News Update :

PKS 1

PKS 1

PKS 2

PKS 2

PKS 3

PKS 3

PKS 4

PKS 4

PKS 5

PKS 5

Tampilkan postingan dengan label Tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tsaqofah. Tampilkan semua postingan

Membongkar Dibalik Heboh "Tuhan Membusuk" by @malakmalakmal



"Obrolan Seputar Filsafat Busuk"
Oleh Akmal Sjafril
(@malakmalakmal)

01. Dari kemarin udah berusaha nahan, sambil nunggu kereta bolehlah sy bahas dikit soal #FilsafatBusuk.

02. Bbrp hari yg lalu, suasana dibikin riuh oleh ulah segelintir mahasiswa Fak. Ushuluddin & Filsafat UIN SA, Surabaya.

03. Dalam acara penerimaan mahasiswa baru, muncul sebuah tema besar: “Tuhan Membusuk”. Jelas, banyak yg marah.

04. Ini mengingatkan saya pada peristiwa th 2004, persis 10 th yg lalu. Bagai deja vu.

05. Waktu itu, UIN SGD Bandung jd sumber kehebohan krn mahasiswanya berteriak lantang, “Anjinghu akbaar!”

06. Selain itu, konteks peristiwanya jg terjadi pada acara penyambutan mahasiswa baru. Deja vu lagi!

07. Nampaknya, memang ada upaya utk membuat kehebohan di hadapan para mahasiswa baru yg mungkin dianggap ‘polos’.

08. Bisa bayangkan nggak anak yg baru lulus SMA, ingin belajar agama, tiba2 ketemu makhluk ajaib berteriak “Anjinghu akbaar”?

09. Bisa bayangkan anak baru lulus SMA, ingin perdalam ilmu agama, tau2 disambut dgn spanduk “Tuhan Membusuk”?

10. Kemungkinannya dua: merasa jijik banget, atau nyemplung ikuti arus!

11. Opsi pertama (jijik bgt) cukup realistis, sayangnya utk remaja2 polos, opsi kedua (ikut arus) jg sangat mungkin.

12. Betapa banyak kenakalan remaja yg terjadi hanya krn alasan cari sensasi atau ikut2an. Ini bukan fenomena baru.

13. By the way, yg th 2004 lalu mengatakan “Anjinghu akbaar” adalah mahasiswa aqidah filsafat. #FilsafatBusuk

14. Mau tidak mau, muncullah pertanyaan: apa belajar filsafat memang merusak otak? #FilsafatBusuk

15. Saya tdk berminat membahas terlalu mendalam soal ini, krn mmg mengulasnya dlm sebuah buku. #FilsafatBusuk

16. Saya hanya ingin memperlihatkan kepada teman2 betapa konyolnya argumen yg diajukan utk membenarkan #FilsafatBusuk ini.

17. Sebagian mengatakan, misalnya, bhw “Tuhan Membusuk” itu artinya bukan Tuhan yg membusuk. (Confused? Yeah, me too!) #FilsafatBusuk

18. Ada yg bilang, yg membusuk itu adalah pemahaman soal Tuhan di kepala masing2 manusia. #FilsafatBusuk

19. Muncul anekdot: jika demikian, apakah “Jogja tolol” juga bisa dimaknai “pemahamanmu soal Jogja itulah yg tolol”? #FilsafatBusuk

20. Amat disayangkan, ada yg belajar filsafat tp ternyata tidak paham bahasa negerinya sendiri.

21. Inilah cara licik kaum relativis; semuanya dibilang relatif. Padahal, bahasa itu tergantung kesepakatan. #FilsafatBusuk

22. Karena kita sepakat menyebut tempat duduk kita sbg “kursi”, maka ia disebut “kursi”.

23. Jika muncul org dari antah berantah dan menyebut “kursi” sebagai “kucing”, maka akan terjadi kesalahpahaman yg parah. #FilsafatBusuk

24. Jadi masalahnya hanya salah paham? Nggak juga. Problemnya, mereka ini MENGAKU belajar filsafat. #FilsafatBusuk

25. Filsafat asal katanya dari “philosophia”, dua kata yg digabung jd satu dgn makna “pecinta kebijaksanaan”. #FilsafatBusuk

26. Marilah bertanya: apakah bijak menggunakan bahasa dgn mengabaikan kesepakatan? #FilsafatBusuk

27. Tanyakan lagi: apakah bijak menggunakan bahasa dgn cara yg sangat mungkin membuat org marah? #FilsafatBusuk

28. Tanyakan juga: apakah orang bijak akan melakukan hal2 kontroversial hanya utk cari sensasi? #FilsafatBusuk

29. Berkacalah pada insiden 2004: dimanakah kebijaksanaan dari kalimat "Anjinghu akbar"? #FilsafatBusuk

30. Apakah ada org bijak yg berdzikir dgn mengingat anjing??? #FilsafatBusuk

31. Filsafat bukanlah seni utk mencari pembenaran. Pokok keilmuannya bukanlah kebebasan, melainkan kebijaksanaan.

32. Org bijaksana justru tdk suka bertindak tanpa aturan, tanpa kaidah dan tanpa juntrungan.

33. Jika org belajar filsafat namun cara berpikirnya makin semrawut, bicaranya meracau dan wajahnya berantakan, itulah #FilsafatBusuk.

34. Filsafat memang mengerahkan logika manusia. Anehnya, di negeri ini org yg lemah logika ikut berfilsafat juga. #FilsafatBusuk

35. Sampai lulus kuliah S-1 dulu, saya cukup antipati thd filsafat. #FilsafatBusuk

36. Dalam pandangan sy dulu, org2 filsafat itu arogan, selalu bersikap seolah2 paling pintar, padahal nggak. #FilsafatBusuk

37. Pendapat sy baru berubah setelah ketemu ust. Adnin Armas, ust. Hamid F. Zarkasyi dan ust. Syamsuddin Arif.

38. Yg cara berpikirnya menjadi rusak adalah #mereka yg memang belajar #FilsafatBusuk.

39. Sementara org berfilsafat utk menemukan cara berpikir yg benar, #mereka berfilsafat utk membenarkan semua. #FilsafatBusuk

40. Maka, jgn heran kalau di dunia ini ada 2 jenis mahasiswa filsafat.

41. Pertama, yg berpakaian rapi, wangi, berpikirnya runut, bicaranya teratur, perilakunya sopan dst.

42. Kedua, yaitu yg pakaiannya lusuh, wajah spt jarang mandi, berpikirnya rusak, bicara berantakan, kelakuan ajaib dst. #FilsafatBusuk

43. Lalu mengapa ada #FilsafatBusuk yg justru berlawanan betul dgn ciri ‘pecinta kebijaksanaan’?

44. Ya, sebab praktik ilmu di dunia ini tergantung SDM-nya. #FilsafatBusuk

45. Jika jurusan2 filsafat diisi o/ pemuda2 terbaik negeri, maka akan muncul diskusi2 yg memikat. #FilsafatBusuk

46. Tapi kalau SDM-nya memang rusak, ya hasilnya cuma cari sensasi. #FilsafatBusuk

47. Ah, kalau cuma cari sensasi, apa perlu kuliah S-1? #FilsafatBusuk

48. Dari sinilah kita memahami bahaya yg ditimbulkan o/ para pengusung #FilsafatBusuk. Ini masalah kita bersama.

49. Semoga Allah SWT melindungi keluarga kita dari setiap pemikiran yg bersumber dari #FilsafatBusuk. Aamiin...

Rekening Utsman bin Affan r.a. Masih Ada Sampai Sekarang



(Sebuah Kisah Nyata)

Rekening Atas Nama Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu


Mungkin tak pernah terbayang oleh siapa pun, bila ada satu bank di Saudi Arabia yang sampai saat ini menyimpan rekening atas nama UTSMAN BIN AFFAN.

Apa kisah sebenarnya di balik pembangunan hotel 'Utsman bin Affan Ra' yang saat ini sedang di bangun dekat Masjid Nabawi?

Apakah ada anak cucu keturunan Usman saat ini yang membangunnya atas nama moyang mereka?

Penasaran? Ikuti kisahnya berikut ini. Barangkali kita dapat mengambil pelajaran:

- Setelah hijrah, jumlah kaum Muslimin di Madinah semakin bertambah banyak. Salah satu kebutuhan dasar yang mendesak adalah ketersediaan air jernih.

- Kala itu sumur terbesar dan terbaik adalah Bi'ru Rumah, milik seorang Yahudi pelit dan oportunis. Dia hanya mau berbagi air sumurnya itu secara jual beli.

- Mengetahui hal itu, Utsman bin Affan mendatangi si Yahudi dan membeli 'setengah' air sumur Rumah. Usman lalu mewakafkannya untuk keperluan kaum Muslimin.

- Dengan semakin bertambahnya penduduk  Muslim, kebutuhan akan air jernih pun kian meningkat. Karena itu, Utsman pun akhirnya membeli 'sisa' air sumur Rumah dengan harga keseluruhan 20.000 dirham (kl. Rp.
5 M). Untuk kali ini pun Usman kembali mewakafkannya untuk kaum Muslimin.

- Singkat cerita, pada masa-masa berikutnya, wakaf Utsman bin Affan terus berkembang. Bermula dari sumur terus melebar menjadi kebun nan luas.

- Kebun wakaf Utsman dirawat dengan baik semasa pemerintahan Daulah Utsmaniyah (Turki Usmani).

- Setelah Kerajaan Saudi Arabia berdiri, perawatan berjalan semakin baik. Alhasil, di kebun tersebut tumbuh sekitar 1550 pohon kurma.

- Kerajaan Saudi, melalui Kementrian Pertanian, mengelola hasil kebun wakaf Utsman tersebut. Uang yang didapat dari panen kurma dibagi dua; setengahnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di sebuah bank dengan rekening atas nama Utsman bin Affan.

- Rekening atas nama Utsman tersebut dipegang oleh Kementerian Wakaf.

- Dengan begitu 'kekayaan' Utsman bin Affan yang tersimpan di bank terus bertambah. Sampai pada akhirnya dapat digunakan untuk membeli sebidang tanah di kawasan Markaziyah (area eksklusif) dekat Masjid Nabawi.

- Di atas tanah tersebut, saat ini tengah dibangun sebuah hotel berbintang lima dengan dana masih dari 'rekening' Utgsman.


- Pembangunan hotel tersebut kini sudah masuk tahap akhir. Rencananya, hotel 'Utsman bin Affan' tersebut akan disewakan kepada sebuah perusahaan pengelola hotel ternama.

- Melalui kontrak sewa ini, income tahunan yang diperkirakan akan diraih mencapai lebih 50 juta Riyal (lebih Rp. 150 M).

- Pengelolaan penghasilan tersebut akan tetap sama. Separuhnya dibagikan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin. Sedang separuhnya lagi disimpan di 'rekening' Utsman bin Affan.

- Uniknya, tanah yang digunakan untuk membangun hotel tersebut tercatat pada Dinas Tata Kota Madinah atas nama Utsman bin Affan.

Masya Allah, saudaraku, itulah 'transaksi' Utsman dengan Allah. Sebuah perdagangan di jalan Allah dan untuk Allah telah berlangsung selama lebih 1400 tahun.....berapa 'keuntungan' pahala yang terus mengalir deras kedalam pundi-pundi kebaikan Usman bin Affan di sisi Allah Swt.

(Tarjim: ust.Asep Sobari Lc)

Hukum Meninggalkan Salat Jumat Karena Bertugas Sebagai Satpam




Pertanyaan:

Kami adalah seorang satpam di sebuah universitas, pada hari Jumat kami harus menjaga kendaraan yang banyak sekali, bolehkah salat jumat diganti dengan salat zuhur?

Jawaban:

Boleh, karena di antara halangan yang membolehkan untuk tidak menghadiri salat jamaah dan jumat adalah takut kehilangan harta. Ketika menjelaskan tentang udzur meninggalkan salat jamaah dan jumat, dalam poin ke-4, Syekh ‘Adil bin Yusuf al-‘Azzazi mengatakan, “Takut dari kebinasaan atau kehilangan harta, atau terjadi bahaya pada harta, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam melarang menyia-nyiakan harta.” (Tamamul Minnah, 1:347)

Namun disunahkan jangan sampai meninggalkan salat jumat tiga kali berturut-turut. Hal itu bisa dilakukan dengan bergiliran menjaga atau dengan cara-cara yang lain. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من ترك ثلاث جمع تهاونا طبع الله على قلبه

“Barangsiapa yang meninggalkan tiga salat jumat karena meremehkannya, Allah akan menutup hatinya.” (HR. Abu Dawud)

*)http://www.konsultasisyariah.com/tidak-shalat-jumat-karena-menjadi-satpam/

Rahasia Hidup Produktif dan Matang: Menikah Muda



“Islam berkembang hingga pemeluknya mencapai dua miliar, selain karena jihad, juga karena pernikahan,” ujar Anis Matta saat mengisi ceramah nikah, pekan lalu di Bandung, (15/8).

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menyempatkan diri hadir dan memberi taushiyah pernikahan antara Muthiah Saidatul Jannah dan Mush’ab Abdurahman Robbani, keduanya adalah anggota Garuda Keadilan, organisasi pengkaderan pemuda PKS.

Sebagaimana isi salah satu hadits Nabi Saw, yang menganjurkan menikah muda, Anis mengakui, menikah muda mendorong pelakunya lebih produktif dan lebih cepat matang jiwanya. Usia muda yang penuh dengan rasa ingin tahu, dan ingin banyak mencoba hal-hal baru, akan diimbangi dengan rasa tanggung jawab yang muncul saat menjalankan rumah tangga. Dengan demikian, kata Anis, pelaku menikah muda akan terhindar dari perilaku-perilaku salah yang didorong gejolak muda.

“Jangan takut dengan tanggung jawab yang akan kalian pikul, karena justru tanggung jawab inilah yang akan membuat kalian lebih dewasa,” pesan Anis kepada kedua mempelai.

Kemudian, Anis juga berpesan, agar keduanya mempelajari ilmu fundamental tentang rumah tangga. Ilmu ini, menurut Anis, sangat sederhana, namun butuh keberanian untuk menjalaninya.

“Jalani apa adanya, insya Allah, Allah akan memberi ilmu-Nya,” kata Anis.

Muthiah adalah putri pasangan Haris Yuliana dan Rita Rahmawati. Haris Yuliana merupakan kader PKS yang periode ini terpilih menjadi anggota DPRD Jawa Barat, dari dapil Kabupaten Bandung. Adapun Mush’ab adalah putra pasangan Muhammad Sofyan dan Yuni Darmawati.

Anis yakin, penyatuan keduanya dalam pernikahan akan membawa banyak manfaat dan kebaikan untuk umat.

“Sebelum menikah, mereka berdua sudah ada di lingkungan yang sama, sehingga insya Allah faktor penguatnya akan lebih banyak,” tutur Anis. (sumber: anismatta.net)

*Baca juga: Yuks, Khitbah "Si Dia"

Yuks, Khitbah "Si Dia"




Oleh Abdullah Haidir, Lc

Twip kita ngaji yuk... soal khitbah... meminang atau melamar.... asyik kan..:)

1. Khitbah (meminang) merupakan step pertama yg mestinya dilakukan oleh org yg hendak menikah..

2. Khitbah hakekatnya adalah menyampaikan keinginan atau janji utk menikahi wanita pilihannya kpd walinya.

3. Hukumnya disunahkan dalam agama, krn sebelum pernikahan, hendaknya masing2 pasangan mengenali calonnya dg baik.

4. Bagusnya sebelum melangkah khitbah, seseorang melakukan istikharah dan istisyarah.

5. Istikharah adalah mohon kpd Allah agar pilihannya baik baginya, di dunia atau akhirat. Shalat dua rakaat, baca doanya..

6. Istisyarah adalah berkonsultasi dg org2 bijak di sekitarnya, baik ttg kesiapan dirinya atau calon yg akan dilamar.

6a. Jika pilihan sudah ok, hati sudah mantap, istikharah dan istisyarah dah ditempuh... bersiap2lah khitbah...

7. Dianjurkan untuk melihat wanita yang hendak dilamar, begitupula, sang wanita melihat laki2 yg melamar.

8. Dlm riwayat Muslim, ktk ada org yg hendak menikah, namun belum melihat calonnya, Rasululah saw perintahkan dia utk melihatnya.

9. Melihat juga boleh dilakukan sebelum khitbah, selama niat khitbah sudah ada. Bahkan boleh juga tanpa diketahui calonnya..

10. Atau melihat calon dapat dilakukan saat khitbah. Yg penting tidak boleh ada khalwat. Cuma berduaan saja.

11. Sekedar pengalaman, dahulu murabbi saya mengajak saya ke apotik utk beli obat, sekalian utk melihat calon saya yg kerja di apotik..:)

12. Sebaiknya memang tdk cukup dg poto saja. Bahkan boleh jadi ada mudharatnya. Melihat langsung diutamakan.

13. Perkara lain lagi yg harus dipastikan adalah bahwa calon yg dilamar bukanlah org yang terlarang dinikahi..

14. Misal, masih mahram, masih status isteri orang, masih dlm masa idah. Termasuk tidak boleh khitbah wanita yg sudah dikhitbah..

15. Jika semuanya telah siap, hubungilah walinya untuk mengajukan khitbah. Silakan tetapkan waktu yang tepat dan pas.

16. Khitbah bisa langsung dilakukan oleh calon suami, atau diwakili oleh keluarganya. Atau datang rame2 sekalian..

17. Tidak ada ritual khusus utk khitbah. Bahkan sebagian ulama menganjurkan agar khitbah dirahasiakan.

18. Khususnya jika dikhawatirkan khitbahnya mengundang kedengkian. Tapi jk merasa aman, diumumkn juga tdk apa.

19. Terkait dengan hadiah2 dan pemberian, semuanya sekedar pemberian biasa saja. Tidak mengikat, spt mahar.

20. Tidak harus juga menyerahkan cincin khusus utk khitbah. Atau tukeran cincin. Hal itu tdk ada aturannya dlm khitbah.

21. Tapi kalau memang ingin memberi hadiah cincin kepada wanita yg hendak dikhitbah tidk mengapa, dan tanpa ikatan apa2..

22. Sampaikan kepada wali wanita tersebut bhw dia bermaksud melamarnya. Jika walinya setuju, dan wanitanya setuju, resmilah lamaran tsb.

23. Namun, khitbah prinsipnya adalah sekedar janji untuk menikah. Bukan pernikahan itu sendiri. Maka status hukumnya masih 'org lain'.

24. Maka, setelah khitbah, kedua calon pasangan tsb, tetap tdk boleh 'klayar kluyur' kesana kemari berduaan, layaknya suami isteri..

25. Bahkan berbicara pun secukupnya, sesuai kebutuhan, jangan langsung ngomong mesra2an dan cinta2an.

26. Sebaiknya memang, antara khitbah dan akad pernikahan jgn terlalu lama, agar tdk membuka peluang fitnah..

27. Kalau lamaran dibatalkan gimana? Boleh saja. Baik yg membatalakn laki2 ataupun wanita. Hanya saja sebaiknya ada alasan yg jelas.

28. Makanya, khitbah itu baik ketika diajukan atau ketika diterima, hendaknya berdasarkan pemahaman yg jelas, agar tdk timbul masalah.

29. Jika dibatalkan, apakah pemberiannya harus dikembalikan? Tidak harus, itukan hadiah. Namun kalau dikembalikan lebih baik.

30. Jika sang wanita sudah dilamar, maka tidak boleh ada laki2 yg melamarnya, apabila dia tahu akan hal itu.

31. Selama masa khitbah, calon pasangan tsb boleh membicarakan rencana2 pernikahan. Termasuk syarat2 yg ingin diajukan.

32. Kalau syaratnya diterima dan tidak bertentangan dg aturan agama, maka syarat tsb harus dipenuhi.

33. Berdasarkan hadits, syarat yang paling berhak dipenuhi adalah syarat2 dlm perkawinan.

Sampai di sini tweeps kajian ttg khitbah... moga Allah beri kemudian bagi saudara2 kita yg hendak menikah..

asiknya menikah ^^

Generasi Tarbiyah




“Siapa pun yang menguasai Palestina, dia akan menguasai dunia.” (Shalahuddin Al-Ayyubi)

Shalahuddin Al-Ayyubi  bukanlah superhero tiba-tiba turun dari langit. Shalahuddin Al-Ayyubi tidaklah sendiri. Shalahuddin Al-Ayyubi adalah satu tokoh utama dari sebuah generasi hebat yang lahir dari sejarah panjang.

90 Tahun sebelumnya, Hujjatul Islam Al Ghazali merintis lahirnya generasi hebat ini. Beliau berusia sekitar sekitar 42 tahun ketika Baitul Maqdis ditaklukkan tentara salib. Hujjatul Islam Al- Ghazali mendiagnosa kondisi umat Islam saat itu, mengapa sampai bisa sedemikian terpuruknya sehingga puncaknya dengan mudah bisa ditaklukkan oleh tentara salib.

Beliau menemukan saat itu umat terpecah belah oleh fanatisme mazhab dan golongan, fungsi ulama berubah yang tadinya guru dan penasihat para penguasa malah menjadi alat politik dan bawahan para penguasa, dan kecintaan pada harta menimbulkan perilaku menyimpang baik cara perolehan maupun penggunaannya (korupsi, kolusi, nepotisme).

Ini semua yang kemudian menimbulkan kerusakan ekonomi, sosial dan politik yang kemudian melemahkan dunia Islam secara keseluruhan dalam menghadapi serangan-serangan kaum salib.

Kemudian, Al Ghazali merumuskan sistem pendidikan dan mendirikan madrasah guna memproduksi generasi baru para ulama dan pendidik (murabbi). Tongkat estafet diteruskan oleh generasi kedua yaitu Syeikh Abdul Qadir al Jilani di Madrasah Al-Qadiriyah di pusat kota Bagdad yang mempunyai misi mencetak lulusan yang siap memegang tampuk pimpinan perjuangan Islam dan menyebarkan misi al amr bil ma’ruf wan nahy ‘an al munkar. Maka lahirlah dari sini pemimpin umat Nuruddin Zanki yang kemudian melahirkan ‘anak didik’ bernama Shalahuddin Al-Ayyubi -orang barat menyebutnya Saladin The Wise- yang merebut kembali tanah Palestina ke pangkuan Islam dari salah satu super power dunia waktu itu yaitu kaum salibis.

Dibutuhkan 3 sampai 4 generasi untuk kembali merebut Palestina. Dan semuanya berawal dari pendidikan (tarbiyah) untuk memulai kebangkitan.

Dan sejarah akan berulang…

Disini, di negeri ini, kurang lebih 30-an tahun yang lalu, para peletak dakwah yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari sebelah tangan, menebar benih-benih kebangkitan melalui pendidikan. Sekarang generasi pertama benih-benih ini telah banyak menjadi pemimpin umat di berbagai level. Pendidikan, sekali lagi terbukti mampu mencetak pemimpin umat.

Dan sekarang kulihat, generasi kedua yang telah mendapatkan tarbiyah sejak dini, dan ada pula yg mendapatkan tarbiyah sejak mereka dalam kandungan karena mereka adalah keturunan biologis dan idiologis dari generasi pertama, telah bermunculan. Mereka sekarang masih muda, sekitar 30, namun telah begitu matang dan siap menerima tongkat estafet kebangkitan.

Ada pemuda yang pena dan lidahnya cerdas dan tangkas melawan para liberalis.
Ada pemuda yang kemampuan fiqh dan satranya bagaikan Buya Hamka.
Ada pemuda yang sudah hafidz sejak kecil, dan sekarang mampu mentadaburi ayat-ayat Al Qur’an dan kemudian memberikan makna dan semangat baru kepada kita yang belum pernah ada sebelumnya.

Dan banyak lagi pemuda hasil dari pendidikan ini. Mereka tidak hanya ditempa di meja-meja sekolahan. Mereka juga ditempa di lapangan agar mereka bisa matang karena manis getir perjuangan.

Kedepan, akan kita lihat bersama mereka akan tampil memimpin umat ini dan, Indonesia yang begitu jauh dari tempat Islam bermula, yang telah Allah takdirkan menjadi negara Islam terbesar ini akan menjadi "Big Brother" bagi saudara-saudara kita sedunia, insyaAllah.

Wahai Saudaraku, yakin dan istiqomahlah dengan jalan pendidikan ini. Sejarah telah membuktikan.

Dan kita yakin… sangat yakin bahwa sejarah akan berulang. Dan kata-kata mutiara ini akan kembali menemukan kebenarannya… “Pendidikan Untuk Kebangkitan”.

By: @spinandhito

-----
Untuk 4 anakku:

Kuberikan kepada kalian nama-nama terbaik
Kusekolahkan kalian di madrasah terbaik
Didepan ka’bah kudoakan kalian syahid,
Merebut kembali Palestina

Agenda Da'wah Tak Kenal Henti



Oleh: Abdullah Haidir, Lc

Selesai perang Ahzab, Rasulullah saw pulang ke rumahnya. Ketika hendak meletakkan pedangnya, Malaikat Jibril menegurnya...

"Para malaikat belum meletakkan pedangnya, pergilah ke Bani Quraizah (u/ membuat perhitungan dg Yahudi Quraizah yg khianat dlm perang Ahzab)".

Maka Rasulullah saw perintahkan para shahabatnya utk segera menuju Bani Quraizah..

Bahkan saking segeranya beliau berpesan.. "Jangan shalat Ashar sebelum tiba di Bani Quraizah..."

Para shahabat yg belum hilang letihnya dari perang Ahzab, langsung berangkat.... taat...

Sehingga sempat terjadi 'problem' pemahaman... ketika pasukan belum tiba di Bani Quraizah sebelum waktu Ashar masuk...

Sebagian berpendapat, shalat Ashar dulu, sebab maksd pesannya adalah agar bersegera, sehingga ketika masuk Ashar, sudah sampe di Bani Quraizah...

Kalo belum sampe sudah masuk waktu Ashar, ya shalat dulu.. begitu alasannya..

Sebagian lagi berpendapat, jangan shalat Ashar di tempat tsb... sesuai pesan tekstual agar jangan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizah...

Akhirnya ada sebagian shahabat yang shalat Ashar di tempat tsb, sebagian lagi tidak shalat Ashar....

Namun yang pasti, para shahabat yang berbeda pendapat itu, akhirnya sama-sama berangkat menuju Bani Quraizah dan berikutnya terjadi perang tsb..

Pelajaran yg dpt diambil dari cuplikan sirah ini adalah betapa kehidupan seorang muslim penuh dengan agenda tugas dan perjuangan...

Selesainya sebuah tugas dan agenda, justeru akan melahirkan tugas-tugas berikutnya yg lebih luas dan beraneka...

Sebab tabiat dakwah memang begitu, ketika kau tiba di satu titik, justeru dari titik itu kan kau dapatkan titik-titik yg lebih banyak utk kau jangkau.

Itu sesuai dg tabiat seorang muslim yg seharusnya, yaitu tawwaaqah..تواقة sebagaimana ucapan Umar bin Abdul Aziz...
إن لي نفسا تواقة ، كلما وصلت إلى أمر تاقت إلى ما هو أعلى

"Aku memiliki jiwa 'ambisius' setiap aku tiba pada satu perkara, aku ingin mencapai yang lebih tinggi lagi..."

Beruntunglah jika kita dilibatkan dengan berbagai agenda perjuangan. Meskipun tampak melelahkan, namun jiwa kan tercerahkan..

Bukankah Allah juga telah nyatakan فإذا فرغت فانصب

"Jika engkau selesai atas suatu perkara, maka mulailah (dengan perkara lainnya).."

Pelajaran lain yg dpt diambil dr cuplikan sirat tersebut adalah, perbedaan pendapat itu mungkin sekali, apalagi jika speed dakwah begitu tinggi...

Namun yg terpenting adalah, perbedaan tsb jangan mengganggu perjalanan dakwah, apalagi menghalang-halanginya...

Tidak perlu 'mutung' dalam dakwah hanya karena merasa pendapatnya tidak diterima... karena kalau semuanya diterima pun tidak mungkin...

Begitualh perjuangan ini jika kita pahami tujuan besarnya, maka kejadian-kejadian kecil (riak-riak) hanya menjadi romantika yang memperkaya dan memperindah cerita.

Bukan membesar-besarkan perkara samping, sehingga mengabaikan tujuan utama dan target terbesar kita.

Salam perjuangan u/ semua ikhwah dimana saja...

Dialog Abdullah bin Abbas dengan Khawarij 'Cikal Bakal ISIS'



[Para ulama Sunni menyatakan idiologi ISIS adalah khawarij, sebagaimana dinyatakan Asy-Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah -red]




Dialog Abdullah bin Abbas dengan Khawarij

Di antara sekte atau aliran yang menyimpang yang pertama kali muncul dalam Islam adalah pemikiran Khawarij, sebuah sekte yang berbicara tentang status keislaman seseorang, apakah seseorang tersebut telah keluar dari Islam (kafir), atau masih berada dalam lingkaran keislaman.

Pemikiran ini pertama kali muncul di zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, dan sekarang pemikiran ini kembali menyerebak di tengah-tengah umat Islam yang popular dengan istilah terorisme. Banyak orang-orang yang sibuk membicarakan status keislaman orang lain, terutama status keislaman para pemimpin yang berhukum dengan undang-undang buatan manusia.

Mereka adalah sebagian pemuda yang memiliki semangat keislaman, namun mereka tergesa-gesa menghukumi tanpa melakukan pengkajian yang mendalam. Pemikiran ekstrim ini direspon dengan berbagai tindakan, dan salah satu tindakan yang dilakukan untuk memerangi pemikiran teroris ini adalah dengan cara berdialog. Cara ini termasuk cara yang paling efektif untuk memeranginya, karena sebuah pemikiran idealnya dihadapi juga dengan pemikiran.

Berikut ini, kami cuplikkan sebuah kisah tentang ketergesa-gesaan orang-orang Khawarij dalam memvonis hukum kafir dan kedangakalan mereka dalam memahami ayat-ayat Alquran, mudah-mudahan para pemuda yang memiliki semangat dalam berislam bisa mengambil pelajaran dari kisah ini dan terhindar dari pemikiran terorisme yang bermudah-mudahan dalam memvonis kafir seseorang.

Ali bin Abi Thalib mengirim Abdullah bin Abbas kepada orang-orang Khawarij untuk berdialog bersama mereka. Kisah dialog Ibnu Abbas ini dicatat oleh Imam Ibnu al-Jauzi dalam kitabnya Talbis Iblis sebagai berikut:

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Orang-orang Khawarij memisahkan diri dari Ali radhiallahu ‘anhu, berkumpul di satu daerah untuk memberontak kepada khalifah. Ketika itu, jumlah mereka enam ribu orang.

Semenjak Khawarij berkumpul, setiap orang yang mengunjungi Ali radhiallahu ‘anhu berkata –mengingatkannya–, “Wahai Amirul Mukminin, orang-orang Khawarij telah berkumpul untuk memerangimu.”

Ali menjawab, “Biarkan saja, aku tidak akan memerangi mereka hingga mereka memerangiku, dan pasti mereka akan melakukannya.”

Hingga di suatu hari yang terik, saat masuk waktu zuhur aku menjumpai Ali radhiallahu ‘anhu. Aku (Ibnu Abbas) berkata, “Wahai Amirul Mukminin, tunggulah cuaca dingin untuk shalat zuhur, sepertinya aku akan mendatangi mereka (Khawarij) berdialog.”

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Wahai Ibnu Abbas, sungguh aku mengkhawatirkanmu!”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, janganlah kau khawatirkan diriku. Aku bukanlah orang yang berakhlak buruk dan aku tidak pernah menyakiti seorang pun.” Maka Ali pun mengizinkanku.

“Jubah terbaik dari Yaman segera kupakai, kurapikan rambutku, dan kulangkahkan kaki ini hingga masuk di barisan mereka di tengah siang.”

Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma berkata, “Aku benar-benar berada di tengah suatu kaum yang belum pernah kujumpai orang yang sangat bersemangat beribadah seperti mereka. Dahi-dahi mereka penuh luka bekas sujud, tangan-tangan menebal bak lutut-lutut unta (kapalan). Wajah-wajah mereka pucat pasi karena tidak tidur, menghabiskan malam untuk beribadah.”

Kuucapkan salam pada mereka. Serempak mereka menyambutku, “Selamat datang, wahai Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Apa gerangan yang membawamu kemari?”

Aku berkata, “Aku datang pada kalian sebagai perwakilan dari sahabat Muhajirin dan sahabat Anshar, dan juga dari sisi menantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam (yakni Ali bin Abi Thalib), kepada para sahabat-lah Alquran diturunkan dan merekalah orang-orang yang paling mengerti makna Alquran daripada kalian.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengingatkan tentang kedudukan sahabat Muhajirin dan Anshar dan bagaimana seharusnya prinsip seorang muslim dalam memahami Alquran dan sunnah yaitu mengembalikan kepada pemahaman sahabat yang kepada merekalah Alquran diturunkan, dan merekalah orang yang paling mengerti Alquran dan sunnah. Ibnu Abbas juga menegaskan besarnya kedudukan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu di sisi Allah, yaitu menantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu mendengar ucapan Ibnu Abbas yang penuh makna dan merupakan prinsip hidup –yang tentunya tidak mereka sukai karena menyelisihi prinsip sesat mereka–,sebagian Khawarij memberi peringatan, “Jangan sekali-kali kalian berdebat dengan seorang Quraisy (yakni Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, pen.). Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ

“Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar.” (Az-Zukhruf: 58)

Ibnul Jauzi  kembali melanjutkan kisah ini: Dua atau tiga orang dari mereka berkata, “Biarlah kami yang akan mendebatnya!”.

Ibnu Abbas berkata, “Wahai kaum, beri aku alasan, mengapa kalian membenci menantu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta sahabat Muhajirin dan Anshar, padahal Alquran diturunkan kepada mereka, dan tidak ada seorang sahabat pun yang bersama kalian. Ali adalah orang yang paling mengerti tentang penafsiran Alquran.”

Mereka berkata, “Kami punya tiga alasan.”

Ibnu Abbas mengatakan, “Sebutkan (tiga alasan kalian).”

“Pertama, sungguh Ali telah menjadikan manusia sebagai hakim (pemutus perkara) dalam urusan Allah, padahal Allah  berfirman,

“…Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah  …” (Yusuf: 40)

Hukum manusia tidak ada artinya di hadapan firman Allah Ta’ala. Kata mereka.

Ibnu Abbas menanggapi, “Ini alasan kalian yang pertama. Lalu apa lagi?”

Mereka melanjutkan, “Kedua, sesungguhnya Ali telah berperang dan membunuh, tapi mengapa tidak mau menawan dan mengambil ghanimah? Kalau mereka (orang-orang yang berperang melawan Ali) itu mukmin tentu tidak halal bagi kita memerangi dan membunuh mereka. Tidak halal pula tawanan-tawanannya.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bertanya lagi, “Lalu apa alasan kalian yang ketiga?”

Kata mereka, “Ketiga, dia telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya. Kalau dia bukan amirul mukminin (karena menghapus sebutan itu) berarti dia adalah amirul kafirin (pemimpin orang-orang kafir).”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Ada alasan selain ini?” Mereka berkata, “Cukup sudah bagi kami tiga perkara ini!”

Bantahan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma atas dangkalnya pemahaman Khawarij

Lihatlah, bagaimana Khawarij mudah memvonis kafir, dan memberontak sekalipun kepada khalifah ar-Rasyid yang penuh keutamaan dan kemuliaan. Alasan-alasan mereka adalah kerancuan yang sangat lemah dan menunjukkan kedangkalan mereka dalam memahami Alquran dan sunnah.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mulai menanggapi, “Ucapan kalian bahwa Ali radhiallahu ‘anhu telah menjadikan manusia untuk memutuskan perkara (untuk mendamaikan persengketaan antara kaum muslimin -pen), sebagai jawabannya akan kubacakan ayat yang membatalkan kerancuan kalian. Jika ucapan kalian terbantah, maukah kalian kembali (kepada jalan yang benar)?”

Mereka menjawab, “Ya, tentu kami akan kembali.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Ketahuilah, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyerahkan sebagian hukum-Nya kepada keputusan manusia, seperti dalam menentukan harga kelinci (sebagai tebusan atas kelinci yang dibunuh saat ihram) Allah Subhanahu wa Ta’alal berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan (hukum) dua orang yang adil di antara kamu, sebagai hadyu yang dibawa sampai ke Ka’bah, atau (dendanya) membayar kafarat dengan memberi makan orang-orang miskin, atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (QS. Al-Maidah: 95)

Demikian pula dalam perkara perempuan dan suaminya yang bersengketa, Allah Subhanahu wa Ta’ala  juga menyerahkan hukumnya kepada hukum (keputusan) manusia untuk mendamaikan antara keduanya. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوا حَكَمًا مِنْ أَهْلِهِ وَحَكَمًا مِنْ أَهْلِهَا إِنْ يُرِيدَا إِصْلَاحًا يُوَفِّقِ اللَّهُ بَيْنَهُمَا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا

“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (QS. An-Nisa: 35)

Demi Allah, jawablah, apakah diutusnya seorang manusia untuk mendamaikan hubungan mereka dan mencegah pertumpahan darah di antara mereka lebih pantas untuk dilakukan, atau hukum manusia perihal darah seekor kelinci dan urusan pernikahan wanita? Menurut kalian manakah yang lebih pantas?”

Mereka katakana, “Inilah (yakni mengutus manusia untuk mendamaikan manusia dari pertumpahan darah) yang lebih pantas.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Apakah kalian telah memahami masalah pertama?” Mereka berkata, “Ya.”

Ibnu Abbas melanjutkan, “Adapun ucapan kalian bahwa Ali radhiallahu ‘anhu telah berperang tapi tidak mau mengambil ghanimah dari yang diperangi dan tidak menjadikan mereka sebagai tawanan, sungguh (dalam alasan kedua ini) kalian telah mencerca ibu kalian (yakni Aisyah).

Demi Allah! Kalau kalian katakan bahwa Aisyah bukan ibu kita, kalian telah keluar dari Islam (karena mengingkari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala). Demikian pula kalau kalian menjadikan Aisyah sebagai tawanan perang dan menganggapnya halal sebagaimana tawanan lainnya (sebagaimana layaknya orang-orang kafir), maka kalian pun keluar dari Islam. Sesungguhnya kalian berada di antara dua kesesatan, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ ۖ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ ۗ

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzab: 6)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Apakah kalian telah memahami masalah ini?”

Mereka menjawab, “Ya.”

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata lagi, “Adapun ucapan kalian bahwasanya Ali telah menghapus sebutan Amirul Mukminin dari dirinya, maka (sebagai jawabannya) aku akan kisahkan kepada kalian tentang seorang yang kalian ridhai, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketahuilah, bahwasanya beliau di hari Hudaibiyah (6 H) melakukan shulh (perjanjian damai) dengan orang-orang musyrikin, Abu Sufyan dan Suhail bin Amr. Tahukah kalian apa yang terjadi?

Ketika itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali, “Wahai Ali, tulislah perjanjian untuk mereka.” Ali menulis, “Inilah perjanjian antara Muhammad Rasulullah…”

Orang-orang musyrik berkata, “Demi Allah! Kami tidak tahu kalau engkau rasul Allah. Kalau kami mengakui engkau sebagai utusan Allah  tentu kami tidak akan memerangimu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah , sungguh engkau mengetahui bahwa aku adalah Rasulullah. Wahai Ali, tulislah ‘Ini adalah perjanjian antara Muhammad bin Abdilah…’.” (Rasulullah memerintahkan Ali untukmenghapus sebutan Rasulullah dalam perjanjian, pen.)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Demi Allah, sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mulia dari Ali, meskipun demikian beliau menghapuskan sebutan rasulullah dalam perjanjian Hudaibiyah…” (Apakah dengan perintah Rasul menghapuskan kata rasulullah dalam perjanjian kemudian kalian mengingkari kerasulan beliau? Sebagaimana kalian ingkari keislaman Ali karena menghapus sebutan Amirul Mukminin?)

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Maka kembalilah dua ribu orang dari mereka, sementara lainnya tetap memberontak (dan berada di atas kesesatan), hingga mereka diperangi dalam sebuah peperangan besar (yakni perang Nahrawan).”

Demikian tiga kerancuan pola pikir Khawarij yang mereka jadikan sebagai alasan memberontak dan memerangi Ali radhiallahu ‘anhu. Semua kerancuan tersebut terbantah dalam dialog mereka dengan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Maka selamatlah mereka yang mau mendengar sahabat dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memahami Alquran dan sunnah.

Kemudian dalam al-Bidayah wa an-Nihayah, Imam Ibnu Katsir melanjutkan kisah ini.

Abdullah bin Abbas membawa mereka ke hadapan Ali bin Abi Thalib di Kufah.

Setelah itu, Ali mengirim utusan kepada orang-orang Khawarij yang tersisa, ia berkata, “Sesungguhnya kalian telah menyaksikan apa yang telah dialami olehku dan orang-orang secara umum. Berbuatlah semau kalian hingga umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersatu. Di antara kita ada sebuah perjanjian, tidak boleh menumpahkan darah yang haram dibunuh, tidak boleh menyabotase jalan dan tidak boleh menzalimi ahli zhimmah. Jika kalian melanggarnya, maka kami akan membalasnya dengan pembalasan yang setimpal. Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal: 58)

Tidak lama setelah itu, mereka menyabotase jalan, membunuh orang-orang yang tak bersalah, menghalalkan darah ahli zhimmah hingga mereka dikalahkan dalam Perang Nahrawan. Setelah itu mereka membalas dendam dan yang mengakibatkan tewasnya Khalifah ar-Rasyid Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

(Muhammad Faisal)