saja, tapi dukungan dari keluarga dan masyarakat juga sangat penting, karena dengan dukungan tersebut akan mampu menciptakan sumbar yang lebih tentram dan damai," pungkasnya.